Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Kandungan Protein dan Serat pada Bakso Ayam Fortifikasi Tepung dan Ekstrak Edamame (Glycine max (L) Merrill) Nadhifah Al Indis
Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian Agrotechno Vol. 10 No. 1 (2025): April
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana Gedung GA, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana Jl. Raya Bukit Jimbaran, Jimbaran, Kuta Selatan, Bali Telp/Fax: (0361) 701801

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JITPA/2025.v10.i01.p04

Abstract

Edamame (Glycine max (L) Merrill) is a vegetable green bean widely cultivated in Jember Regency, and is an export commodity. Edamame has a high protein content of 30-40%, fat 20%, carbohydrates 33%, and fiber 6%. Edamame is also rich in vitamins and minerals. However, the utilization of edamame in Indonesia is still limited to snacks and boiled green beans. This research aims to utilize edamame reject export sold at a low price to be processed into flour and protein extract. This flour and protein extract are used as food additives to increase the protein and fiber content of chicken meatballs. The experimental design was designed using a CRD consisting of 5 treatments and 2 repetitions. Treatments are distinguished based on the percentage of protein extract and edamame flour addition. The method used for protein extraction is MAE, sensory analysis with hedonic test, protein analysis with Kjeldahl, crude fiber analysis with Chesson Datta, and statistical analysis with one way ANOVA followed by DMRT (?=0.05). Based on the research conducted, the highest protein content of 19.330% and crude fiber of 5.955% were obtained from treatment BA.01 (15% edamame flour and 0% tapioca), but this variation was less favored by the panelists. The best treatment was obtained from BA.03 (5% edamame flour and 10% tapioca) with a protein content of 15.196% and crude fiber of 4.245%, and it was favored by the panelists (average score for taste parameter is 3.48; aroma 3.59; color 3.37; texture 3.41, and overall preference 3.59).
Penentuan Waktu Maserasi Optimum pada Proses Esktrasksi Jamu Kunyit Putih: Determination of Optimum Maceration Time in The Extraction Process Of Herbal White Turmeric Nadhifah Al Indis; Fredy Kurniawan
Jurnal Teknik Pertanian Terapan Vol. 1 No. 2 (2024): Februari
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jtpt.v1i2.4703

Abstract

Kunyit putih adalah salah satu tumbuhan herbal yang dapat tumbuh di dataran tropis, seperti Indonesia. Kunyit putih ada 2 jenis yaitu Curcuma mangga dan Curcuma Zedoaria. Penelitian mengambil objek Curcuma mangga untuk diteliti, karena Curcuma mangga memiliki aroma yang khas sepeti buah mangga dan cocok untuk dijadikan sebagai minuman herbal fungsional (jamu). Di dalam rimpang Curcuma magga, terdapat zat aktif golongan terpenoid, fenolik, kurmuninoid, dan aromatik. Oleh karena itu jamu Curcuma mangga dapat dimanfaatkan sebagai sumber antioksidan alami. Sebelum melangkah ke analisis aktivitas antioksdian, terlebih dahulu diuji waktu maserasi optimum dari ekstrak Curcuma mangga. Proses maserasi divariasikan mulai dari jam ke-1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 12, 24, 48, hingga jam ke-72. Filtrat yang diperoleh ditampung dan dianalisis absorbansinya menggunakan spektrofotometer UV-Vis, dan diperoleh waktu yang optimum adalah jam ke-6 (maserasi selama 6 jam).
Penerapan Sistem Kontrol Suhu dan Kelembapan Udara pada Mini Greenhouse dengan Sensor Modul DHT 11: Implementation of Temperature and Humidity Control System in Mini Greenhouse with DHT 11 Module Sensor Nadhifah Al Indis; Adhima Adhamatika; Aldy Bahaduri Indraloka; Karina Meidayanti
Jurnal Teknik Pertanian Terapan Vol. 2 No. 2 (2025): Februari
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jtpt.v2i2.5944

Abstract

Greenhouse merupakan rangkaian ruang yang mengkondisikan keadaan di suatu tempat sesuai dengan keadaan alam terkontrol yang diinginkan untuk mengembangkan tumbuhan dan mesterilkan dari keadaan tidak stabil. Sensor DHT 11 merupakan sensor yang dapat diinstalasikan pada mini greenhouse untuk mendukung smart farming yang lebih terkontrol khususnya untuk parameter suhu dan kelembapan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengembangkan mini greenhouse dengan sistem control suhu dan kelembapan udara dengan Sensor Modul DHT 11. Manfaat yang diperoleh dari pembuatan greenhouse pengendalian suhu dan kelembaban pada greenhouse yaitu diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan untuk perbanyakan bibit tanaman yang diinginkan. Hasil dari pengujian didapatkan tingkat error dan akurasi sensor suhu dan kelembapan udara DHT 11 beragam. Sensor suhu memiliki rerata error sebesar 0,023 atau 2,3% dengan tingkat rerata akurasi sebesar 97,73%. Sensor kelembapan udara memiliki rerata error sebesar 0,17 atau setara dengan 17% dan rerata akurasi sebesar 87,73%. Ada beberapa factor yang mempengaruhi error dan akurasi dari pembacaan sensor untuk mini greenhouse meliputi kondisi sensor, kondisi lingkungan yaitu adanya panas, sirkulasi udara berupa angin, dan pelindung pada sensor.