Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam strategi, proses, dan dinamika yang dijalankan oleh Bagian Protokol Biro Administrasi Pimpinan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur dalam membangun citra Gubernur Jawa Timur. Di era digital yang terfragmentasi, citra seorang pemimpin tidak lagi hanya dibentuk oleh kinerja substantif, tetapi juga oleh persepsi publik yang dinamis dan seringkali dipengaruhi oleh narasi media yang kompetitif. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif deskriptif, menggunakan kerangka analisis Proses Empat Langkah dari Scott M. Cutlip (Riset, Perencanaan, Aksi & Komunikasi, Evaluasi) sebagai pisau bedah utama. Pengumpulan data dilakukan secara triangulatif melalui wawancara mendalam dengan para aktor kunci, observasi non-partisipan pada berbagai kegiatan gubernur, dan analisis dokumen internal maupun eksternal. Hasil penelitian menunjukkan sebuah paradoks: strategi Bagian Protokol sangat berhasil membangun citra positif yang kuat dan otentik di tingkat akar rumput (tingkat kepuasan publik 76%) melalui eksekusi kegiatan yang sangat profesional dan manajemen interaksi yang humanis. Namun, keberhasilan ini kontradiktif dengan sentimen di arena media politik yang cenderung negatif (33%), yang mengindikasikan adanya "kesenjangan narasi" (narrative gap) yang signifikan. Faktor pendukung utama keberhasilan di lapangan adalah eksekusi berbasis SOP yang disiplin dan pendekatan adaptif dalam manajemen interaksi. Sebaliknya, faktor penghambat fundamental adalah fragmentasi struktural dalam fungsi komunikasi pemerintah dan keterbatasan mandat protokol yang secara historis berfokus pada seremoni, bukan komunikasi strategis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun unggul dalam experience management (manajemen pengalaman), Bagian Protokol menghadapi tantangan serius dalam perception management (manajemen persepsi) di arena media yang kompetitif. Direkomendasikan pembentukan unit komando komunikasi terintegrasi dan evolusi peran protokol menjadi arsitek narasi yang proaktif untuk menjembatani kesenjangan tersebut.