Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SELEKSI PEJANTAN SAPI BALI BERDASARKAN LIBIDO DAN KUALITAS SEMEN DI UPTD BIBDPTHPT BATURITI Tarigan I. Y. B.; I. N. Ardika; D. A. Warmadewi
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to select libido, macroscopic semen quality, and microscopic semen quality in Bali bulls at UPTD BIBDPTHPT Baturiti, Bali. The study was conducted over two months, from August to September 2024, using eight Bali bulls. The observed libido variables included the time from courtship to ejaculation, courtship duration, time of flehmen response, false mounting, and ejaculation time. Macroscopic semen evaluation included volume, color, and odor, while microscopic evaluation covered sperm motility, sperm mass movement, and sperm concentration. The results of the libido assessment showed that the average time from courtship to ejaculation ranged from 252 to 912 seconds, courtship duration ranged from 74.4 to 444.75 seconds, flahmen response occurred between 8.4 and 17 seconds, false mounting ranged from 3.4 to 4.6 times, and ejaculation took between 3.75 and 5.6 seconds. Macroscopic evaluation showed that the average semen volume ranged from 4.52 ml to 6.8 ml, with a cream color resembling milk and a characteristic semen odor. Microscopic evaluation showed that the average sperm motility reached 70%, mass movement was graded as +++, and sperm concentration ranged from 633.6 to 926.25 x10⁶ cells/ml. Based on the results, it can be concluded that the libido and semen quality of Bali bull sires at UPTD BIBDPTHPT Baturiti were within the normal range. Among all the bulls observed, the best-performing sire was Abimayu. ABSTRAK Penelitian ini mempunyai tujuan dalam menyeleksi libido, kualitas semen makroskopis, dan kualitas semen mikroskopis pada pejantan sapi bali yang di UPTD BIBDPTHPT Baturiti, Bali. Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan, dari bulan Agustus sampai September 2024, menggunakan 8 ekor pejantan sapi bali yang sudah. Variabel libido yang diamati meliputi jangka waktu bercumbu sampai dengan ejakulasi, lama bercumbu, waktu timbul flehmen, false mounting, dan waktu ejakulasi. Variabel evaluasi semen terdiri dari evaluasi makroskopis semen meliputi volume, warna, dan bau dan evaluasi mikroskopis mencakup motilitas spermatozoa, gerakan massa spermatozoa, dan konsentrasi spermatozoa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata jangka waktu bercumbu sampai dengan ejakulasi 252 detik hingga 912 detik, lama bercumbu sapi bali berkisar antara 74,4 detik hingga 444,75 detik, waktu timbul flehmen antara 8.4 detik hingga 17 detik, false mounting 3,4 hingga 4,6 kali, dan ejakulasi 3,75 hingga 5,6 detik. Evaluasi makroskopis menunjukkan bahwa rata rata volume semen berkisar antara 4,52 ml hingga 6,8 ml dengan warna krem menyerupai susu dan bau khas semen. Evaluasi mikroskopis menujukkan bahwa rata-rata motilitas spermatozoa mencapai 70%, gerakan massa +++ dan konsentrasi spermatozoa berkisar antara 633,6 hingga 926,25 x10⁶ sel/ml. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa libido, kualitas semen pejantan sapi bali di UPTD BIBDPTHPT Baturiti berada dalam batas norma dan pejantan sapi bali yang terbaik adalah pejantan abimayu.
PENGARUH SERVICE PER CONCEPTION PADA KAWIN ALAM TERHADAP PENAMPILAN REPRODUKSI BABI LANDRACE PERSILANGAN Wijaya I. W. Y..; N. L. G. Sumardani; I. N. Ardika
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to find out how the effect of Service Per Conception on natural mating on the reproductive performance of crossbred Landrace pigs. The pig farming business is one of the businesses that produces products as a source of animal protein as well as a source oAf family income which has a very important economic meaning. The research was conducted in Br. Puseh, Perean Village, Baturiti District, Tabanan Regency, lasted for 5 months. The design used was a group random design (GRD) which was divided into three groups with two treatments and each treatment used 5 sows, so that the sows used were 30 heads. This study uses treatment by mating sows once and twice. The variables observed were pregnancy duration, litter size, birth weight, weaning weight, and weaning age. The results showed that the duration of gestation for sows was not significantly different between 113 and 114 days. The results of research on the birth weight variable showed that the results were not significantly different between 1.3 and 1.7. The litter size produced from each mating treatment of sows was not significantly different between 9.6 and 12 pigs, and the results of the study showed an increase in the number of litter sizes in the subsequent birth period. The birth weight obtained in this study was 1.3 kg to 1.7 kg. The weaning weight obtained in this study was 7.0 to 7.5 and the weaning age used was 30 days. ased on the research results, it can be concluded that Service Per Conception has no effect on the reproductive performance of cross-bred Landrace pigs. This means that mating of sows is only done once. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh Service Per Conception pada kawin alam terhadap penampilan reproduksi babi Landrace persilangan. Usaha peternakan babi merupakan salah satu usaha yang menghasilkan produk sebagai sumber protein hewani maupun sumber pendapatan keluarga yang mempunyai arti ekonomi yang sangat penting. Penelitian dilakukan di Br. Puseh, Desa Perean, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, berlangsung selama 5 bulan. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) yang dibagi menjadi tiga kelompok dengan dua perlakuan dan setiap perlakuan menggunakan 5 ekor indukan babi, sehingga induk babi yang digunakan sebanyak 30 ekor. Penelitian ini menggunakan perlakuan dengan mengawinkan induk babi sebanyak satu kali dan dua kali. Variabel yang diamati adalah lama kebuntingan, litter size, berat lahir, berat sapih, dan umur sapih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama kebuntingan induk babi berbeda tidak nyata antara 113 dan 114 hari. Hasil penelitian pada variabel berat lahir menunjukkan hasil yang berbeda tidak nyata antara 1,3 dan 1,7. Litter size yang dihasilkan dari setiap perlakuan pengawinan induk babi berbeda tidak nyata antara 9,6 dan 12 ekor, dan hasil penelitian menunjukkan adanya kenaikan jumlah litter size pada periode kelahiran selanjutnya. Berat lahir yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 1,3 kg sampai 1,7 kg. Berat sapih yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 7,0 sampai 7,5 dan umur sapih yang digunakan adalah umur 30 hari. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Service Per Conception tidak berpengaruh terhadap penampilan reproduksi babi Landrace persilangan. Hal ini berarti bahwa pengawinan induk babi cukup dilakukan satu kali.