Dhida Meilando Cahyo Rio Utomo
Universitas PGRI Ronggolawe Tuban

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gaya Pengontrasan di Kanal Youtube Caveine sebagai Tanggapan Keadaan Sosial-Politik Indonesia: Kajian Stilistika Dhida Meilando Cahyo Rio Utomo; Sri Yanuarsih; Suantoko Suantoko
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2707

Abstract

Fakus penelitian ini adalah gaya pengontrasan menggunakan ilmu stilistika dengan lokusnya pada kanal Youtube Caveine. Data berdasarkan tanggapan Caveine terhadap keadaan sosial dan politik yang terjadi di Indonesia. Caveine di kenal dalam gaya sindirannya berupa satir terhadap isu keadaan yang dirasa miring sehingga gaya pengontrasan dinilai cocok untuk mengkaji hal tersebut. Menurut Burhan Nurgiyantoro gaya pengontrasan dibagi menjadi lima gaya yaitu (1). hiperbola, (2). litotes, (3). paradoks, (4). ironi, dan (5). sarkasme. Jenis penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatf dengan menganalisis bukti-bukti yang telah dikumpulkan. mencatat dan mencari makna mendalam mengenai ucapan objek penelitian. Menggunakan analisis temantik data dikumpulkan kemudian di kelompokkan berdasarkan kategori tujuan penelitian yakni mencari gaya pengontrasan. Dengan observasi digital, bukti yang dikumpulkan berupa ucapan atau kalimat yang dituturkan oleh pemilik kanal Caveine. Hasil dari penelitian menunjukkan dari kelima gaya pengontrasan yang paling mendominasi adalah gaya ironi dan sarkasme. Caveine seringkali membahas dan menanggapi sesuatu yang bersifat sensitif sehingga bentuk ironi sindiran yang mengarah pada candaan-candaan internet dinilai lebih cocok untuk mencerna isu-isu berat tanpa merasa terbebani sekaligus menjadi wahana hiburan bagi penonton.
The Use of Jargon Among Anime Lovers on the Cleansound Studio YouTube Channel: A Sociolinguistic Study Dhida Meilando Cahyo Rio Utomo; Yunita Suryani; I Wayan Letreng
ETNOLINGUAL Vol. 10 No. 1 (2026): ETNOLINGUAL
Publisher : Department of Master of Linguistic, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/etno.v10i1.85689

Abstract

Jargon emerges from the interactions of people in communities with similar interests that create unique vocabulary within them. This study focuses on the analysis of the use of jargon in the anime community through interactions on the Cleansound Studio YouTube channel. Through qualitative descriptive methods, data is mined to find the meaning of speech with non-numerical properties. Data collection techniques use passive listening and transcription, namely the technique of listening without direct involvement in it, understanding what is said and then converting it into written form. Digital observation is carried out to find videos that match the main topic of the study. Data is understood repeatedly and arranged according to its group, namely classification based on language origin consisting of three languages: (1) Indonesian, (2) English, and (3) Japanese, as well as classification based on slang including language merging and changes in meaning from the original. The results of the study show that English is more dominant in anime lover jargon because its status as an international language which ultimately influences the terms including in Indonesia and Japan. Despite this, Japanese isn't significantly behind English. This is because anime fans' culture follows its origins, namely Japan, and so the use of terms inherent in anime has also been carried over into the community. The group's need to convey information concisely fosters linguistic creativity, leading to the creation of slang.