I Nengah Wandia
Laboratorium Anatomi dan Embriologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. Sudirman, Sanglah, Denpasar, Bali, Indonesia, 80234

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kualitas Organ Testis Sapi Bali yang Diawetkan dengan Metode Plastinasi Karet Silikon Room Temperature Vulcanizing-52 Ni Putu Surya Wiradnyani; I Nengah Wandia; I Gusti Agung Ayu Suartini
Indonesia Medicus Veterinus Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Suara Satwa & Jurnal Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/imv.2025.v14.i01.p03

Abstract

PENDAHULUAN: Kadaver yang diawetkan dengan formalin kerap mengeluarkan bau menyengat yang dapat menjadi pencetus kanker saluran napas apabila terpapar dalam jangka waktu yang lama. Sementara itu, menghirup uap formalin dalam jangka waktu pendek dapat menyebabkan iritasi pada mukosa mata, hidung, dan tenggorokan. Plastinasi merupakan proses pengawetan organ yang dapat meminimalkan efek toksik dari penggunaan formalin dengan memasukkan bahan polimer sehingga mampu menjaga bentuk danstruktur jaringan organ. Organ testis merupakan salah satu organ penting dalam pembelajaran anatomi sistem reproduksi hewan.TUJUAN: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas dan tingkat ketahanan organ testis yang diawetkan dengan metode plastinasi menggunakan karet silikon Room Temperature Vulcanizing (RTV-52) untuk keperluan pembelajaran anatomi.METODE: Penelitian ini menggunakan lima pasang testis sapi bali. Bahan-bahan yang digunakan terdiri dari akuades, formalin, aseton, karet silikon cair RTV-52, dan katalis silikon. Organ testis kemudian diawetkan melalui empat tahapan plastinasi, yaitu: (1) fiksasi menggunakan formalin 10% selama tujuh hari; (2) dehidrasi dengan aseton 90% selama tujuh hari yang diulang satu kali; (3) impregnasi di dalam ruang vakum dengan perendaman dalam polimer karet silikon RTV-52 pada tekanan 10 cmHg selama empat hari; dan (4) curing yang dilakukan dengan menambahkan cairan katalis ke permukaan spesimen.HASIL: Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesimen plastinasi tidak berbau menyengat, berwarna pucat, memiliki tekstur padat dan kering, tetapi kurang lentur. Organ testis sapi bali tidak menunjukkan tanda-tanda pembusukan selama empat minggu pengamatan.SIMPULAN: Kualitas organ testis yang diawetkan dengan metode plastinasi karet silikon RTV-52 dapat menghasilkan spesimen yang memiliki tekstur kaku, berwarna kusam, dan berbau sedikit menyengat.
Kualitas Organ Hati Sapi Bali (Bos sondaicus) yang Diawetkan dengan Plastinasi Menggunakan Silikon Cair Made Baruna Yuwana Negara; I Nengah Wandia; Ni Nyoman Werdi Susari
Indonesia Medicus Veterinus Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Suara Satwa & Jurnal Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/imv.2025.v14.i01.p04

Abstract

PENDAHULUAN: Plastinasi merupakan metode pengawetan spesimen kadaver anatomi dengan prinsip mengganti cairan atau lipid yang terkandung di dalam spesimen menggunakan material sintetis, seperti silikon.  Plastinasi dapat digunakan sebagai alternatif pengawetan dengan formalin karena dampak negatif yang ditimbulkan oleh formalin.TUJUAN: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan warna, bau dan tekstur terhadap spesimen yang diawetkan dengan metode plastinasi.METODE: Spesimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dua organ hati sapi bali dengan bobot sekitar 2,0-2,5 kg.  Kedua organ hati diplastinasi menggunakan silikon cair RTV-52 (room temperature vulcanized) sebagai material sintetis pada tahap impregnasi.  Tahapan dalam plastinasi meliputi fiksasi, dehidrasi, impregnasi, pembersihan, dan curing.  Tahap fiksasi dilakukan dengan merendam spesimen di dalam formalin 10% selama tujuh hari untuk mencegah autolisis, dilanjutkan dengan dehidrasi menggunakan aseton murni 90% selama dua minggu untuk mengeluarkan cairan dan lipid spesimen, kemudian impregnasi di dalam ruang vakum berisi silikon cair RTV-52 selama dua hari dengan bantuan pompa udara agar silikon cair dapat masuk ke dalam spesimen.  Spesimen kemudian dibersihkan dan diberi katalis bening untuk membantu proses curing atau pengerasan.  Pengamatan pada spesimen dilakukan pada tiap tahapan plastinasi dengan metode pengamatan observasional.HASIL: Spesimen yang diamati pada tiap tahapan menunjukkan adanya perubahan dari segi warna, bau, dan tekstur.SIMPULAN: plastinasi dapat menghasilkan spesimen yang berwarna gelap dan kusam, tanpa bau menyengat, tidak mengiritasi dan memiliki tekstur yang lentur.