Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Telaah Kebijakan Visa Haji Dalam Fatwa Hay’ah Kibar al-‘Ulama’ Arab Saudi, Syuriah PBNU dan Majelis Tarjih Muhammadiyah Perspektif Qawaid Lughawiyah Farina Faradina; Wiwin Nur Jannah; Adnan Jinawar Al-Yamani
Wasathiyyah Vol 6 No 1 (2024): Wasathiyyah: Jurnal Pemikiran Fikih dan Ushul Fikih
Publisher : Wasathiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58470/wasathiyyah.v6i1.85

Abstract

Perkembangan zaman dan pesatnya arus globalisasi telah mendorong perubahan signifikan dalam pelaksanaan ibadah haji, termasuk dalam sistem pendaftaran, pengelolaan kuota, serta regulasi visa yang melibatkan peran aktif pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pandangan tiga lembaga fatwa Hay’ah Kiba>r al-‘Ulama>’ Arab Saudi, Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dan Majelis Tarjih Muhammadiyah terhadap kebijakan visa haji sebagai bagian dari syarat istit}a>‘ah. Penelitian ini merupakan studi pustaka (library research) dengan sumber utama berupa rumusan fatwa ketiga lembaga tersebut, yang dianalisis melalui pendekatan Qawa>‘id Lughawi>yah (kaidah-kaidah kebahasaan) dan teori maslahat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Hay’ah Kiba>r al-‘Ulama>’ Arab Saudi menggunakan pendekatan Qawa>‘id Lughawi>yah terhadap ayat dan hadis tentang kewajiban taat kepada pemerintah, dengan tetap mempertimbangkan aspek kemaslahatan; (2) Syuriah PBNU menitikberatkan istinba>t} hukum pada ayat istit}a>‘ah dan menyimpulkan bahwa visa bukan termasuk syarat atau rukun haji, namun tetap mempertimbangkan maslahat jamaah; dan (3) Majelis Tarjih Muhammadiyah menganggap visa sebagai bagian dari syarat istit}a>‘ah, dengan pendekatan ushul fikih, pendapat ulama kontemporer, serta teori Sadd al-Dzari>‘ah sebagai langkah preventif mencegah mafsadah. Ketiganya sepakat bahwa kebijakan visa haji merupakan regulasi pemerintah yang wajib dipatuhi, dan sama-sama menjadikan kaidah kebahasaan serta kemaslahatan sebagai dasar penetapan hukum fatwa.
Taghlidh al-Uqubah and Reverse Proof: Criminal Law Protection of People with Disabilities Perspective Maqashid al-Syariah Wiwin Nur Jannah; Khairunnisa; A. Muhyiddin Khotib
Wasathiyyah Vol 8 No 2 (2026): Wasathiyyah: Jurnal Pemikiran Fikih dan Ushul Fikih
Publisher : Wasathiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58470/wasathiyyah.v8i2.154

Abstract

Indonesia's criminal justice system fails to provide proportional justice for disabled victims due to strict evidentiary requirements in Article 183 KUHAP and standardized sentencing in the KUHP that ignores victim vulnerability. Employing a normative legal approach grounded in maqāṣid al-Sharīʿah, this study formulates a legal reconstruction to resolve these systemic deadlocks through a dual breakthrough. First, it addresses evidentiary barriers by introducing the reversal of the burden of proof via qiyās al-awlā; since reversing the burden of proof is permissible to safeguard state assets (ḥifẓ al-māl), its application is far more urgent (ḍarūrī) to protect the lives and dignity (ḥifẓ al-nafs and ḥifẓ al-ʿirḍ) of persons with disabilities. Second, it reconstructs sentencing through tiered penalty enhancement (taghlīẓ al-ʿuqūbah) based on layered vulnerability, leveraging taʿzīr flexibility, ulī al-amr discretion, and sadd al-dharīʿah to mandate maximum penalties for crimes exploiting vulnerable groups (istighlāl al-ḍuʿafāʾ). Integrating positive law with fiqh jināyah effectively dismantles systemic impunity and secures substantive justice for persons with disabilities.