Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

SISTEM KEUANGAN PEDESAAN DAN PERTANIAN MELALUI PERAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO (LKM) SYARI’AH (BMT: alternatif model LKM Sya’riah) Najmudin, Asep
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 1, No 3 (2016): Juli 2016
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.205 KB) | DOI: 10.25157/ma.v1i3.38

Abstract

Dalam era otonomi daerah memerlukan perubahan cara pandang dalam pengelolaan sumberdaya kapital untuk sebesar-besarnya dapat diakses oleh pelaku agribisnis dan agroindustri di pedesaan. Meskipun modal merupakan faktor pelancar pembangunan pertanian, namun tanpa kehadiran modal dalam jumlah dan kualitas pelayanan yang memadai akan menjadi salah satu penghambat dalam peningkatan produktivitas nilai tambah hasil pertanian. Selama kurun waktu lebih dari sepuluh tahun terakhir alokasi kredit sektor pertanian kurang dari 10 persen dari total kredit yang disalurkan kepada sektor-sektor ekonomi. Sistem perbankan konvensional yang berjalan saat ini sangat mengabaikan sektor pertanian. Alokasi kredit yang timpang tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh rendahnya kemampuan sektor pertanian untuk mengembalikan kredit, tetapi lebih disebabkan oleh keberpihakan yang sangat rendah pada sektor ini dan aturan main (kelembagaan) kredit yang sangat kaku, utamanya bagi petani pelaku agribisnis dan agroindustri. Akses pelaku agribisnis yang rendah pada sumber modal memerlukan kreasi lembaga keuangan yang tepat bagi sektor ini. Maraknya lembaga keuangan yang bercorak Islam (syari’ah) menjadi satu indikator akan kebangkitan ekonomi Islam. Keberadaan lembaga keuangan mikro syari’ah ini, mulai Baitul Mal wa Tamwil (BMT) yang banyak beroperasi di pedesaan sampai koperasi keuangan syariah, dan Bank syariah, hampir tersebar di berbagai penjuru daerah. Bahkan beberapa bank dan lembaga keuangan konvensional melakukan diversifikasi produk dalam bentuk syari’ah. Belum adanya lembaga keuangan yang menjangkau daerah perdesaan secara memadai yang mampu memberikan alternatif pelayanan (produk jasa) simpan-pinjam yang kompatibel dengan kondisi sosial kultural serta ‘kebutuhan’ ekonomi masyarakat desa menyebabkan konsep BMT dapat ‘dihadirkan’ di daerah perdesaan. Dalam hubungannya dengan mengatasi masalah kemiskinan, BMT memiliki kelebihan konsep pinjaman kebajikan (qardhul hasan) yang diambil dari dana sosial. Dengan adanya model pinjaman ini (Baitul Maal) tidak memiliki risiko kerugian dari kredit macet yang dialokasikan untuk masyarakat paling miskin. Sesuai dengan konsep pemberdayaan maka aktivitas sosial (non profit oriented) seperti pengorganisasian dan penguatan kelompok di tingkat komunitas (jamaah) menjadi langkah awal sebelum masuk pada aktivitas yang mendatangkan keuntungan (profit oriented) melalui model pinjaman/pembiayaan komersial (Baitut Tamwil). Dua sisi keutamaan inilah yang membuat BMT menjadi sebuah institusi yang paling cocok dalam mengatasi permasalahan kemiskinan di daerah pedesaan dan pertanian.
Hubungan antara Peranan Kelompok Tani dengan Pendapatan Petani Bunga Krisan di Desa Pasirlangu Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat Edeng Edeng; Yayah Haeriah; Asep Najmudin; Wendi Juliawan; Vega Chendra Mulyana
Paspalum: Jurnal Ilmiah Pertanian Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35138/paspalum.v11i2.601

Abstract

The purpose of the research was to determine the relationship between the role of farmer groups and the income of chrysanthemum farmers in Pasirlangu Village, Cisarua District, West Bandung Regency. Verification survey research method, sampling was done by simple random sampling method, 20 samples from a population of 36 group members. The relationship between the role of farmer groups and income were analyzed by the Spearman rank test. The results showed that the role of the chrysanthemum farmer group in carrying out its functions as a learning class was included in the medium category, the function as a vehicle for collaboration was included in the medium category, and the function as a production unit was included in the high category, cumulatively included in the high category. Chrysanthemum farming income for farmers who were members of farmer groups in 2023 when used production costs is included in the high category, when farming activities were included in the high category, and when increasing production, it is included in the high category. Cumulatively, it is included in the high category, meaning that the income of chrysanthemum farmers had increased. The relationship between the role of farmer groups and increasing income, in carrying out its function as a learning class and as a vehicle for cooperation, had an insignificant relationship. The role of the group as a production unit had a real (significant) relationship to the income of chrysanthemum farmers in Pasir Langu Village, Cisarua District, West Bandung Regency.
Perbandingan preferensi konsumen dengan pedagang terhadap cabai rawit domba (Capsicum frutescens l.) di pasar manis ciamis Yayah Haeriah; Edeng Hidayat; Asep Najmudin; Wendi Juliawan; Vega Chendra Mulyana
Composite : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 4 No 2 (2022): Agustus
Publisher : University of Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37577/composite.v4i2.451

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan preferensi konsumen dengan preferensi pedagang terhadap atribut cabai rawit domba (warna, ukuran, tingkat kepedasan, dan kesegaran). Sampel penelitian ini adalah konsumen yang sedang atau sudah membeli cabai rawit domba di Pasar Manis Ciamis sebanyak 96 Orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan systematic random sampling. Sampel pedagang diambil 20 Orang dengan mengunakan simple random sampling. Untuk analisis data menggunakan Uji Kolmogorov Smirnov dan uji Mann Whitney-U. Hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa masing-masing atribut cabai rawit domba memiliki nilai D-hitung > D-tabel, artinya terdapat kecenderungan dari konsumen dan pedagang dalam memilih cabai rawit domba di Pasar Manis Ciamis menurut atribut cabai rawit domba. Berdasarkan pengujian Mann Whitney-U terdapat perbedaan preferensi konsumen dengan preferensi pedagang terhadap atribut cabai rawit domba (warna, ukuran, tingkat kepedasan, dan kesegaran).
Hubungan antara Peranan Kelompok Tani dengan Pendapatan Petani Bunga Krisan di Desa Pasirlangu Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat Edeng Edeng; Yayah Haeriah; Asep Najmudin; Wendi Juliawan; Vega Chendra Mulyana
Paspalum: Jurnal Ilmiah Pertanian Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35138/paspalum.v11i2.601

Abstract

The purpose of the research was to determine the relationship between the role of farmer groups and the income of chrysanthemum farmers in Pasirlangu Village, Cisarua District, West Bandung Regency. Verification survey research method, sampling was done by simple random sampling method, 20 samples from a population of 36 group members. The relationship between the role of farmer groups and income were analyzed by the Spearman rank test. The results showed that the role of the chrysanthemum farmer group in carrying out its functions as a learning class was included in the medium category, the function as a vehicle for collaboration was included in the medium category, and the function as a production unit was included in the high category, cumulatively included in the high category. Chrysanthemum farming income for farmers who were members of farmer groups in 2023 when used production costs is included in the high category, when farming activities were included in the high category, and when increasing production, it is included in the high category. Cumulatively, it is included in the high category, meaning that the income of chrysanthemum farmers had increased. The relationship between the role of farmer groups and increasing income, in carrying out its function as a learning class and as a vehicle for cooperation, had an insignificant relationship. The role of the group as a production unit had a real (significant) relationship to the income of chrysanthemum farmers in Pasir Langu Village, Cisarua District, West Bandung Regency.
Analisis efisiensi usahatani padi organik pada kelompok tani Paguyuban Bumi Mandiri di Desa Pringkasap Kecamatan Pabuaran Kabupaten Subang Jawa Barat Wendi Juliawan; Yayah Haeriah; Edeng Edeng; Asep Najmudin; Vega Chendra Mulyana
Composite : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 6 No 1 (2024): Februari
Publisher : University of Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37577/composite.v6i1.622

Abstract

Organic rice production can be a solution for food and environmental security. In this context, farmers who are members of the Paguyuban Bumi Mandiri Farmers Group have been implementing organic rice cultivation since 2021 under the guidance of CV. Agrospora. The method used in this research is a descriptive survey. The descriptive method is a method used to describe or analyze research results but is not used to make broader conclusions. The objects of this research are farmers who are members of the Paguyuban Bumi Mandiri farmer group in Pringkasap Village, Pabuaran District, Subang Regency, West Java. Sampling was carried out using the simple random sampling method. 13 samples from a total population of 22 members of farmer groups. The data collected consists of primary data and secondary data. To determine the efficiency of organic rice farming, it is analyzed using the R/C Ratio and Break Event Point analysis. The R/C Ratio efficiency analysis shows a value of 2.4, which is greater than 1. This means that economically the Organic Rice farming in the Paguyuban Bumi Mandiri farmer group is efficient. The BEP calculation produces a Production BEP of 987.8 kg and a price BEP of Rp. 2,700
Hubungan Faktor internal dengan respon pengolah gula aren terhadap teknologi mesin pengolahan modern Yayah Haeriah; Vega Chendra Mulyana; Asep Najmudin; Edeng Edeng; Wendi Juliawan
Composite : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 7 No 1 (2025): Februari
Publisher : University of Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37577/composite.v7i1.841

Abstract

The machine for processing sap into ant sugar is a new technology that will be a solution to meet increasing market demand, both in terms of quality and quantity. Age background, education level, experience as a processor and number of ownership as internal factors of the processor will influence their response to the machine technology for processing sap into ant sugar. This research aims to determine the relationship between internal factors and the processor's response to machine technology for processing sap into sugar. The research method used a verification survey, samples were taken from 6 people from 12 people processing sap into palm sugar in Nanggerang Village, Nyalindung Village, Cisewu District, Garut Regency. The results of the research show that the internal factors in the categories of age, level of education, business experience, and cumulative number of sugar palm trees owned are in the medium category. The processor's response is partially seen based on the processor's knowledge indicators which are in the medium category, attitudes are in the high category, experience and implementation are in the low category. The result is a Spearman Rank Correlation Coefficient (rs) of 0.43, meaning that the relationship between Internal Factors consisting of age, level of education, business experience, number of palm trees and the processor's response to the machine processing sap into ant sugar is 43%.
Pembangunan Pertanian Ekologis Berbasis Pola Tanam Berkelanjutan (Agroeco-technofarming) Asep Najmudin; Yayah Haeriyah; Edeng Hidayat; Verga Chendra Mulyana; Wendi Juliawan
JAMARI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri Vol 1 No 01 (2024): Juli
Publisher : Universitas Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37577/jamari.v1i01.769

Abstract

Pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an pemerintah Indonesia meluncurkan suatu program pembangunan pertanian yang dikenal secara luas sebagai program “revolusi hijau”, yang di tingkat masyarakat petani dikenal dengan nama program Bimbingan Massal (BIMAS). Tujuan utama program revolusi hijau adalah untuk menaikkan produktivitas sektor pertanian, khususnya sub-sektor pertanian pangan melalui penerapan paket modern. Revolusi hijau mendapat kritik sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan kelestarian lingkungan karena mengakibatkan kerusakan lingkungan yang parah. Metode penulisan karya pengabdian kepada Masyarakat dilakukan secara analisisis deskriptif dan metode studi kritis melalui pengamatan atas pelaksanaan Sekolah Lapang Budidaya Pertanian penerapan Good Agricultural Practicies (GAP), dan Sekolah Lapang PHT di beberapa daerah di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Timur, serta melalui Participatory Rural Appraisal (PRA) dan analisis historical penerapan pendekatan pembangunan pertanian di masa lalu untuk arah kebijakan pembangunan pertanian berkelanjutan di masa depanPertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) merupakan implementasi dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) pada sektor pertanian Dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan diarahkan untuk terjaminnya : (1) keberlanjutan ekologi (ecological sustainability), (2) keberlanjutan ekonomi (economical sustainability), (3) keberlanjutan sumberdaya dan lingkungan (Resources and environment sustatainability), (4) keberlanjutan sistem managemen (management sustainability), (5) keberlanjutan teknologi (technological sustainability). Sejalan dengan bergulirnya paradigma baru pembangunan tersebut, fenomena yang terjadi pada pembangunan pertanian dewasa ini, dilandasi oleh perilaku dan tatanan yang kurang memuaskan. Apabila hal ini terus dibiarkan maka kelesuan pembangunan pertanian akan terus berlangsung. Kerusakan sumberdaya alam, seperti lahan dan air sebagai modal utama pembangunan pertanian, krisis iklim, akan terus terjadi. Demikian halnya dengan masyarakat tani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian, akan semakin merosot kemampuan dan kemandirian inovatifnya. Kelesuan sektor pertanian akan menyebabkan semakin meluasnya kemiskinan. Gejala tersebut tentu tidak terjadi dalam waktu sekejap, namun merupakan akibat dari akumulasi permasalahan yang berlangsung sejak lama. Pola tanam berkelanjutan merupakan bagian dari pertanian yang berkelanjutan (agricultural sustainability) dengan mengacu pada kriteria yang menitikberatkan pada usaha pengendalian masalah lingkungan pada tingkat lokal, regional dan nasional/global. Pembangunan pertanian berkelanjutan berbasis pola tanam, merupakan suatu pemikiran pembangunan pertanian yang berwawasan ekologis dalam konteks penerapan teknologi modern (agroeco-technofarming), sebagai tuntutan pembangunan masa depan. Penerapan sistem pola tanam berkelanjutan dalam kebijakan sistem pembangunan pertanian sudah mendesak untuk diterapkan dengan melakukan pergeseran penerapan pola tanam monokultur ke pola tanam polikultur sebagai instrument kebijakan baru yang mendorong praktek pertanian berbasis ekologis dan difungsikannya modal sosial dan kearifanlokal.
Pembangunan Pertanian Ekologis Berbasis Pola Tanam Berkelanjutan (Agroeco-technofarming) Asep Najmudin; Yayah Haeriyah; Edeng Hidayat; Verga Chendra Mulyana; Wendi Juliawan
JAMARI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri Vol 1 No 01 (2024): Juli
Publisher : Universitas Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37577/jamari.v1i01.769

Abstract

Pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an pemerintah Indonesia meluncurkan suatu program pembangunan pertanian yang dikenal secara luas sebagai program “revolusi hijau”, yang di tingkat masyarakat petani dikenal dengan nama program Bimbingan Massal (BIMAS). Tujuan utama program revolusi hijau adalah untuk menaikkan produktivitas sektor pertanian, khususnya sub-sektor pertanian pangan melalui penerapan paket modern. Revolusi hijau mendapat kritik sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan kelestarian lingkungan karena mengakibatkan kerusakan lingkungan yang parah. Metode penulisan karya pengabdian kepada Masyarakat dilakukan secara analisisis deskriptif dan metode studi kritis melalui pengamatan atas pelaksanaan Sekolah Lapang Budidaya Pertanian penerapan Good Agricultural Practicies (GAP), dan Sekolah Lapang PHT di beberapa daerah di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Timur, serta melalui Participatory Rural Appraisal (PRA) dan analisis historical penerapan pendekatan pembangunan pertanian di masa lalu untuk arah kebijakan pembangunan pertanian berkelanjutan di masa depanPertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) merupakan implementasi dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) pada sektor pertanian Dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan diarahkan untuk terjaminnya : (1) keberlanjutan ekologi (ecological sustainability), (2) keberlanjutan ekonomi (economical sustainability), (3) keberlanjutan sumberdaya dan lingkungan (Resources and environment sustatainability), (4) keberlanjutan sistem managemen (management sustainability), (5) keberlanjutan teknologi (technological sustainability). Sejalan dengan bergulirnya paradigma baru pembangunan tersebut, fenomena yang terjadi pada pembangunan pertanian dewasa ini, dilandasi oleh perilaku dan tatanan yang kurang memuaskan. Apabila hal ini terus dibiarkan maka kelesuan pembangunan pertanian akan terus berlangsung. Kerusakan sumberdaya alam, seperti lahan dan air sebagai modal utama pembangunan pertanian, krisis iklim, akan terus terjadi. Demikian halnya dengan masyarakat tani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian, akan semakin merosot kemampuan dan kemandirian inovatifnya. Kelesuan sektor pertanian akan menyebabkan semakin meluasnya kemiskinan. Gejala tersebut tentu tidak terjadi dalam waktu sekejap, namun merupakan akibat dari akumulasi permasalahan yang berlangsung sejak lama. Pola tanam berkelanjutan merupakan bagian dari pertanian yang berkelanjutan (agricultural sustainability) dengan mengacu pada kriteria yang menitikberatkan pada usaha pengendalian masalah lingkungan pada tingkat lokal, regional dan nasional/global. Pembangunan pertanian berkelanjutan berbasis pola tanam, merupakan suatu pemikiran pembangunan pertanian yang berwawasan ekologis dalam konteks penerapan teknologi modern (agroeco-technofarming), sebagai tuntutan pembangunan masa depan. Penerapan sistem pola tanam berkelanjutan dalam kebijakan sistem pembangunan pertanian sudah mendesak untuk diterapkan dengan melakukan pergeseran penerapan pola tanam monokultur ke pola tanam polikultur sebagai instrument kebijakan baru yang mendorong praktek pertanian berbasis ekologis dan difungsikannya modal sosial dan kearifanlokal.
Konsep Integrated Urban Farming System (IUFS) sebagai model pertanian perkotaan berkelanjutan Darmawan, Luqman; Hidayat, Edeng; Najmudin, Asep; Meylan, Intan
COMPOSITE : Jurnal Ilmu Pertanian Vol. 8 No. 1 (2026): Januari
Publisher : University of Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37577/composite.v8i1.1029

Abstract

Abstract belum tersedia.