Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sentimen Negatif atas Kebijakan Prabowo Subianto dalam Komentar pada Akun Instagram Folkative Khoirun Nisa; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.2102

Abstract

Sentimen negatif merupakan pandangan, emosi, atau sikap yang kurang baik terhadap suatu topik, produk, maupun layanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ketidaksantunan berbahasa dalam komentar warganet pada akun Instagram Folkative terkait kebijakan Prabowo Subianto, dengan menggunakan teori ketidaksantunan berbahasa yang dikemukakan oleh Culpeper (1996) yaitu (1) ketidaksantunan secara langsung, (2) ketidaksantunan positif, (3) ketidaksantunan negatif, (4) sarkasme atau kesantunan semu, (5) menahan kesantunan. Fokus penelitian adalah untuk memahami pola ketidaksantunan tersebut dalam konteks interaksi digital, khususnya pada unggahan tentang kebijakan pemerintah di Instagram. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik observasi digital. Data berupa komentar yang mencerminkan ketidaksantunan berbahasa yang diambil dari unggahan populer Folkative mengenai kebijakan Prabowo Subianto pada periode November 2024 yang membahas tiga kebijakan utama, yaitu Investasi Luar Negeri, Kenaikan Gaji Guru, dan Program Makan Bergizi Gratis. Data dianalisis melalui pendekatan tematik untuk menemukan pola utama ketidaksantunan serta pendekatan pragmatik untuk memahami konteks dan makna komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk ketidaksantunan berbahasa yang paling dominan adalah ketidaksantunan negatif, diikuti dengan sarkasme dan ketidaksantunan langsung. Komentar warganet banyak berisi kritik frontal, ejekan, serta sindiran sinis terhadap kebijakan pemerintah. Faktor yang melatarbelakangi fenomena tersebut meliputi skeptisisme terhadap transparansi kebijakan, ketidakpercayaan pada janji politik, serta kebebasan berekspresi di media sosial yang memungkinkan masyarakat menyampaikan kritik tanpa batasan etika. Peneliti menyimpulkan bahwa ketidaksantunan berbahasa di media sosial mencerminkan ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Fenomena ini menyoroti pentingnya meningkatkan kesadaran etika komunikasi di ruang digital guna menciptakan interaksi yang lebih sehat dan konstruktif. Penelitian ini memberikan wawasan tentang dinamika komunikasi digital yang relevan dalam memahami hubungan antara masyarakat dan kebijakan pemerintah, sekaligus mendorong perlunya penguatan literasi digital untuk meminimalisasi ketidaksantunan dalam komunikasi daring, sehingga tercipta ruang diskusi yang lebih positif dan produktif.
Kesantunan Berbahasa Leech dalam Film Sekawan Limo Karya Bayu Skak Khoirun Nisa; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2281

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis prinsip-prinsip kesantunan berbahasa dalam film Sekawan Limo karya Bayu Skak berdasarkan teori kesantunan Geoffrey Leech (1983). Film ini dipilih karena merepresentasikan penggunaan bahasa Jawa yang kental serta nilai-nilai budaya lokal, sehingga berpotensi menjadi media pelestarian norma sosial dan strategi kesantunan dalam komunikasi. Teori Leech mencakup enam maksim kesantunan, yaitu maksim kebijaksanaan, kedermawanan, pujian, kesederhanaan, kesepakatan, dan simpati. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan kerangka analisis pragmatik. Data dikumpulkan melalui teknik simak dan catat terhadap tuturan para tokoh dalam film, kemudian dianalisis berdasarkan makna kontekstual dan fungsi pragmatik dari setiap ujaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh maksim kesantunan muncul dalam dialog para tokoh, dengan maksim pujian dan simpati sebagai maksim yang paling dominan. Temuan ini menunjukkan bahwa strategi kesantunan digunakan untuk memperkuat ikatan sosial, mengekspresikan empati, dan menjaga keharmonisan interaksi antar tokoh. Bahasa yang digunakan secara santun dan kontekstual turut memperkuat pesan moral serta penggambaran karakter dalam film. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film Sekawan Limo tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai sarana efektif untuk menyampaikan nilai-nilai budaya dan kesantunan berbahasa. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kajian pragmatik serta mendorong pemanfaatan film sebagai media pembelajaran nilai-nilai sosial dan linguistik.