Devi Apyunita
Universitas Negeri Makassar, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Reperesentasi Bahasa Gaul pada Generasi Z di Media Sosial Instagram Devi Apyunita; Atikah Nurul Asdah
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i2.1608

Abstract

Penelitian ini membahas penggunaan bahasa gaul oleh Generasi Z dalam interaksi mereka di media sosial Instagram. Bahasa gaul yang digunakan mencerminkan dinamika sosial dan identitas kelompok yang terbentuk melalui komunikasi digital. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk bahasa gaul serta memahami fungsi sosial dan makna yang terkandung dalam penggunaannya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiolinguistik. Data diperoleh melalui observasi partisipatif dan dokumentasi unggahan serta komentar pada akun-akun Instagram milik remaja Generasi Z. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan oleh remaja di media sosial, khususnya Instagram, sangat dinamis dan menunjukkan beragam bentuk kreativitas linguistik. Mencakup penggunaan leksikal khas Gen Z, campur kode, pelesetan fonologis, hingga penciptaan istilah baru yang mencerminkan budaya digital dan tren populer. Penelitian ini menunjukkan bahwa media sosial menjadi ruang penting bagi perkembangan dan pelestarian bentuk-bentuk bahasa tidak baku yang bersifat dinamis dan kontekstual. Kata Kunci: Bahasa gaul, Generasi Z, Sosiolinguistik, Media sosial. Abstract This research explores the use of slang by Generation Z in their interactions on the social media platform Instagram. The slang used reflects social dynamics and group identities formed through digital communication. The aim of this research is to identify various forms of slang and to understand the social functions and meanings embedded in its use. The research method employed is descriptive qualitative with a sociolinguistic approach. Data were obtained through participatory observation and documentation of posts and comments on Instagram accounts owned by Generation Z teenagers. The findings of this research reveal that the language used by teenagers on social media, particularly Instagram, is highly dynamic and showcases diverse forms of linguistic creativity. This includes the use of Gen Z-specific lexical items, code-mixing, phonological wordplay, and the creation of new terms that reflect digital culture and popular trends. The research demonstrates that social media serves as a crucial space for the development and preservation of non-standard language forms that are dynamic and contextual. Keywords: Slang, Generation Z, Sociolinguistics, Social Media
Analisis Multimodal Teks Iklan Pembersih Wajah “Garnier Men Acnofight” Devi Apyunita; Achmad Afandy
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2170

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai iklan pembersih wajah garnier men acnofight dengan menggunakan analisis multimodal. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis teks multimodal yang meliputi aspek linguistik, visual, audio, gerak tubuh, dan spasial dalam iklan tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil meunjukkan adanya kompleksitas makna dalam iklan garnier men acnofight. Analisis visual memperlihatkan bahwa tindakan partisipan sesuai dengan tuturan narator, sedangkan analisis gerak tubuh menyoroti ekpresi gerakan partisipan yang mendukung narasi. Berdasarkan hasil analisis, terungkap bahwa unsur visual dan verbal dalam iklan saling melengkapi sehingga mampu menyampaikan pesan secara utuh kepada audiens
Representasi Perempuan dalam Cerpen Perempuan dan Sebilah Pisau Karya Tati Y Adiwinata Devi Apyunita; Ade Yustina; Ilham Ilham; Soedarsono M
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2561

Abstract

Penelitian ini mengkaji representasi perempuan dalam cerpen “Perempuan dan Sebilah Pisau” karya Tati Y. Adiwinata dengan memusatkan perhatian pada pengaruh budaya tradisional dan modern serta isu-isu sosial yang berkaitan dengan marginalisasi, subordinasi, stereotipe gender, dan kekerasan. Melalui pendekatan deskriptif-kualitatif dan metode pembacaan dekat (close reading), penelitian ini menganalisis unsur intrinsik cerita, meliputi penokohan, alur, konflik, dan simbolisme, untuk mengungkap bagaimana konstruksi perempuan dibentuk dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh perempuan direpresentasikan sebagai subjek yang berada dalam tekanan ganda. Tekanan pertama berasal dari budaya tradisional yang menempatkannya pada posisi domestik, patuh, dan bergantung pada laki-laki. Tekanan kedua muncul dari budaya modern yang meskipun menawarkan perubahan, tetap belum mampu menghapus struktur patriarki yang mengekang perempuan. Cerpen ini menampilkan bentuk-bentuk ketidakadilan gender melalui marginalisasi terhadap ruang gerak perempuan, subordinasi dalam hubungan kekuasaan, serta stereotipe yang menggambarkan perempuan sebagai makhluk lemah, emosional, dan tidak berdaya. Selain itu, kekerasan fisik dan psikologis yang dialami tokoh perempuan memperlihatkan bagaimana dominasi patriarki beroperasi dalam kehidupan sehari-hari. Simbol pisau berperan penting sebagai representasi ambivalen yang mencerminkan ancaman sekaligus kemungkinan resistensi perempuan terhadap penindasan. Pisau tidak hanya menandai kekuatan kontrol laki-laki, tetapi juga membuka ruang interpretasi mengenai keberanian dan potensi agensi perempuan dalam menghadapi tekanan sosial. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa cerpen tersebut menghadirkan gambaran kompleks mengenai posisi perempuan dalam pertemuan antara budaya tradisional dan modern, serta menunjukkan adanya peluang bagi perempuan untuk menegaskan diri dan melakukan perlawanan terhadap struktur sosial yang menindas genre