Yusuf Azis
Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Dampak Sekolah Lapang terhadap Tingkat Pengetahuan dan Penerapan Prosedur Budidaya Cabai oleh Petani di Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur Ayu Devi; Yusuf Azis
Frontier Agribisnis Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v9i3.15981

Abstract

Sekolah Lapang merupakan proses pembelajaran non formal yang digunakan dalam program Bertani Untuk Negeri (BUN) untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak Sekolah Lapang terhadap tingkat pengetahuan dan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya cabai oleh petani di Kecamatan Gekbrong, serta hubungan antara tingkat pengetahuan dan penerapan SOP budidaya setelah Sekolah Lapang. Data yang digunakan adalah data sekunder dari Yayasan Edufarmers Internasional. Metode analisis deskriptif kuantitatif menggunakan total skor dan korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sekolah Lapang memberikan dampak positif terhadap tingkat pengetahuan dan penerapan SOP budidaya cabai. Sebelum mengikuti Sekolah Lapang 61,11% petani berada pada tingkat pengetahuan sedang meningkat menjadi 93,51% petani berada pada kategori tinggi setelah Sekolah Lapang. Demikian pula pada tingkat penerapan SOP budidaya meningkat dari 77,78% petani berada pada kategori sedang menjadi 100% petani dalam kategori tinggi. Ditemukan hubungan yang berlawanan arah antara tingkat pengetahuan petani dengan penerapan SOP budidaya, yang menunjukkan kemungkinan adanya faktor lain yang mempengaruhi implementasi di lapangan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan Cabai Rawit di Provinsi Kalimantan Selatan Muhammad Naufal Ernandi; Luthfi Fatah; Yusuf Azis
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v6i1.20466

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami faktor-faktor yang berdampak terhadap permintaan cabai rawit di Kalimantan Selatan serta mempelajari elastisitas harga dan elastisitas silang, dari cabai rawit di wilayah yang sama. Kajian dilaksanakan di Kalimantan Selatan dengan memanfaatkan data Time Series selama dekade terakhir, yakni dari 2014 hingga 2023. Dalam penelitian ini, menerapkan Analisis Regresi Linier Berganda dengan mematuhi asumsi standar dan memproses data melalui aplikasi SPSS. Hasil menunjukkan bahwa koefisien determinasi (R2) berada pada angka 92,8%, dengan margin kesalahan sebesar 7,2% akibat dari beberapa faktor eksternal yang belum terakomodasi dalam model analitis ini. Hal ini mengindikasikan bahwa variabel independen berdampak signifikan terhadap tingkat permintaan cabai rawit di Kalimantan Selatan. Dari segi individu, harga cabai rawit dan cabai merah terbukti mempengaruhi permintaan cabai rawit secara signifikan. Namun, variabel seperti harga bawang merah, tingkat pendapatan, dan total populasi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap permintaan cabai rawit. Sementara itu, elastisitas harga cabai rawit terhadap permintaan adalah -31,659, yang menggambarkan karakteristik elastis karena Elastisitasnya melampaui nilai 1. Koefisien regresi X1 yang negatif menunjukkan adanya relasi terbalik antara harga cabai rawit dan permintaannya. Artinya, kenaikan harga cabai rawit akan menyebabkan penurunan pembelian yang signifikan oleh konsumen. Sementara itu, elastisitas silang dengan cabai merah besar menunjukkan bahwa mereka merupakan barang yang komplementer.
Analisis Zona Fleksibilitas Harga Pada Produk Beras Lokal di Lahan Pasang Surut Kabupaten Barito Kuala (Studi Kasus Beras Berkemasan Cap Jembatan Barito) Hartoni Hartoni; Karimal Arum Shafriani; Yusuf Azis; Ridayati Ridayati; Soraya Noormalasari; Sarbaini Sarbaini
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v7i1.22352

Abstract

Produksi padi di Kabupaten Barito Kuala sebesar 219.962,68 ton atau 21,36 persen dari total produksi padi di Kalimantan Selatan. Besarnya produksi padi di Kabupaten Barito Kuala didukung dengan potensi lahan sawah yang sangat luas, berupa lahan pasang surut. Potensi besar produksi padi lokal di Kabupaten Barito Kuala ini menjadi peluang yang dimanfaatkan oleh Kelompok Mayang Maurai di Kabupaten Barito Kuala untuk memberikan nilai tambah pada produk padi, menjadi beras berkemasan, yaitu Beras Cap Jembatan Barito. Selama ini, sistem penetapan harga penjualan Beras Cap Jembatan Barito hanya dengan melalui perhitungan biaya produksi yang dilihat dari harga pokok produksi dengan penambahan keuntungan. Tujuan penelitian untuk menghitung harga pokok produksi, menganalisis kisaran harga yang dapat diterima konsumen, serta menganalisis rentang harga optimum (zona fleksibilitas harga. Responden dari pihak produsen yaitu 3 orang anggota kelompok dan sampel yang diambil dari konsumen dilaksanakan dengan metode convenience sampling sebanyak 30 responden. Analisis data yang digunakan yakni Optimal Price Minimum, Customer Price Maximum dan analisis zona fleksibilitas harga. Hasil perhitungan harga pokok produksi Beras Berkemasan Cap Jembatan Barito dengan pendekatan metode full costing menghasilkan nilai yang lebih besar dibandingkan dengan kondisi aktual. Range of Acceptable Prices (RAP) yang diterima konsumen terhadap Beras Berkemasan Cap Jembatan Barito yakni berkisar antara Rp16.857/kg sampai dengan Rp18.837/kg. Zona fleksibiltas harga pada produk Beras Berkemasan Cap Jembatan Barito sangat kecil yakni terletak pada rentang Rp18.037/kg sampai dengan Rp18.837/kg. Kecilnya zona fleksibilitas, salah satu penyebabnya adalah pengambilan data penelitian dilaksanakan pada saat harga gabah kering giling yang diproduksi berada pada kondisi yang cukup tinggi, sebagai akibat belum adanya panen raya.