Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Risiko Infertilitas Akibat Konsumsi Ikan yang Mengandung Logam Berat pada Suku Port Numbay di Kampung Enggros, Tobati, dan Nafri di Teluk Youtefa, Kota Jayapura Anna Bethseba Lizabella Mien Manyakori; Bouway, Dolfinus Yufu; Martapina Anggai; Hasmi; Sarce Makaba; Novita Medyati; Yacob Ruru
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4481

Abstract

Konsumsi Ikan yang Terkontaminasi Logam Berat Merupakan Faktor Risiko Potensial terhadap Infertilitas, terutama di wilayah pesisir dengan aktivitas perikanan yang tinggi seperti pada Suku Port Numbay di Teluk Youtefa, Kota Jayapura. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko infertilitas akibat konsumsi ikan yang mengandung logam berat pada masyarakat di Kampung Enggros, Tobati, dan Nafri. Desain penelitian menggunakan pendekatan kasus-kontrol dengan 42 responden (15 infertil dan 27 fertil). Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, kemudian dianalisis secara bivariat dengan uji Chi-Square dan Fisher’s Exact Test. Risiko diukur menggunakan Odds Ratio (OR) dan 95% Confidence Interval (CI). Ditemukan bahwa perilaku konsumsi ikan yang terpapar logam berat berhubungan signifikan dengan infertilitas (p = 0.038; OR = 0.188; 95% CI: 0.038–0.914). Faktor lain seperti usia, pendidikan, pendapatan, akses layanan kesehatan, dan kualitas hidup menunjukkan kecenderungan hubungan, namun tidak signifikan secara statistik. Analisis multivariat dengan regresi logistik menunjukkan bahwa perilaku konsumsi ikan yang terkontaminasi logam berat dan usia merupakan faktor dominan yang memengaruhi infertilitas, dengan Odds Ratio (OR) masing-masing sebesar 7,10 dan 5,13. Terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku konsumsi ikan yang terkontaminasi logam berat dan kejadian infertilitas pada masyarakat Suku Port Numbay. Diperlukan pemantauan konsumsi ikan, edukasi kesehatan reproduksi, serta penelitian lanjutan menggunakan biomarker logam berat untuk memperdalam pemahaman terhadap risiko ini.
Analisis Perencanaan, Penganggaran Dan Implementasi Kebijakan Percepatan Pembangunan Kesehatan Di Papua Paskalis Howay; Rantettoding, Septevanus; Martaphina Anggai; Hasmi; Novita Medyati; Sarce Makaba
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6820

Abstract

Pendahuluan: Percepatan pembangunan kesehatan di Provinsi Papua merupakan isu strategis dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan mengurangi kesenjangan antarwilayah. Namun, implementasi kebijakan percepatan pembangunan kesehatan masih menghadapi berbagai tantangan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perencanaan, penganggaran, implementasi kebijakan, serta tantangan implementasi terhadap percepatan pembangunan kesehatan di Provinsi Papua. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sequential explanatory. Data kuantitatif diperoleh melalui survei terhadap 84 responden yang terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kesehatan, dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square serta Rasio Prevalensi (RP). Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan kunci dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, tokoh adat, dan masyarakat, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil: Hasil penelitian kuantitatif menunjukkan bahwa perencanaan (p=0,001; RP=9,947), penganggaran (p=0,000; RP=23,600), implementasi kebijakan (p=0,004; RP=24,231), dan tantangan implementasi kebijakan (p=0,000; RP=6,667) berpengaruh signifikan terhadap percepatan pembangunan kesehatan di Provinsi Papua. Temuan kualitatif mengungkap bahwa perencanaan pembangunan kesehatan cenderung bersifat administratif dan kurang kontekstual, penganggaran menghadapi kendala tata kelola dan konsistensi regulasi, implementasi kebijakan terkendala kondisi geografis dan keterbatasan sumber daya, serta minimnya pendekatan sosial budaya dalam pelaksanaan kebijakan. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa percepatan pembangunan kesehatan di Papua memerlukan perencanaan yang kontekstual, penganggaran yang akuntabel, implementasi kebijakan yang adaptif, serta pengelolaan tantangan secara terpadu dan partisipatif. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar perumusan kebijakan pembangunan kesehatan yang lebih efektif dan berkelanjutan di Provinsi Papua.