Nilai tukar petani (NTP) adalah alat untuk mengukur kesejahteraan petani dengan batas nilai 100. Provinsi Kalimantan Selatan merupakan penghasil padi terbesar di Kalimantan sehingga mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani padi. Namun, pada periode 2018–2022, NTP padi cenderung menurun yang mencerminkan bahwa kesejahteraan petani mengalami penurunan akibat pendapatan petani dari usaha tani tidak mencukupi kebutuhan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan nilai tukar petani padi, produksi padi, harga gabah, inflasi, tingkat suku bunga, dan HET pupuk bersubsidi di Provinsi Kalimantan Selatan dan juga menganalisis pengaruh produksi padi, harga gabah, inflasi, tingkat suku bunga, dan HET pupuk bersubsidi terhadap Nilai Tukar Petani Padi di Provinsi Kalimantan Selatan. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan perkembangan NTP padi, produksi padi, harga gabah, inflasi, tingkat suku bunga, dan HET pupuk bersubsidi di Provinsi Kalimantan Selatan secara keseluruhan mengalami fluktuasi pada periode tahun 2018 hingga tahun 2022. Kemudian, hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan secara simultan produksi padi, harga gabah, inflasi, tingkat suku bunga, dan HET pupuk bersubsdidi berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar petani (NTP) padi. Sedangkan, secara parsial pada taraf α = 0,05 produksi padi, harga gabah, inflasi, dan tingkat suku bunga berpengaruh secara signifikan terhadap nilai tukar petani (NTP) padi sementara HET pupuk bersubsidi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nilai tukar petani (NTP) padi.