Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Family Experiences in Caring for a Stroke Patient with Decubitus Ulcer at Home Nur Chayati; Rahmadani, Wahyudi
Public Health of Indonesia Vol. 10 No. 2 (2024): April - June
Publisher : YCAB Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36685/phi.v10i2.790

Abstract

Background: The role of the family in caring for stroke patients with decubitus ulcers requires them to assist in meeting daily needs such as nutrition, elimination, personal hygiene, and mobilization. While caring for a stroke patient with decubitus ulcers, the family experiences significant burdens that also impact the family's physical, social, and psychological, activities, and financial conditions. Objective: To gain a deep understanding of the family's experience in caring for a stroke patient with decubitus ulcers at home. Methods: This research uses a qualitative design with a phenomenological study approach. The selection of participants using a purposive sampling technique. The number of participants in this study was 8 people with family criteria who had a family member of stroke with decubitus ulcer and were treated at home. The data in this study were collected through semi-structured interviews, audio recorders, and field note. The data analysis test used is the Collaizi method. Results: The research analysis found three themes, namely Theme 1: Physical, psychological, social, and financial barriers experienced by caregivers while caring for stroke patients with decubitus ulcers. Theme 2: The role of family caregivers in helping basic needs: eating and drinking, personal hygiene, elimination, mobilization. Theme 3: The type of treatment chosen by the caregiver based on the family's financial condition. Conclusion: Family experience in caring for stroke patients who experience decubitus ulcers has a role in helping to meet the basic needs of patients, some obstacles are also experienced by families such as physical, psychological, and financial. This obstacle also affects families in choosing the type of treatment given to patients.
The Effect of Emotional Freedom Technique (Eft) Therapy on Anxiety Levels In Pre Mothers Sectio Caesarea At Bpm Bengkulu City Agustina, Fatma; Elly, Nur; Dahrizal, Dahrizal; Asmawati, Asmawati; Husni, Husni; Yovalwan, Tahratul; Rahmadani, Wahyudi
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 9, No 2 (2024): September
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30604/jika.v9i2.2820

Abstract

Background: Anxiety in mothers before giving birth reaches 18-70% from 5.263.057 which can have an impact on delaying surgery, increasing hospitalization days, and can cause postpartum depression.  Objective: The purpose of this study was to determine the effect of emotional freedom technique (EFT) therapy on the level of anxiety in pre-sectio caesarea mothers at BPM Bengkulu City. Method: The research design used was a quasi-experiment design with a pretest-posttest design with a control group. The study sample was pregnant women aged ?35 weeks with indications of SC (displacement, fetal/pelvic disproportion, previous SC history, twins). The number of samples in this study was 34 respondents (17 respondents in each group). The sampling technique used in this research is total sampling. The instrument used is the Anxiety Assessment Scale Pregnant for women in Labour (AASPWL). Data analysis was performed using the Wilcoxon test and the Mann-Whitney test with a confidence value of 0.05. Result: The results showed that after being given the EFT intervention there was a difference in the level of anxiety scores in sectio caesarea mothers with a mean difference of around 3.24 (p-value 0.000). Conclusion: The EFT intervention is a benefit for lower anxiety in mothers before delivery by SC.
GAMBARAN PASIEN PALIATIF DENGAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOTA BENGKULU Tahratul Yovalwan, Wahyudi Rahmadani,
JURNAL AKADEMI KEPERAWATAN HUSADA KARYA JAYA Vol 11 No 2 (2025): JAKHKJ September 2025
Publisher : Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59374/jakhkj.v11i2.520

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi adalah penyakit tidak menular yang menempati peringkat utama penyebab kematian di seluruh dunia dan secara signifikan meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, diabetes, dan penyakit ginjal. Hipertensi sering disebut "pembunuh diam-diam", dikarenakan penderita penyakit ini biasanya tidak menunjukkan gejala, oleh sebab itu banyak pasien tidak menyadari kondisi mereka sampai komplikasi muncul. Seiring dengan perkembangan penyakit dan penurunan fungsi organ tubuh, sebagian lansia dengan hipertensi kronis dapat masuk dalam kategori pasien yang memerlukan perawatan paliatif. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan kejadian hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Kota Bengkulu. Metodologi Penelitian: Desain penelitian ini adalah deskriptif pada pasien hipertensi sebanyak 15 orang di wilayah kerja Puskesmas Kota Bengkulu. Penderita hipertensi pada penelitian ini memiliki usia ≥ 60 tahun. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan rata-rata usia penderita hipertensi adalah 63,13 tahun, status pendidikan: pendidikan sekolah dasar sebanyak 46,7% (7 orang), sekolah menengah pratama sebanyak 33,3% (5 orang), sekolah menengah atas sebanyak 6,7 % (1 orang), dan perguruan tinggi sebanyak 13,3% (2 orang). Mayoritas pekerjaan responden merupakan ibu rumah tangga, dengan persentase sebesar 53,3% (8 orang). Rata-rata tekanan darah penderita hipertensi adalah 159,80/94,73 mmHg Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa rata-rata usia penderita hipertensi dalam studi ini adalah 63,13 tahun, yang menunjukkan bahwa hipertensi umumnya dialami oleh kelompok usia lanjut. Mayoritas responden memiliki tingkat pendidikan sekolah dasar (46,7%), diikuti oleh sekolah menengah pertama (33,3%), perguruan tinggi (13,3%), dan sekolah menengah atas (6,7%). Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar penderita hipertensi memiliki tingkat pendidikan yang relatif rendah. Selain itu, rerata tekanan darah responden tercatat sebesar 159,80/94,73 mmHg, yang termasuk dalam kategori hipertensi derajat 1, menandakan bahwa kondisi tekanan darah mereka memerlukan pemantauan dan intervensi yang tepat. Kata Kunci: lansia, hipertensi, paliatif
Massage in prevention of decubitus ulcers in bedrest patiens: A literature review Wahyudi Rahmadani; Nur Chayati
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 8, No 2: June 2023
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.958 KB) | DOI: 10.30604/jika.v8i2.1989

Abstract

Background: Decubitus ulcers occur due to prolonged pressure and friction on the skin, especially in the bone protrusion area which causes decreased blood circulation then the local tissue is ischemic, hypoxic, and develops into necrosis causing decubitus ulcers. The most effective nursing interventions to prevent decubitus ulcers is massage. Objective: This literature review aims to find out the type of massage in the prevention of decubitus ulcers in bedrest patients. Method: The research method uses PRISMA with a systematic approach and selection process. Library sources are searched from Scopus, ProQuest, Pubmed, Scient Direct, Ebsco, and Google Scholar databases. Result: Based on the analysis through literature review, determined that the most widely used research is quasi-experimental design, the most widely used type of massage is effluerage, the risk of decubitus ulcers most more than 40 years of age with 115 respondents (95%), the percentage of patients was 71 female (54.7%) and 59 men (45.3%). Conclusion: The conclusion of the most widely used type of massage is effleurage, duration of giving massage varies between 3-5 minutes, given twice a day using virgin coconut oil at 5 ml. Demographic factors associated with the risk of decubitus ulcers are age, body mass index (BMI), and bedrest patients. Abstrak: Latar Belakang: Luka dekubitus terjadi karena penekanan dan gesekan secara terus menerus pada kulit yang berkepanjangan, terkhusus pada daerah penonjolan tulang yang menyebabkan menurunnya sirkulasi darah pada area yang tertekan, kemudian jaringan setempat mengalami iskemik, hipoksia, dan berkembang menjadi nekrosis sehingga mengakibatkan luka dekubitus. Salah satu intevensi keperawatan yang efektif dalam pencegahan luka dekubitus adalah dengan massage. Tujuan: Literature review ini bertujuan untuk mengetahui jenis massage dalam pencegahan luka dekubitus pada pasien bedrest. Metode : Metode penelitian menggunakan PRISMA dengan pendekatan dan proses seleksi yang sistematis. Sumber pustaka ditelusur dari database Scopus, ProQuest, Pubmed, Scient Direct, Ebsco, dan Google Scholar. Hasil: Berdasarkan analisis melalui literature review didapatkan hasil bahwa desain penelitian paling banyak digunakan yaitu quasi experimental, jenis massage paling banyak digunakan yaitu effluerage, risiko terjadinya luka dekubitus paling banyak pada usia lebih dari 40 tahun sebanyak 115 orang (95%), persentase jumlah pasien perempuan sebanyak 71 orang (54,7%) dan laki-laki sebanyak 59 orang (45,3%). Kesimpulan: Kesimpulan tipe massage paling banyak digunakan yaitu effleurage, durasi pemberian selama 3-5 menit sebanyak dua kali sehari dikombinasikan dengan virgin coconut oil sebanyak 5 ml. Faktor demografi yang berhubungan dengan risiko terjadinya luka dekubitus adalah usia, indeks massa tubuh (IMT) dan pasien yang bedrest.
Effect of Puerperal Exercises and Auricular Acupressure on Uterine Involution Rahmadini, Fhadilah; Elly, Nur; Buston, Erni; Yovalwan, Tahratul; Rahmadani, Wahyudi
Poltekita: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 18 No. 1 (2024)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jik.v18i1.2810

Abstract

The process of uterine involution in postpartum mothers does not always proceed smoothly, potentially leading to subinvolution of the uterus and postpartum hemorrhage. This study aims to determine the influence of puerperal exercises and auricular acupressure on uterine involution in postpartum mothers. The research utilized a quasi-experimental design with a post-test only control group. The study was conducted in Bengkulu City. The sample consisted of 40 postpartum mothers, divided into 20 respondents in the intervention group receiving a combination of puerperal exercises and auricular acupressure, and 20 respondents in the control group receiving only puerperal exercises. Sampling technique was done through purposive sampling. The instruments used were a measuring tape and a questionnaire. Data analysis employed independent T-test. The results indicate a decrease in the height of the uterine fundus in both intervention and control groups, but the decrease in uterine involution was more significant in the intervention group (p=0.000). The study concludes that there is an influence of the combination of puerperal exercises and auricular acupressure on reducing uterine involution in postpartum mothers.
Upaya Peningkatan Pengetahuan Tentang Penyakit Degeneratif Diabetes Melitus Melalui Edukasi Gerakan Remaja Sadar (Germas DM) Diabetes Melitus Yovalwan, Tahratul; Rahmadani, Wahyudi; Delfina, Rina; Utama, Tuti Anggriani; Firstania, Aurellia; Sari, Dwi Puspita
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 3 No. 12 (2026): Februari
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v3i12.3953

Abstract

Penyakit degenerative, terutama diabetes melitus (DM), adalah masalah kesehatan yang semakin meningkat yang memengaruhi kualitas hidup orang. Remaja, kelompok usia produktif, dapat membantu mencegah kematian dini dengan menerapkan gaya hidup sehat. Di Panti Asuhan Bumi Nusantara Kota Bengkulu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran remaja tentang pencegahan diabetes melitus. Mereka dididik tentang gerakan remaja sadar diabetes melitus, juga dikenal sebagai DM. Terdapat tiga tahap dalam metode pelaksanaan: persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pendidikan diberikan melalui presentasi interaktif, diskusi kelompok kecil, dan kampanye sadar diabetes melalui poster. Untuk mengukur peningkatan pengetahuan remaja, evaluasi dilakukan dengan menggunakan pre-test dan post-test. Hasil menunjukkan bahwa nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 55,2 untuk kategori kurang menjadi 86,66 untuk kategori baik, dengan selisih 31,46 poin. Hal ini menunjukkan bahwa gerakan remaja sadar diabetes dapat membantu remaja memahami faktor risiko, efek, dan pencegahan diabetes. Program ini harus dilanjutkan dan dikembangkan dengan sasaran yang lebih luas untuk mencegah penyakit degeneratif pada usia dini.
Upaya Pencegahan Penyakit Paliatif dengan Hipertensi pada Remaja Melalui Edukasi Cerdik di Panti Asuhan Bumi Nusantara Kota Bengkulu Rahmadani, Wahyudi; Yovalwan, Tahratul
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 3 No. 12 (2026): Februari
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v3i12.3992

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah secara persisten di atas 140/90 mmHg dan menjadi salah satu penyebab utama kematian dini di dunia karena berisiko menimbulkan komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, dan gangguan ginjal, sehingga sering disebut sebagai silent killer karena umumnya tidak menimbulkan gejala hingga terjadi komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk peningkatan pengetahuan remaja di Panti Asuhan Bumi Nusantara tentang pengertian, penyebab, tanda dan gejala, klasifikasi, dan tindakan pencegahan hipertensi. Metode yang digunakan adalah deskripstif-partisipatif dalam kerangka pengabdian  kepada  masyarakat,  dengan teknik   pengumpulan  data   berupa   observasi, kuesioner pre-test dan post-test, wawancara singkat, serta dokumentasi kegiatan. Kegiatan dilaksanakan dalam tiga sesi utama, pertama pre-test untuk menilai pengetahuan remaja, kedua pemaparan materi dan diskusi tanya jawab, dan ketiga post-test dilakukan untuk menilai pengetahuan setelah diberikan materi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan  pada  pengetahuan  peserta  mengenai pencegahan penyakit paliatif dengan hipertensi yang sebelumnya rata-rata pengetahuan sebesar 40,83 meningkat menjadi 87,20 dengan peningkatan sebesar 46,37. Berdasarkan hasil penelitian ini menegasakan bahwa edukasi cerdik dalam upaya mencegah penyakit pencegahan penyakit paliatif dengan hipertensi terbukti efektif.