Latar belakang penelitian ini berangkat dari pandangan bahwa pembelajaran bahasa di abad ke-21 perlu mengedepankan aspek kontekstual, ekspresif, dan kreatif, tidak hanya berfokus pada struktur dan tata bahasa semata. Dalam konteks tersebut, ujaran komika menjadi fenomena linguistik menarik karena memadukan kecerdasan berbahasa, sensitivitas sosial, dan kemampuan retorika untuk menciptakan efek humor yang bermakna. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan sumber data utama berupa video penampilan Fajar Mukti pada SUCI Season 11, serta data sekunder dari literatur linguistik, pragmatik, dan pembelajaran bahasa. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, klasifikasi strategi kebahasaan, interpretasi makna, dan penarikan relevansi pedagogis dengan pembelajaran Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan empat strategi utama produksi ujaran, yaitu: (1) pemilihan diksi dan permainan kata, (2) pemanfaatan implikatur dan konteks pragmatik, (3) penggunaan ironi dan hiperbola sebagai gaya retorika, serta (4) eksplorasi konteks sosial sebagai sumber humor. Keempat strategi tersebut mencerminkan kecerdasan linguistik dan kepekaan sosial Fajar Mukti dalam membangun humor yang cerdas, santun, serta edukatif. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa analisis terhadap strategi produksi ujaran komika dapat berkontribusi pada pengembangan inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia yang komunikatif, reflektif, dan relevan dengan kehidupan nyata.