Pendidikan budi pekerti merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter generasi muda yang baik. Mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) memiliki peran strategis sebagai wahana untuk menanamkan nilai-nilai tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis strategi yang diterapkan oleh guru PPKn dalam membentuk budi pekerti siswa, serta faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam dengan guru PPKn, observasi partisipan terhadap proses pembelajaran di kelas VIII, dan studi dokumentasi. Informan kunci dalam penelitian ini adalah guru PPKn dan sejumlah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Angkola Timur. Data yang terkumpul dianalisis secara interaktif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PPKn menerapkan beberapa strategi utama dalam membentuk budi pekerti siswa, yaitu: (1) Integrasi Nilai dalam Pembelajaran, dengan menyisipkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan hormat dalam setiap materi pelajaran; (2) Metode Pembelajaran Aktif, seperti diskusi kelompok, bermain peran (role-play), dan studi kasus yang merangsang siswa untuk berpikir kritis tentang perilaku baik; (3) Keteladanan (Modeling), di mana guru menjadi contoh langsung dalam bersikap dan berbicara; serta (4) Pembiasaan, melalui kegiatan rutin seperti menyapa, antre, dan menjaga kebersihan kelas. Faktor pendukung strategi ini meliputi komitmen guru, dukungan lingkungan sekolah, dan sarana prasarana yang memadai. Sementara itu, faktor penghambatnya adalah pengaruh negatif media sosial, keterbatasan waktu pembelajaran, dan kurangnya kesadaran dari sebagian kecil orang tua. Berdasarkan temuan tersebut, disimpulkan bahwa strategi guru PPKn di SMP Negeri 1 Angkola Timur telah berjalan secara komprehensif dengan memadukan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Untuk mengoptimalkan pembentukan budi pekerti, diperlukan sinergi yang berkelanjutan antara sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat.