Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analysis of Processing Empty Oil Palm Fruit Bunch Waste (EFB) Into Organic Fertilizer and Organic Mulch Qiswatun Mukhoyyaroh; Latif Sofiana Nugraheni; Ina Rotul Mila; Risa Maelani; Indah Anugrah Sari
Quagga: Jurnal Pendidikan dan Biologi Vol 17 No 2 (2025): QUAGGA : Jurnal Pendidikan dan Biologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/quagga.v17i2.369

Abstract

Fresh fruit bunches (FFB) of oil palm are processed into crude palm oil (CPO) and palm oil waste. Palm oil waste, such as empty fruit bunches (EFB), has traditionally been incinerated, leading to increased carbon emissions in the atmosphere. However, EFB can be utilized as organic fertilizer and mulch for oil palm cultivation. This study aims to analyze the conversion of EFB waste into organic fertilizer and mulch. The research was conducted at PT Perkebunan Nusantara VII Kertajaya, Banten Province, from July 2023 to August 2024. A qualitative descriptive approach was employed, with data collected through observation, interviews, and documentation. Participants were selected using purposive sampling, involving 20 individuals. The results indicate that the process of converting EFB waste into organic fertilizer and mulch comprises two main stages: (1) the processing of FFB into EFB waste, which includes the following steps: a) weighing, b) sorting, c) loading ramp, d) sterilization, e) stripping, and f) empty bunch hopper; and (2) the transformation of EFB waste into organic fertilizer and mulch. The production process for organic fertilizer and mulch occurs naturally. The EFB waste is applied as organic fertilizer and mulch by spreading it on the soil around the oil palm trees.
Kepadatan Populasi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Tahura Banten Latif Sofiana Nugraheni; Yopi Haryandi
MAXIMUS: Journal of Biological and Life Sciences Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Sumatera, Lampung Selatan, Lampung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35472/maximus.v3i1.2149

Abstract

Taman Hutan Raya (Tahura) Banten memiliki potensi yang tinggi dalam hal ekonomi maupun ekologi. Kekhasan ekosistem ini membuat tingginya keanekaragaman flora dan fauna pada kawasan tersebut. Salah satu fauna mamalia yang biasa ditemui di kawasan ini adalah Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis). Fungsi ekologi keberadaan Macaca fascicularis diantaranya sebagai agen penyemai dan penyebar biji tanaman serta menjadi pengendali populasi serangga. Namun jika populasi tidak terkendali maka akan berdampak pada keseimbangan ekosistem khususnya mempengaruhi perilaku Macaca fascicularis menjadi agresif dan kecenderungan dianggap hama. Oleh karenanya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan populasi Macaca fascicularis dikawasan Tahura Banten. Analisis data populasi menggunakan persamaan King’s method yang kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil pengamatan ditemukan dua kelompok Macaca fascicularis, dimana estimasi populasi tertinggi ditemukan pada kelompok 1 di lokasi Blok Pemanfaatan yaitu 47,8 individu/ha dengan kepadatan populasi sebesar 4,78 individu/ha. Sedangkan, estimasi populasi yang paling sedikit ditemukan pada kelompok 2 di lokasi sekitar area Curug Putri sebesar 28,9 individu/ha dengan kepadatan populasinya 2,89 individu/ha. Dari hasil analisa tersebut ditemukan bahwa Macaca fascicularis banyak ditemui di area yang memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan tinggi dan area yang minim perjumpaan dengan manusia. Oleh karena itu, penelitian mengenai jumlah populasi Macaca fascicularis ini diharapkan menjadi informasi penting, sehingga dapat digunakan untuk memantau dan mengelola populasi Macaca fascicularis dikawasan Tahura Banten. Kata kunci : Taman Hutan Raya (Tahura) Banten memiliki potensi yang tinggi dalam hal ekonomi maupun ekologi. Kekhasan ekosistem ini membuat tingginya keanekaragaman flora dan fauna pada kawasan tersebut. Salah satu fauna mamalia yang biasa ditemui di kawasan ini adalah Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis). Fungsi ekologi keberadaan Macaca fascicularis diantaranya sebagai agen penyemai dan penyebar biji tanaman serta menjadi pengendali populasi serangga. Namun jika populasi tidak terkendali maka akan berdampak pada keseimbangan ekosistem khususnya mempengaruhi perilaku Macaca fascicularis menjadi agresif dan kecenderungan dianggap hama. Oleh karenanya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan populasi Macaca fascicularis dikawasan Tahura Banten. Analisis data populasi menggunakan persamaan King’s method yang kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil pengamatan ditemukan dua kelompok Macaca fascicularis, dimana estimasi populasi tertinggi ditemukan pada kelompok 1 di lokasi Blok Pemanfaatan yaitu 47,8 individu/ha dengan kepadatan populasi sebesar 4,78 individu/ha. Sedangkan, estimasi populasi yang paling sedikit ditemukan pada kelompok 2 di lokasi sekitar area Curug Putri sebesar 28,9 individu/ha dengan kepadatan populasinya 2,89 individu/ha. Dari hasil analisa tersebut ditemukan bahwa Macaca fascicularis banyak ditemui di area yang memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan tinggi dan area yang minim perjumpaan dengan manusia. Oleh karena itu, penelitian mengenai jumlah populasi Macaca fascicularis ini diharapkan menjadi informasi penting, sehingga dapat digunakan untuk memantau dan mengelola populasi Macaca fascicularis dikawasan Tahura Banten.