p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Social Empirical
Aulia Nabila Sarweni
Universitas Negeri Padang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Makna Tradisi Seribu Rumah Gadang di Muaro Labuh Solok Selatan Adellia Mutiara Putri; Aulia Nabila Sarweni; Tasya Afridani; Fadilla Saputri; Delmira Syafrini
Social Empirical Vol. 2 No. 1 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i1.100

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Makna Tradisi Seribu Rumah Gadang di Muaro Labuh, Solok Selatan. Yang merupakan salah satu kekayaan budaya Minangkabau mempunyai nilai sejarah, sosial, dan juga filosofis yang sangat mendalam. Tradisi ini tidak hanya menampilkan Rumah Gadang sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai pusat kehidupan adat yang mencerminkan sistem sosial matrilineal dan kekerabatan suku Minangkabau. Dengan menggunakan Metode pendeketan Kualitatif Deskriptif Interpretatif. Penelitian ini menggali makna simbolik dan fungsi sosial budaya Rumah Gadang dalam kehidupan masyarakat Setempat. Data di kumpulkan melalui Observasi Partisipatif, Wawancara mendalam, dan studi Dokumentasi di kawasan Seribu Rumah Gadang, Jorong Koto Baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Seribu Rumah Gadang memiliki peran sentral dalam menjaga identitas budaya dan sistem sosial Minangkabau, sekaligus juga menjadi media pelestarian budaya melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Meskipun harus menghadapi tantangan modernisasi, upaya konservasi dan edukasi menjadi kunci keberlanjutan tradisi ini agar tetap relevan dan dapat di wariskan kepada generasi selanjutnya atau mendatang. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami bagaimana Makna Tradisi Seribu Rumah Gadang menjadi fondasi kuat dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat ikatan sosial dan ekonomi masyarakat lokal.
Transformasi Estetika dan Makna Ruang Publik: Studi Pantai Parkit Padang Pasca Banjir 2025 Ghina Asyifa Rahmadani; Aulia Nabila Sarweni; Avisenna Jemika; Aliya Rhamadani; Aulia Agustina W; Delmira Syafrini
Social Empirical Vol. 3 No. 1 (2026): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v3i1.556

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji transformasi estetika dan makna ruang publik Pantai Parkit Padang pasca bencana galodo (banjir bandang) yang terjadi pada November 2025. Penelitian ini penting dilakukan mengingat bencana tersebut menyebabkan perubahan morfologi pesisir yang ekstrem, termasuk terbentuknya pulau baru akibat sedimentasi dan mundurnya garis pantai, sehingga mendorong perubahan signifikan dalam cara masyarakat memandang, menggunakan, dan memaknai ruang publik tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe studi kasus yang dilaksanakan di Pantai Parkit, Kota Padang pada tahun 2026. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi, dengan uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan metode. Informan dipilih secara purposive sampling sebanyak enam orang, terdiri dari empat pengunjung, satu pelaku UMKM, dan satu masyarakat lokal. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banjir 2025 mengubah kondisi fisik, sosial, dan ekonomi kawasan secara bersamaan: kondisi kebersihan menurun akibat tumpukan kayu dan sampah plastik, namun terbentuknya pulau baru justru melahirkan daya tarik wisata baru yang meningkatkan keragaman pengunjung. Perubahan ini turut memengaruhi pola penggunaan ruang publik, memunculkan solidaritas sekaligus konflik pemanfaatan sumber daya, serta mendorong adaptasi ekonomi bagi pelaku UMKM. Yang menarik dari penelitian ini adalah bagaimana sebuah bencana alam secara paradoks tidak hanya merusak, tetapi juga menciptakan makna ruang publik baru yang berbasis fenomena geomorfologis unik di tengah masyarakat urban pesisir.