Infeksi yang disebabkan oleh bakteri terus menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat, terutama di negara berkembang. Penggunaan antibiotik sintetis yang berlebihan dan tidak tepat telah berkontribusi besar terhadap munculnya bakteri resisten antibiotik, yang saat ini bertanggung jawab atas sekitar 1,27 juta kematian setiap tahunnya. Kondisi ini menegaskan adanya kebutuhan mendesak akan terapi alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan, termasuk pemanfaatan antibiotik berbasis herbal. Salah satu opsi yang berpotensi adalah daun Cinnamomum burmannii, yang kaya akan berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan fenol. Senyawa-senyawa ini memiliki berbagai mekanisme antibiotik, seperti merusak membran sel bakteri, menghambat sintesis asam nukleat dan protein, menonaktifkan enzim, serta mengganggu metabolisme energi. Sejumlah penelitian in vitro menunjukkan bahwa ekstrak daun Cinnamomum burmannii memiliki aktivitas antibiotik sedang hingga kuat terhadap patogen seperti Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Salmonella Typhi. Selain efektivitasnya, penggunaan ekstrak daun Cinnamomum burmannii dianggap lebih aman, ekonomis, dan memiliki risiko lebih rendah dalam memicu resistensi. Namun, penerapan ekstrak ini di lingkungan klinis masih terbatas karena minimnya penelitian in vivo dan studi klinis yang membahas keamanan, toksisitas, farmakokinetik, dan farmakodinamiknya. Penelitian lebih lanjut sangat diperlukan untuk menggali secara menyeluruh potensi terapeutik ekstrak daun Cinnamomum burmannii sebagai agen antibiotik alternatif berbasis bukti.