Ahmad Nadlif
STAI AL-ANWAR SARANG REMBANG

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ULAMA, OTORITAS HALAL DAN POLITIK PENGETAHUAN: HEGEMONI KEMENAG MELALUI TAFSIR ILMI Imam Syafi'i; Najib, Muhammad Najib; Mujib, Ahmad Nadhif Abdul Mujib
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol. 12 No. 1 (2025): Vol. 12, No. 1, April 2025
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v12i1.25691

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis hegemoni pemerintah dalam menciptakan politik pengetahuan tentang kehalalan suatu produk dan terbentuknya regulasi halal di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan basis data kepustakaan (library research). Teori relasi kuasa Michel Foucault penulis gunakan sebagai pisau analisis, dimana hubungan antara kekuasaan (power) dan pengetahuan (knowladge) yang saling bergerak bersama akan membentuk wajah suatu peradaban (civilization). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemerintah melakukan kompromi dengan ulama untuk memproduksi pengetahuan yang bertujuan untuk mensukseskan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 dalam program sertifikasi halal. Keterlibatan ulama yang berasal dari unsur Kementerian Agama, akademisi perguruan tinggi Islam serta ulama dari Organisasi Masyarakat (Ormas) yang menyusun tafsir bernama“Tafsir Ilmi Makanan dan Minuman Perspektif Sains” seolah akan menciptakan kebenaran mutlak tentang halal. Selain itu, politik pengetahuan dalam bentuk hegemoni pengetahuan tampak melalui interpretasi atas teks al-Qur’an Surah an-Naml: 60, al-Mursalat: 22, dan Surah al-Maidah; 3 mendorong masyarakat untuk memperhatikan labelisasi halal akan membentuk pengetahuan baru di masyarakat. Ditambah lagi konten penafsiran yang memberikan penjelasan secara eksplisit mengenai penting dan signifikansi sertifikasi halal dalam mengidentifikasi kehalalan produk seolah-olah akan menciptakan kebenaran tunggal bahwa halal haramnya suatu produk adalah melalui keberadaan labelisasi halal yang saat ini masif diselenggarakan oleh Kementerian Agama melalui Badan Penjaminan Produk Halal (BPJPH).
Shifting Authority, Shaping Spirituality: A Qualitative Digital Survey of Religious Practices among the Indonesian Muslim Students Mohammad Muafi Himam; Ahmad Nadhif Abdul Mujib; Dina Dina; Muhaddibul Irfani
Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi) Vol 11, No 2 (2025): Jurnal SMaRT : Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18784/smart.v11i2.3125

Abstract

The digital transformation has reshaped how digital-native university students experience religious life. This study examines how Muslim students in Indonesia engage with, interpret, and negotiate their religious practices in digital spaces. Using a qualitative digital survey design with narrative prompts, data were collected between April 15 and May 1, 2025 through an online narrative-style questionnaire completed by 84 Muslim students from STAI Al-Anwar Sarang Rembang, an Islamic college rooted in the pesantren tradition. Thematic analysis was employed to identify key patterns in spiritual transformation, online community participation, and the dynamics of authority and affect in digital religiosity. Findings indicate that digital media not only facilitates access to Islamic knowledge but also structures new patterns of hybrid worship and emotional engagement. Students demonstrate reflective agency in filtering online religious content and building virtual connections with fellow Muslims across diverse regions, while also facing challenges such as authority confusion, polarized viewpoints, and religious anxiety triggered by online exposure. The study concludes that the digital realm functions as an alternative and complementary arena for religious life among students and underscores the urgent need for critical, inclusive, and context-sensitive religious digital literacy to guide spiritual development in an increasingly mediatized society.