Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PELATIHAN REGULASI EMOSI SEBAGAI UPAYA EDUKASI MENCEGAH PERILAKU AGRESIVITAS PADA SISWA/I SEKOLAH DASAR SDI AR-RAAFI’ KOTA MAKASSAR Astiti Tenriawaru Ahmad; A Lutfi Kasmir; Anriani Anriani; Febriani Saidar As'ad; Maharani Maharani
Jurnal Kebajikan: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1, No 4 (2023): Agustus
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jk.v1i4.48279

Abstract

Perilaku agresivitas di sekolah dasar umum terjadi pada pelajar namun tidak disadari secara langsung. Ketidakmampuan individu untuk mengontrol emosi negatif mampu memicu timbulnya perilaku agresif. Regulasi emosi merupakan salah satu cara dalam mengontrol dan memodifikasi emosi untuk mengurangi perilaku negatif individu. Metode pelaksanaan kegiatan yang digunakan adalah pelatihan dan edukasi terkait dengan regulasi emosi. Pemberian pelatihan dilakukan dalam 5 sesi yang meliputi pemberian materi, diskusi, refleksi, dan sesi relaksasi. Refleksi dilakukan untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa tentang perilaku agresif, regulasi emosi, dan berpikir positif. Sesi relaksasi dilaksanakan untuk melatih siswa dalam mengendalikan beragam emosi yang timbul baik emosi positif maupun emosi negatif. Partisipan dalam pelatihan dan edukasi ini berjumlah 11 orang siswa kelas V berusia 11 – 12 tahun di SD I Ar-Raafi Kota Makassar. Tujuan pemberian pelatihan dan edukasi adalah untuk menambah pemahaman siswa dan mengurangi serta mencegah perilaku agresivitas pada siswa akibat dari ketidakmampuan siswa untuk meregulasi emosi. Hasil yang diperoleh melalui refleksi materi menunjukkan bahwa pelatihan dan edukasi terkait regulasi emosi mampu meningkatkan wawasan siswa tentang perilaku agresif, regulasi emosi, dan berpikir positif. Data hasil refleksi pelatihan dalam sesi relaksasi kesadaran emosional menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan dan wawasan siswa dalam meregulasi emosi. Dengan demikian, pelatihan mengenai regulasi emosi sebagai upaya edukasi untuk mengurangi perilaku agresivitas dapat menjadi salah satu metode yang efektif untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan siswa terkait emosi dan bagaimana cara mengontrol emosi tersebut.
Pengaruh Lingkungan Belajar, Dukungan Sebaya, dan Peran Dosen Terhadap Semangat Belajar Mahasiswa Universitas Negeri Makassar Fakhira Husain; Ana Putri Jhulyandhani; Maharani Maharani; Aliah Alfitah Gamaliyah; Wulan Arsyad; Dewi Zakhinah
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.3886

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi beberapa hal, seperti lingkungan belajar, dukungan teman sebaya, dan peran guru dalam meningkatkan semangat belajar siswa Universitas Negeri Makassar. Semangat belajar adalah dorongan internal dan eksternal yang mendorong siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam kelas, menyelesaikan tugas dengan disiplin, dan bersikap positif terhadap tekanan akademik. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa motivasi siswa untuk belajar dipengaruhi oleh tiga faktor: dukungan sosial dari lingkungan mereka, kemampuan mereka untuk menyesuaikan diri, dan kualitas interaksi selama proses pembelajaran. Selain itu, memiliki lingkungan belajar yang nyaman secara fisik dan sosial dapat membantu siswa merasa lebih nyaman dan lebih siap untuk berpartisipasi dalam kegiatan akademik. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dan seratus responden dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda setelah dikumpulkan melalui kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran guru, dukungan teman sebaya, dan lingkungan belajar memengaruhi semangat belajar siswa secara positif dan signifikan. Belajar dalam lingkungan yang mendukung dapat meningkatkan suasana akademik. Mahasiswa mendapatkan dukungan dari teman sekelas, yang menurunkan stres, meningkatkan rasa percaya diri, dan mendorong mereka untuk belajar lebih banyak lagi. Guru yang komunikatif, responsif, dan memiliki kemampuan untuk mendorong siswa sangat membantu meningkatkan semangat mereka untuk belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa lingkungan belajar yang baik, dukungan sosial yang kuat, dan peran aktif dosen dalam menciptakan lingkungan akademik yang produktif sangat berkorelasi. Oleh karena itu, universitas harus terus membuat fasilitas, program pembinaan, dan interaksi akademik yang membantu mahasiswa mencapai potensi terbaik mereka.