Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENENTUAN KRITERIA LOKASI OPTIMAL UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS) DI KABUPATEN BIMA, NUSA TENGGARA BARAT Nahzim Rahmat
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 8 No 2 (2025): Jurnal Redoks : Jurnal Pendidikan Kimia dan Ilmu Kimia
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/re.v8i2.3533

Abstract

Kebijakan energi nasional Indonesia saat ini tengah mengarah pada peningkatan bauran energi terbarukan, termasuk energi surya. Kabupaten Bima, yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat, memiliki potensi radiasi matahari yang tinggi dan lahan terbuka yang luas, menjadikannya wilayah strategis untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi yang paling sesuai untuk pembangunan PLTS dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (GIS) dan metode Multi-Criteria Decision Making (MCDM). Empat kriteria utama digunakan dalam analisis ini: iklim (radiasi matahari), topografi, penggunaan lahan, dan kedekatan dengan infrastruktur. Bobot setiap kriteria ditentukan menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim merupakan faktor paling dominan dalam menentukan kelayakan lokasi, diikuti oleh kemiringan lahan (topografi). Lokasi yang paling sesuai adalah lahan datar, tidak produktif secara pertanian, dan dekat dengan jaringan listrik. Hal ini sesuai dengan kondisi Kecamatan Woha, Belo, dan Monta. Temuan ini dapat menjadi acuan dalam perencanaan pembangunan PLTS di wilayah timur Indonesia.
Pengaruh Variasi Rasio Prekursor terhadap Kristalinitas Nanopartikel ZnO Hasil Sintesis Hijau Berbasis Ekstrak Parthenium hysterophorus L. Nahzim Rahmat; Prisca Caesa Moneteringtyas; Pina Budiarti Pratiwi; Trisno Afandi
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 9 No 1 (2026): Jurnal Redoks : Jurnal Pendidikan Kimia dan Ilmu Kimia
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/re.v9i1.4067

Abstract

This study aims to synthesize ZnO nanoparticles via a green synthesis approach using Parthenium hysterophorus L. leaf extract with two variations of precursor ratios. The process was carried out at a temperature range of 65–85 °C followed by calcination at 600 °C for 2 hours. FTIR analysis showed a strong absorption band at 840 cm⁻¹ corresponding to Zn–O stretching vibrations, along with several organic functional groups (C–O, C=O, C=C) acting as natural stabilizing agents. XRD patterns confirmed the formation of the wurtzite ZnO phase without impurities, with crystallite sizes calculated by the Scherrer equation of 0.87 nm (Sample A) and 0.94 nm (Sample B). The sharper peaks observed in Sample B indicate higher crystallinity. These findings demonstrate the effectiveness of P. hysterophorus L. extract as a natural bioreductant in the eco-friendly synthesis of ZnO nanoparticles
Studi Komparatif Pengaruh Jenis Pelarut terhadap Pembentukan dan Karakteristik Nanopartikel ZnO Berbasis Ekstrak Daun Parthenium hysterophorus L. Nahzim Rahmat; Prisca Caesa Moneteringtyas; Pina Budiarti Pratiwi
Nexus Sains dan Teknologi Vol. 1 No. 2 (2025): Nexus: Jurnal Sains dan Teknologi (Edisi November)
Publisher : Politeknik Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51510/nst.v1i2.2885

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh jenis pelarut terhadap karakteristik nanopartikel ZnO yang disintesis menggunakan ekstrak daun Parthenium hysterophorus L. sebagai agen pereduksi alami. Ekstrak daun direndam dengan dua pelarut yaitu metanol atau aquabides selama 24 jam dan digunakan sebagai agen pereduksi dalam sintesis ZnO. Endapan yang dihasilkan dikeringkan, dikalsinasi pada 600 °C, dan dikarakterisasi menggunakan FTIR serta XRD. Hasil analisis FTIR menunjukkan adanya pita serapan O–H pada 3318 cm⁻¹ pada sampel B yang tidak muncul pada sampel A. Hal ini mengindikasikan bahwa keberadaan gugus hidroksil sisa yang lebih dominan pada sintesis berbasis air. Sementara itu, hasil XRD mengonfirmasi bahwa kedua sampel memiliki struktur kristal ZnO heksagonal tipe wurtzite (JCPDS No. 36-1451) dengan puncak utama pada 2θ sekitar 31,7°, 34,4°, dan 36,3°. Ukuran kristalit yang dihitung menggunakan persamaan Scherrer menunjukkan nilai rata-rata sekitar 41 nm untuk sampel A dan 28 nm untuk sampel B. Hasil ini menunjukkan bahwa metanol menghasilkan kristal ZnO yang lebih besar, sedangkan air menghasilkan kristalit lebih kecil dengan strain kisi lebih tinggi.