Veni Nurpadillah
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengembangan Kamus Umum Bahasa Cirebon (Dwibahasa Cirebon-Indonesia): Sebuah Sarana Belajar Bahasa Daerah Itaristanti Itaristanti; Veni Nurpadillah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.40352

Abstract

Dalam proses pembelajaran bahasa Cirebon, tentunya diperlukan sebuah kamus. Namun, ketersediaan kamus bahasa Cirebon sangat terbatas jumlahnya. Begitu pula dengan akses peminjamannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kamus bahasa Cirebon tersebut. Tahap pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik pengumpulan data secara lisan dan secara tertulis. Pengumpulan data secara lisan menggunakan instrumen kosakata dasar swadesh. Sementara itu, pengumpulan data secara tertulis menggunakan data dari korpus tertulis. Data ini diambil menggunakan instrumen AntConc. Tahap analisis data adalah mengentri lema. Lema dientri dengan menentukan kelas kata, memberikan contoh frasa ataupun kalimat, baik dalam bahasa sumber maupun dalam bahasa sasarannya. Pengentrian tersebut menggunakan Microsoft Excel. Data kemudian diolah dan dikonversi ke dalam aplikasi Lexique Pro memakai aplikasi SheetSwiper. Aplikasi ini berfungsi untuk mengonversi lembar kerja (spreadsheet) berisi data linguistik ke dalam format standar. Pada tahap pengembangan, teknik pengumpulan data yang terkait dengan validasi produk awal adalah angket. Instrumen uji kelayakan yang berupa angket yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada Instrumen C: Penilaian Buku Referensi untuk Ensiklopedi, Kamus, dan Atlas yang disusun oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Nasional. Instrumen tersebut meliputi penilaian terhadap materi/isi kamus, penyajian kamus, bahasa yang digunakan dalam kamus, dan unsur grafika dalam kamus. Hasil uji kelayakan materi/isi, penyajian, dan bahasa memperoleh total skor 324, sedangkan kelayakan kegrafikaan memperoleh skor 39. Kamus ini dinyatakan ahli layak digunakan sebagai buku pengayaan pengetahuan. Adapun jenjang penggunanya adalah SD/MI kelas pemula dan kelas lanjut, SMP/MTs, SMA/MA/SMK/MAK, serta umum/perguruan tinggi. In the process of learning the Cirebon language, of course, a dictionary is needed. However, the availability of Cirebon language dictionaries is very limited. Likewise with access to borrowing. This study aims to develop the Cirebon language dictionary. The data was carried out using oral and written data collection techniques. Oral data collection using swadesh basic vocabulary instrument. Meanwhile, the written data collection used data from the written corpus. This data was collected using the AntConc instrument. The data analysis stage was lexeme entry. Lema was entered by determining the word class, giving examples of phrases or sentences, both in the source language and in the target language. The entry was done using Microsoft Excel. The data was then processed and converted into the Lexique Pro application using the SheetSwiper application. This application serves to convert collection stage spreadsheets containing linguistic data into a standard format. At the development stage, the data collection technique related to the validation of the initial product was a questionnaire. The feasibility test instrument in the form of a questionnaire used in this study is based on Instrument C: Assessment of Reference Books for Encyclopedias, Dictionaries, and Atlases prepared by the Center for Curriculum and Bookkeeping, Research and Development Agency, Ministry of National Education. The instrument includes an assessment of the material/content of the dictionary, the presentation of the dictionary, the language used in the dictionary, and the graphical elements in the dictionary. The results of the feasibility test of material/content, presentation, and language obtained a total score of 324, while the feasibilitysuitable for of graphics obtained a score of 39. This is dictionary declared by experts to be use as a knowledge enrichment book. The levels of users are elementary/MI beginner classes and advanced classes, junior high school/MTs, high school/MA/SMK/MAK, and general/college.
KAJIAN SEMANTIK PADA FENOMENA PLEONASME DALAM ESAI MAHASISWA BERBANTUKAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE Veni Nurpadillah; Emah Khuzaemah; Tommi Yuniawan; Arief Darmawan
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 21 No 2 (2025)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/sckc0957

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis gejala pleonasme dalam esai mahasiswa yang disusun dengan bantuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dari sudut pandang semantik. Pleonasme dimaknai sebagai penggunaan unsur bahasa berlebih yang mengakibatkan pemborosan makna dan ketidakefisienan dalam komunikasi akademik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan data berupa potongan kata, frasa, klausa, dan kalimat dari esai mahasiswa yang terbukti mengandung kesalahan semantik. Data dikumpulkan dari mahasiswa di tiga perguruan tinggi wilayah Ciayumajakuning, yaitu UIN Siber Syekh Nurjati, Universitas Kuningan, dan Universitas Darul Ma’arif yang memanfaatkan aplikasi AI seperti ChatGPT, Samwell.ai, dan ShortlyAI dalam penulisan tugasnya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode simak bebas libat cakap (SBLC) dan catat, sedangkan analisis dilakukan menggunakan metode agih (Teknik Bagi Unsur Langsung) dan metode padan referensial (teknik Pilah Unsur Penentu). Hasil analisis terhadap 37 data menunjukkan berbagai bentuk pleonasme, seperti pengulangan frasa, penggunaan klitik atau unsur gramatikal yang tidak diperlukan, serta pengulangan makna dalam satu struktur kalimat. Ditemukan bahwa mahasiswa cenderung menerima hasil AI secara mentah tanpa revisi kritis terhadap aspek makna. Selain itu, AI juga belum sepenuhnya mampu menghasilkan teks yang hemat secara semantik akibat bias pada data pelatihannya. Penelitian ini merekomendasikan integrasi literasi semantik dalam pembelajaran akademik berbasis teknologi dan pengembangan fitur AI yang lebih efisien secara semantik. Temuan ini mendukung pentingnya kebijakan akademik yang mengarahkan penggunaan AI secara etis dan reflektif. KATA KUNCI:  Kecerdasan Buatan; Pleonasme; Semantik   A SEMANTIC STUDY OF THE PLEONASM PHENOMENON IN STUDENT ESSAYS BASED ON ARTIFICIAL INTELLIGENCE   ABSTRACT: This study aims to identify and analyze pleonasm phenomena in student essays written with the assistance of Artificial Intelligence (AI) from a semantic perspective. Pleonasm is defined as the excessive use of linguistic elements that results in semantic redundancy and inefficiency in academic communication. The research employs a qualitative descriptive method with data consisting of segments of words, phrases, clauses, and sentences from student essays found to contain semantic errors. Data were collected from students at three universities in the Ciayumajakuning region: UIN Siber Syekh Nurjati, Universitas Kuningan, and Universitas Darul Ma’arif, all of whom used AI applications such as ChatGPT, Samwell.ai, and ShortlyAI in their writing tasks. Data collection techniques included non-participatory observation and note-taking, while analysis was conducted using the distributional method (Immediate Constituent technique) and the translational identity method (Determining Element Sorting technique). Analysis of 37 data samples revealed various forms of pleonasm, such as phrase repetition, unnecessary use of clitics or grammatical elements, and semantic redundancy within sentence structures. The findings show that students tend to accept AI-generated texts uncritically, without revising them for semantic clarity. Moreover, AI has not yet demonstrated the ability to produce semantically economical texts, partly due to biases in its training data. This study recommends integrating semantic literacy into technology-based academic instruction and developing AI features that promote greater semantic efficiency. These findings also support the need for academic policies that guide the ethical and reflective use of AI in higher education. KEYWORDS: Artificial Intelligence; Pleonasm; Semantics Diterima: 4 Juni 2025 Direvisi: - Disetujui: 2 Agustus 2025 Dipublikasi: 30 Oktober 2025 Pustaka  : Nurpadillah, V., Khuzaemah, E., Yuniawan, T., & Darmawan, A. (2025). Kajian Semantik Pada Fenomena Pleonasme Dalam Esai Mahasiswa Berbantukan Artificial Intelligence. Jurnal Fon Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 21(2) 312-331.  Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.