Valensius Ngardi
UIN Sunan Kalijaga, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Dialog Agama Dari Hati ke Hati: Mewujudkan Eksistensi Dialog Agama di Ruang Sosial Gratia Wing Artha; Valensius Ngardi
Jurnal Peradaban Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jy8sqw61

Abstract

Dialog antaragama antara Islam dan Kristen telah menjadi topik yang penting dalam kajian keagamaan kontemporer. Walaupun sejarah dialog ini begitu panjang, namun tetap menjadi relevan bagi studi di bidang kajian filsafat ilmu-ilmu keislaman saat ini.  Perspektif ahli praksis agama dapat melacak dan mengeksplorasi tentang pemahaman konsep-konsep ketuhanan dengan framing  tentang keesaan Allah (Tauhid). Analisis komparatif, diharapkan dapat menemukan titik-titik persamaan dan perbedaan yang memperkaya pemahaman kita tentang dialog teologis antara Islam dan Kristen yang mencerahkan. Kebaruan (Novelty), dalam tulisan ini adalah metode dan pendekatan (methods and approaches) cara berpikir  dari para ahli membawa pencerahan dalam dialog teologis sehingga  menjadi oase kesejukan dan keteduhan dalam pemahaman agama dan keagamaan  masing-masing di bagian akhir dari makalah ini. Pendekatan normatif religius didukung oleh literatur serta hasil temuan dari pandangan para tokoh agama semakin mencerahkan dalam pengembangan tulisan ini, sehingga  memberikan kontribusi (contribution to knowledge) bagi pengembangan dialog yang harmonis di tengah masyarakat multikultural  dan kontemporer di abad 21 ini. Tulisan ini didukung oleh ungkapan keprihatinan  Charles J. Adams yang berhubungan dengan metodologi dan pendekatan yang digunakan dalam studi Islam, khususnya mencatat kegagalan sejarawan agama untuk memperluas pemahaman tentang Islam sebagai sebuah agama dan secara tepat menjelaskan fenomena religiusitas Islam serta konsep teori dialog teologis dari Ibrahim Kalin dan Daniel A.Madigan, membawa pencerahan ketika perbedaan teologis menjadi kekayaan dalam hidup beragama.
Membuka Toleransi Beragam Dalam Merajut Harmoni Sosial : Belajar Memanusiakan-Manusia Melalui Toleransi Valensius Ngardi; Gratia Wing Artha
Jurnal Peradaban Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/46yeag07

Abstract

On the other hand, others are already striving to implement the values ​​inherent in us as citizens of Indonesian culture, such as egalitarianism, tolerance, and humanism, with interfaith dialogue that should adorn our daily lives with others. Furthermore, there is another view that the governance of religious diversity under the auspices of Pancasila and the 1945 Constitution does not guarantee the humane and wise recognition of religious rights regarding one's beliefs in the public sphere. Minority rights are often ignored due to the influence of various interests in identity politics, power relations, and hegemonic leadership. Each citizen still understands tolerance as merely discourse and an idea. In dialogue spaces, the implementation of a culture of tolerance becomes a heated discussion, although in certain areas, people can still coexist within the framework of differing beliefs. Identity politics is increasingly strengthened when relations between religious communities are fraught with group mapping based on identity, race, ethnicity, and religion. This simple article is merely a reflection aimed at presenting harmony of tolerance as a social control to prevent ripples of intolerance issues in Indonesia as the author's reflection on cases that touch on religion through various approaches. Three approaches: Power, Rights, & Interests, according to Samsu Rizal Panggabean, are a strong foundation in finding a space for togetherness and religious differences in Indonesia. For the case in this article, the author takes a power approach. This is also supported by Bhiku Parekh on the theory of religious tolerance in the context of multiculturalism. In addition, in the study of religious phenomenology, it is supported by Jacques Waardenburg's view of three urgent needs in studying Muslim-Christian relations as a fundamental framework by unraveling the problems of religious conflict that occur in Indonesian society today.
Menjadi Perempuan dalam Jaringan Gerakan Radikal : Sebuah Pengalaman Tentang Konstruksi Sosial, Agensi dan Paradigma Eksistensial vs Komunal Valensius Ngardi; Gratia Wing Artha
Jurnal Peradaban Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/axeqf949

Abstract

Artikel ini, bertujuan untuk menjelaskan status peran perempuan dalam aktivitas ekstremisme dan partisipasinya dalam aksi kekerasan dan gerakan jaringan radikal. Di beberapa masyarakat, peran perempuan tidak terlalu terlihat di ruang publik. Identitas mereka sering diabaikan. Begitu kuatnya relasi kekuasaan membuat peran mereka dalam masyarakat berbeda-beda. Ketika dominasi laki-laki kuat, maka peran perempuan dalam masyarakat berubah di banyak bidang  aspek kehidupan. Masyarakat yang mengkonstruksi perempuan menciptakan sterotip ganda. Pertama, perempuan lemah dan tidak berdaya. Jadi ada kekuatan penyeimbangnya yaitu laki-laki. Kedua, di beberapa lapisan masyarakat, perempuan termasuk dalam kelas sosial bawah (working class atau lower class), sedangkan laki-laki termasuk dalam kelas atas (upper class atau  elite class). Ketika perempuan pemberani dan heroik muncul di ruang publik, definisi-definisi yang sudah mapan pun hilang dari kontruksi sosial. Mereka berani melawan ketidakadilan dalam masyarakat dan  mereka bisa mandiri baik untuk keluarga maupun untuk dirinya. Peran mereka tidak hanya sekedar sebagai institusi sosial, tetapi mereka berperan penting dalam  perubahan sosial yang terjadi. Ketika perempuan melakukan aktivitas ekstrem dalam jaringan radikal, maka masyarakat semakin melihat sisi gelap yang tidak pernah berhenti, terutama di dunia komunitas Muslim. Aktivitas jihad dan penanaman ideologi kekerasan telah menjadi fobia bagi masyarakat. Berbagai permasalahan terkait hal ini menjadi topik diskusi yang menarik di lembaga akademisi dan  lembaga penelitian  tentang fenomena a radikalisme dalam agama Islam. Tulisan ini, sebagian besar dari berbagai literatur pustaka didukung oleh temuan dari hasil  wawancara beberapa perempuan sebagai sumber primer melaluli media WhatsApp. Menganalisis cara pandang para perempuan menanggapi masalah ini, dapat  dilihat pada bagian pembahasan akhir di artikel ini.