Perundungan (bullying) di jenjang sekolah dasar perlu dilakukan pencegahan kerap tidak dikenali oleh siswa sendiri karena tumpang tindih dengan kategori “candaan”. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses rekonstruksi pemahaman dan sikap siswa kelas V terhadap bullying melalui edukasi partisipatif yang diselenggarakan di SDN 1 Trucuk, Kabupaten Klaten, pada 15 Juli 2026. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap 21 siswa kelas V dan 11 mahasiswa fasilitator, dianalisis secara tematik.Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, sebelum edukasi, sebagian besar siswa memaknai ejekan, julukan merendahkan, dan pengucilan sebagai “candaan” yang wajar, dan hanya mengenali kekerasan fisik sebagai bullying. Kedua, pergeseran pemahaman terjadi melalui tiga mekanisme partisipatif yang saling melengkapi, yaitu media audio-visual, lagu edukatif, dan sesi diskusi/berbagi pengalaman, yang secara bersama-sama memindahkan pengetahuan dari tataran kognitif menuju penghayatan afektif. Ketiga, pergeseran ini termanifestasi dalam perubahan sikap dari posisi bystander pasif menjadi upstander yang aktif menegur atau melaporkan tindakan bullying kepada guru. Temuan ini memperkuat kerangka teoretis bullying sebagai fenomena relasional kelompok, sekaligus menggarisbawahi bahwa keberlanjutan program menjadi prasyarat penting agar perubahan sikap tidak berhenti pada kesadaran jangka pendek.