Nikmatullah
Universitas Islam Negeri Mataram

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Content Analysis on Tiktok Account @dr.intanrachmita as Women's Education Media in Dealing with Verbal and Non-Verbal Aggressiveness Fathurrahman Rahman; Nikmatullah; Dahlia Hidayati
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 7 No. 3 (2025): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v7i3.2710

Abstract

Pada era digital saat ini, media sosial menjadi salah satu platform utama bagi individu untuk mengakses informasi dan edukasi di berbagai bidang, termasuk  tentang kekerasan yang terjadi pada perempuan. TikTok sebagai salah satu platform media sosial terpopuler memiliki jangkauan yang luas dan mampu menarik perhatian jutaan pengguna dari berbagai kalangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi yang digunakan oleh dr. Intan Rachmita dalam akun TikTok-nya @dr.intanrachmita dalam memberikan edukasi mengenai bagiamana perempuan tidak boleh untuk menormalisasikan sikap agresif verbal kekerasan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis konten.Analisis isi konten digunakan untuk memahami bagaimana konten media disusun dan disampaikan sehingga dapat memberikan dampak positif bagi pengikut. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis isi konten danpenelitian kepustakaan dimana peneliti mengumpulkan data dengan cara mencari, membaca dan mengumpulkan tulisan, artikel, dokumen online dan informasi lainnya tentang @dr.intanrachmita, guna melengkapi penelitian yang peneliti lakukan. Hasil penelitian tersebut adalah TikTok memiliki potensi besar sebagai platform edukasitentang bagiaman perempuan memposisikan dirinya dihadapan laki-laki. Format video pendek pada aplikasiTikTok memungkinkan informasi tersampaikan secara cepat dan mudah dipahami. Pada postingan tiktok @dr.intanrachmita memanfaatkan fitur ini dengan baik, menghadirkan konten informatif yang menarik perhatianpenonton merupakan sebuah strategi yang digunakan dalam menyampaikan edukasi. Kecepatan dan fleksibilitas dalam menyampaikan informasi menjadi salah satu keunggulan utama TikTok dibandingkan media tradisional. dr. Intan Rachmita melalui akun @dr.intanrachmita menggunakan berbagai strategi komunikasi efektif untukmenjangkau dan menyampaikan pesan edukasi kepada para pengikut Tiktok.
Contesting the Meaning of Jihad Hadith: Text, Religious Discourse, and Social Practice in Contemporary Indonesian Islam Atiyatul Ulya; Nikmatullah; Istianah; Syarifudin
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 25 No. 1 (2026)
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/refleksi.v25.i1.53163

Abstract

Jihad is frequently reduced in digital public discourse to military action and religious violence, thereby contributing to Islamophobia and social instability, even though the hadith corpus associates jihad with diverse forms of ethical, spiritual, social, political, and defensive struggle. Previous studies have extensively examined the theological meanings of jihad and its appropriation by extremist movements; however, limited attention has been given to how the authority of jihad hadiths is discursively produced, reproduced, and contested within contemporary digital social practices. This study analyzes the discursive construction of jihad hadiths in Indonesia using Norman Fairclough’s three-dimensional Critical Discourse Analysis (CDA) framework, encompassing text, discursive practice, and social practice, based on data drawn from online media. The findings demonstrate that the meaning of jihad hadiths is not static but constitutes a dynamic arena of discursive contestation. Mainstream civic Muslim actors, particularly Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah, recontextualize jihad narratives to legitimize humanitarian action, social transformation, constitutional advocacy, and peace, whereas militant-jihadist actors selectively reproduce the same religious repertoire to legitimize violence and armed struggle. The study further demonstrates that the authority of hadith in the contemporary digital public sphere is shaped not solely by classical evaluations of transmission (sanad), but also by processes of textual selection, intertextuality, institutional appropriation, circulation, and relations of power. Theoretically, this article contributes to contemporary hadith studies by positioning interpretation as an arena of contestation over religious authority and legitimate social action, thereby bringing hadith studies into closer dialogue with critical discourse analysis.