Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Aliran Filsafat Pendidikan yang Diterapkan oleh Tutor di Rumah Literasi Ranggi Annisa Fitri Nasution; Naila Nafisa Zulfa; Riwati Amelia; Ronal Malau; Elizon Nainggolan; Michael Yudha Pratama
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 2 (2025): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to identify and describe the educational philosophy streams applied by tutors at Rumah Literasi Ranggi during learning activities. This research employed a descriptive qualitative approach using observation, interviews, and documentation as data collection techniques. The findings indicate that tutors apply four educational philosophy streams: progressivism, constructivism, humanism, and reconstructionism. Progressivism appears in experiential learning activities such as group reading, drawing story content, and role-playing. Constructivism is reflected in the use of discussions and open-ended questions that encourage students to construct their own understanding. Humanism is seen through the tutors’ attention to learners’ comfort, motivation, and emotional needs. Reconstructionism is represented by the tutors’ effort to instill moral and social values through reading materials. The integration of these approaches demonstrates that non-formal education requires flexibility and eclectic strategies suited to learners’ needs. Keywords: educational philosophy, literacy, humanism, constructivism, progressivism   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan aliran filsafat pendidikan yang diterapkan oleh tutor di Rumah Literasi Ranggi dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai sumber pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tutor menerapkan empat aliran filsafat pendidikan yaitu progresivisme, konstruktivisme, humanisme, dan rekonstruksionisme. Progresivisme tampak dalam kegiatan belajar berbasis pengalaman seperti membaca bergiliran, menggambar isi cerita, dan bermain peran. Konstruktivisme terlihat dari diskusi dan pertanyaan terbuka yang mendorong peserta didik membangun pemahaman mereka sendiri. Humanisme tercermin dari perhatian tutor terhadap kenyamanan, motivasi, dan kebutuhan emosional anak. Rekonstruksionisme diwujudkan melalui penanaman nilai moral dan sosial yang dihubungkan dengan isi bacaan. Penerapan keempat aliran ini secara bersamaan menunjukkan bahwa pendidikan nonformal membutuhkan fleksibilitas dan pendekatan eklektik sesuai kebutuhan peserta didik. Kata kunci: filsafat pendidikan, literasi, humanisme, konstruktivisme, progresivisme
PENGARUH PERGAULAN BEBAS DAN TEKANAN TEMAN SEBAYA TERHADAP PERILAKU REMAJA DI DESA HELVETIA KECAMATAN LABUHAN DELI Anggun Syahfitri; Minna Bella; Naila Nafisah Zulfa; Riwati Amelia; Sani Susanti
Journal of Golden Generation Education Vol. 1 No. 2 (2025): Oktober 2025: Journal of Golden Generation Education
Publisher : PT. LEMBAGA PENERBIT PENELITIAN NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jgge.v2i1.127

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pengaruh pergaulan bebas dan tekanan teman sebaya terhadap perilaku remaja di Desa Helvetia, Kecamatan Labuhan Deli. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dengan teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pergaulan remaja cenderung bebas dan tidak terkontrol, ditandai dengan kebiasaan nongkrong malam, mencoba rokok atau minuman beralkohol, serta mengikuti tren media sosial tanpa pengawasan. Tekanan teman sebaya memperkuat kecenderungan tersebut melalui ajakan, bujukan, dan rasa takut dikucilkan. Proyek penyuluhan yang dilaksanakan sebagai tindak lanjut penelitian membantu meningkatkan pemahaman remaja mengenai bahaya pergaulan bebas dan strategi menghadapi tekanan sebaya. Penelitian ini menegaskan pentingnya peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membentuk perilaku remaja yang positif dan mencegah penyimpangan sosial.