Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Mengapa Digital Gagal Menyerap Tenaga Kerja? Paradoks Nusa Tenggara Barat dan Model Ketenagakerjaan Adaptif Diana Apriilia; Neti Susilawati; Karina Juniarti Utami; Herie Saksono
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 2 No 1 (2025)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.2.2025.61-70

Abstract

Transformasi digital yang diharapkan menjadi solusi pengangguran justru menghadapi kegagalan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Penelitian ini menganalisis paradoks penyerapan tenaga kerja era digital dengan tujuan mengembangkan model kebijakan ketenagakerjaan adaptif. Tujuannya adalah mengembangkan model kebijakan transformatif dengan analisis determinan keberhasilan penurunan TPT, penyebab ketahanan pengangguran urban, strategi diferensiasi kebijakan per daerah, dan model prediktif dampak transformasi digital pada TPT-TPAK. Menggunakan pendekatan deskriptif-analitis melalui studi komparatif longitudinal periode 2017–2024, penelitian menganalisis data sekunder Badan Pusat Statistik (BPS) dengan perhitungan Compound Annual Growth Rate (CAGR) dan tipologi daerah berdasarkan nilai TPT-TPAK. Hasil menunjukkan tiga paradoks utama: (1) infrastruktur digital tinggi di perkotaan justru memiliki pengangguran persisten, (2) peningkatan TPAK tidak diimbangi penurunan TPT yang proporsional, dan (3) daerah ekonomi tradisional seperti Sumbawa Barat justru mencapai penurunan pengangguran signifikan (CAGR -6,99%). Dikembangkan Spatial-Adaptive Digital Employment Model (SADEM) yang mengintegrasikan strategi digital terdiferensiasi berbasis karakteristik wilayah dengan prinsip integrasi bertahap, pemanfaatan kearifan lokal, dan kombinasi efisiensi digital-ketahanan tradisional. Kesimpulannya, kegagalan penyerapan tenaga kerja bukan disebabkan teknologi melainkan implementasi yang mengabaikan konteks lokal. SADEM menawarkan solusi melalui strategi adaptif: demokratisasi keterampilan digital di perkotaan, peningkatan rantai nilai digital di pedesaan berperforma tinggi, dan revitalisasi sektor tradisional dengan teknologi tepat guna di daerah tertinggal.