Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Efek mikoriza arbuskula (MA) dan zat perangsang tumbuh (ZPT) akar terhadap pertumbuhan vegetatif bibit tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) asal stek batang Irfan Maulana; Ina Darliana
Composite : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 7 No 2 (2025): Agustus
Publisher : University of Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37577/composite.v7i2.888

Abstract

Pengaruh Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Akar Terhadap Pertumbuhan Vegetatif Bibit Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Asal Stek Batang. Percobaan yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dengan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) akar terhadap pertumbuhan jarak pagar asal stek batang. Metoda percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas sembilan perlakuan dan tiga ulangan, sehingga terdapat 27 plot percobaan. Setiap perlakuan terdiri dari 5 tanaman, sehingga jumlah seluruhnya 135 tanaman. Hasil percobaan menunjukkan terjadinya pengaruh interaksi antara pemberian dosis FMA dan ZPT terhadap pertumbuhan jarak pagar. Pemberian dosis FMA 10 g/tanaman dan konsentrasi ZPT 50 mg/ml pada tanaman jarak memberikan hasil pertumbuhan yang baik.
Respons pertumbuhan, hasil biomassa, dan kandungan asiaticoside pegagan castina terhadap intensitas cahaya dan jarak tanam irfan maulana; Ahmad Ramdan; Ruslandi
COMPOSITE : Jurnal Ilmu Pertanian Vol. 8 No. 2 (2026): Juli
Publisher : University of Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pegagan (Centella asiatica L.) merupakan tanaman obat bernilai penting karena mengandung asiaticoside sebagai metabolit sekeunder. Teknik budidaya yang mengatur cahaya dan populasi tanaman berpotensi memengaruhi pertumbuhan serta akumulasi metabolit sekunder. Penelitian ini mengkaji respons pegagan terhadap naungan paranet 50% dan tiga jarak tanam di Ciburial, Cimenyan, Bandung, pada ketinggian 1.300 m dpl. Percobaan menggunakan rancangan petak terbagi dengan empat ulangan. Perlakuan naungan, yaitu tanpa naungan dan naungan 50%, ditempatkan sebagai petak utama, sedangkan jarak tanam 20 cm x 20 cm, 30 cm x 30 cm, dan 40 cm x 40 cm sebagai anak petak. Peubah yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah daun, bobot segar, bobot kering, dan kandungan asiaticoside dengan metode HPLC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naungan dan jarak tanam tidak berinteraksi pada sebagian besar peubah pertumbuhan dan hasil, tetapi berinteraksi pada kandungan asiaticoside. Kandungan asiaticoside tertinggi diperoleh pada kombinasi naungan 50% dan jarak tanam 30 cm x 30 cm, yaitu 2,60%. Kombinasi tersebut dapat dipilih apabila sasaran budidaya adalah peningkatan metabolit sekunder secara kuantitatif
Pemanfaatan Limbah Kotoran Kambing dan Pepaya (KOYA) Menjadi Pupuk Kompos di Desa Sukaharja Jawa Barat Nadia Ainu Nisa; Syifa Nurjannah; Irfan Maulana; Alifia Devi Nur Apsari; Tazkia Nabilatuzzahira
JAMARI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri Vol. 3 No. 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37577/jamari.v3i1.1101

Abstract

Desa Sukaharja, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya memiliki populasi ternak kambing yang signifikan serta potensi komoditas pepaya yang melimpah. Namun, limbah kotoran kambing dan buah pepaya afkir belum dimanfaatkan secara optimal sehingga berisiko mencemari lingkungan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai pemanfaatan limbah lokal tersebut menjadi pupuk kompos komersial berkualitas yang disebut Kompos Koya (Kotoran Kambing-Pepaya). Metode pelaksanaan meliputi tahapan perizinan, pembuatan dekomposer Mikroorganisme Lokal (MOL) dari buah pepaya, penggilingan kotoran kambing, pencampuran dan fermentasi selama 4 minggu, serta sosialisasi secara door-to-door menggunakan media brosur dan X-banner. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pengolahan berhasil memproduksi pupuk organik dengan tekstur gembur, berwarna coklat kehitaman, tidak berbau afkir, serta siap guna. Sebanyak 16 kemasan produk Kompos Koya ukuran 3 kg berhasil diproduksi dan didistribusikan kepada peternak dan petani setempat. Kesimpulannya, program PkM ini berhasil mengedukasi masyarakat dalam menekan pencemaran lingkungan akibat bau kotoran ternak, sekaligus memberikan alternatif substitusi pupuk kimia melalui konsep pertanian terpadu.
Pemanfaatan Limbah Kotoran Kambing dan Pepaya (KOYA) Menjadi Pupuk Kompos di Desa Sukaharja Jawa Barat Nadia Ainu Nisa; Syifa Nurjannah; Irfan Maulana; Alifia Devi Nur Apsari; Tazkia Nabilatuzzahira
JAMARI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri Vol. 3 No. 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37577/jamari.v3i1.1101

Abstract

Desa Sukaharja, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya memiliki populasi ternak kambing yang signifikan serta potensi komoditas pepaya yang melimpah. Namun, limbah kotoran kambing dan buah pepaya afkir belum dimanfaatkan secara optimal sehingga berisiko mencemari lingkungan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai pemanfaatan limbah lokal tersebut menjadi pupuk kompos komersial berkualitas yang disebut Kompos Koya (Kotoran Kambing-Pepaya). Metode pelaksanaan meliputi tahapan perizinan, pembuatan dekomposer Mikroorganisme Lokal (MOL) dari buah pepaya, penggilingan kotoran kambing, pencampuran dan fermentasi selama 4 minggu, serta sosialisasi secara door-to-door menggunakan media brosur dan X-banner. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pengolahan berhasil memproduksi pupuk organik dengan tekstur gembur, berwarna coklat kehitaman, tidak berbau afkir, serta siap guna. Sebanyak 16 kemasan produk Kompos Koya ukuran 3 kg berhasil diproduksi dan didistribusikan kepada peternak dan petani setempat. Kesimpulannya, program PkM ini berhasil mengedukasi masyarakat dalam menekan pencemaran lingkungan akibat bau kotoran ternak, sekaligus memberikan alternatif substitusi pupuk kimia melalui konsep pertanian terpadu.