Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Model Kolaborasi Pengawas dan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Budaya Mutu Akademik Dahliana Pohan; Rini Afridamayanti Supomo; Nurchaidah, Nurchaidah
Jurnal Kepengawasan, Supervisi dan Manajerial (JKSM) Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus
Publisher : Perkumpulan Cendekia Muda Kreatif Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61116/jksm.v3i3.756

Abstract

Budaya mutu akademik yang kuat di Sekolah Menengah Atas (SMA) sangat bergantung pada efektivitas kepemimpinan sekolah dan sistem kepengawasan yang suportif. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menganalisis model kolaborasi antara pengawas dan kepala sekolah melalui pendekatan Professional Learning Community (PLC) sebagai strategi untuk meningkatkan budaya mutu akademik di SMAN 1 Buntu Pane Asahan. Pendekatan PLC yang diusulkan berfokus pada lima dimensi: shared mission and vision, collective inquiry, collaborative teams, action orientation, dan results orientation. Penelitian ini menggunakan desain penelitian dan pengembangan (Research and Development - R&D) dengan subjek kepala sekolah, pengawas, dan 20 guru inti. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan skala penilaian (pre-test dan post-test) terhadap budaya mutu akademik (fokus pada kualitas perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran) selama satu semester. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Model Kolaborasi Pengawas-KS berbasis PLC menghasilkan peningkatan signifikan pada skor budaya mutu akademik (dengan rata-rata peningkatan 28% dari skor pre-test). Peningkatan paling menonjol tercatat pada dimensi collective inquiry dan collaborative teams, di mana pengawas dan kepala sekolah aktif memfasilitasi guru untuk mengidentifikasi masalah belajar siswa berbasis data dan mencari solusi bersama. Model PLC ini dinilai efektif oleh partisipan karena menciptakan ruang coaching yang terstruktur dan berkelanjutan, yang bertentangan dengan supervisi tradisional yang episodic. Penelitian ini merekomendasikan adopsi Model Kolaborasi Pengawas-KS berbasis PLC sebagai kerangka kerja resmi untuk pengembangan profesional guru berbasis sekolah di jenjang SMA.
Budaya Belajar Mandiri Siswa Sekolah Menengah Atas dalam Pembelajaran Matematika Nurchaidah, Nurchaidah
Jurnal Ilmiah IPA dan Matematika (JIIM) Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus
Publisher : Perkumpulan Cendekia Muda Kreatif Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61116/jiim.v3i3.801

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kualitatif budaya belajar mandiri (self-regulated learning) siswa dalam Mata Pelajaran Matematika di SMA Negeri 1 Buntu Pane, dengan fokus pada peran motivasi intrinsik dan dukungan lingkungan (sekolah dan rumah). Kemandirian belajar adalah prasyarat keberhasilan dalam Matematika yang kompleks. Penelitian ini menggunakan desain Studi Kasus Kualitatif Intrinsik dengan melibatkan 6 siswa kelas XI IPA yang mewakili kategori High Self-Regulation (HSR) dan Low Self-Regulation (LSR), 2 Guru Matematika, dan 4 Orang Tua siswa kunci. Data dikumpulkan melalui Wawancara Mendalam, Observasi Partisipan (Studi Lapangan), dan Analisis Jurnal Belajar Mandiri siswa. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga faktor utama: (1) Goal-Oriented Motivation: Siswa HSR memiliki tujuan belajar yang spesifik dan non-nilai (misalnya, mastery konsep), sementara siswa LSR memiliki motivasi ekstrinsik (nilai); (2) Teacher-as-Facilitator Gap: Guru masih dominan sebagai instruktur daripada fasilitator kemandirian belajar; dan (3) Non-Intervention Home Support: Dukungan orang tua umumnya bersifat finansial (non-academic) dan minim dalam pendampingan atau penciptaan ruang belajar yang terstruktur. Studi menyimpulkan bahwa Budaya Belajar Mandiri dalam Matematika di sekolah ini masih fragmen dan memerlukan intervensi kolektif yang berfokus pada pelatihan metacognitive strategy bagi siswa dan edukasi orang tua tentang dukungan akademik non-instruktif.