Titin Sulastri
Program Studi Biologi, Universitas Advent Indonesia, Bandung, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Formulasi dan Evaluasi Sediaan Lotion dari Ekstrak Etanol Akar Jombang (Taraxacum officinale) Claudia Pandiangan; Marvel Reuben Suwitono; Titin Sulastri
Tinctura Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Farmasi Tinctura
Publisher : Program Studi S1 Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35316/tinctura.v7i1.8248

Abstract

Kosmetik berbahan alami semakin diminati karena keamanannya dan dampak positifnya bagi lingkungan. Dandelion (Taraxacum officinale) mengandung flavonoid, vitamin C, dan senyawa fenolik yang berfungsi sebagai antioksidan melindungi kulit dari radikal bebas, dan mencegah terjadinya penuaan dini. Penelitian ini memiliki tujuan untuk memformulasi losion dengan ekstrak etanol akar dandelion serta mengevaluasi karakteristik fisikokimianya. Ekstrak dihasilkan dari proses maserasi menggunakan etanol 96% yang kemudian diformulasikan ke dalam tiga jenis minyak. Uji meliputi homogenitas, daya sebar, daya lekat, pH, viskositas, dan uji hedonik. Semua formula homogen dengan daya sebar 3,06–3,57 cm, daya lekat 11,3–21,3 detik, viskositas 2,32–2,77 mPa.s, dan pH 8,33–8,67, sedikit di atas syarat ideal sediaan untuk kulit. Formula 2 paling disukai dalam tekstur dan warna, sedangkan Formula 3 memiliki daya lekat dan viskositas terbaik. Disimpulkan, losion ekstrak akar dandelion stabil dan diterima baik, namun perlu optimasi pH untuk keamanan kulit.
Evaluasi Penggunaan Obat Hipertensi pada Pasien Lansia di Salah Satu Rumah Sakit di Kota Bandung Ellen Zaquelline Karunia Sari Situmorang; Duma Turu Allo; Titin Sulastri
Tinctura Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Farmasi Tinctura
Publisher : Program Studi S1 Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35316/tinctura.v7i1.8250

Abstract

Penuaan membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit yang mengurangi fungsi organ, seperti hipertensi. Hal ini menjadi tantangan besar dalam memberikan pengobatan bagi lansia karena adanya risiko interaksi antar obat dan kondisi penyakit lain yang menyertainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi cara penggunaan dan tingkat keberhasilan pengobatan hipertensi pada pasien lansia di salah satu rumah sakit swasta di Kota Bandung pada bulan April hingga Juni 2025. Penelitian menggunakan data yang didapat dari 103 catatan medis pasien. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar pasien adalah perempuan (64,08%) dengan usia pra-lanjut (60–69 tahun; 54,9%). Obat yang sering digunakan adalah Calcium Channel Blocker (CCB), yaitu sekitar 43,1%. Obat yang paling sering diresepkan adalah Amlodipin dengan dosis 10 mg dan 5 mg. Dalam hal efektivitas, sebagian besar pasien (65–70%) menunjukkan respons baik terhadap pengobatan, terutama pada kasus hipertensi yang membutuhkan penanganan segera. Penuaan membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit yang berkembang perlahan, seperti hipertensi, yang sering terjadi pada orang tua. Faktor seperti interaksi obat dan adanya penyakit lain membuat pemilihan pengobatan menjadi lebih sulit. Penelitian ini mengulas penggunaan dan khasiat obat antihipertensi pada 103 pasien tua di sebuah rumah sakit swasta di Kota Bandung, dari bulan April hingga Juni 2025. Sebagian besar pasien adalah perempuan (64,08%) dan berusia 60–69 tahun (54,9%). Obat yang paling sering digunakan adalah Calcium Channel Blocker (CCB), khususnya Amlodipin dalam dosis 10 mg dan 5 mg. Hasil penelitian menunjukkan sekitar 65–70% pasien merespons pengobatan dengan baik, terutama bagi yang tidak memiliki kondisi berat. Namun, sekitar 30–35% pasien tidak merasa ada perbaikan, terutama yang juga menderita penyakit lain seperti gagal jantung, stroke, atau masalah ginjal. Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas pengobatan antihipertensi sangat tergantung pada kondisi kesehatan pasien. Kesimpulannya, penggunaan obat antihipertensi di rumah sakit ini sudah sesuai dengan standar yang berlaku, tetapi diperlukan pengecekan rutin, pemantauan tekanan darah, dan penyesuaian pengobatan agar hasilnya lebih baik, terutama untuk pasien lansia yang memiliki kondisi penyerta kompleks.