Penelitian ini membahas variasi bahasa sosiolek yang muncul dalam film pendek Ke Jogja di kanal YouTube Paniradya Kaistimewan. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk sosiolek yang digunakan para tokoh serta mengungkap faktor sosial yang melatarbelakangi pemakaiannya. Kajian dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan berlandaskan teori sosiolinguistik menurut Chaer dan Agustina (2014). Data diperoleh melalui metode simak dan catat terhadap dialog-dialog yang terdapat dalam film, kemudian dianalisis berdasarkan konteks sosial dan latar penuturnya. Hasil penelitian menunjukkan adanya lima bentuk variasi bahasa sosiolek dalam film tersebut, yakni akrolek, basilek, slang, kolokial dan jargon. Setiap bentuk memiliki fungsi sosial yang berbeda. Akrolek menggambarkan kesopanan dalam berbahasa, sementara slang dan kolokial menunjukkan keakraban dan spontanitas. Basilek memperlihatkan identitas lokal dan kedekatan budaya masyarakat kelas bawah, sedangkan jargon mencerminkan pengaruh modernisasi serta kemampuan tokoh-tokohnya beradaptasi dengan perkembangan zaman. Menariknya, tidak ditemukan bentuk bahasa argot, ken dan vulgar dalam film. Hal ini menandakan bahwa seluruh tokoh berkomunikasi tanpa menggunakan istilah rahasia, serta tetap menjaga etika dan kesantunan. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa bahasa dalam film pendek Ke Jogja tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi cerminan identitas sosial, budaya, dan nilai-nilai kesopanan masyarakat Jawa yang terus bertahan di tengah arus perubahan zaman.