Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, khususnya di Kabupaten Bone yang mencatat prevalensi 32,9% pada tahun 2024, jauh di atas rata-rata nasional. Remaja merupakan kelompok target penting dalam intervensi preventif karena fase ini krusial dalam pembentukan kesadaran gizi dan gaya hidup sehat jangka panjang. Integrasi nilai budaya Bugis, seperti Sipakainge (saling mengingatkan dalam kebaikan), ke dalam pendidikan jasmani melalui gamifikasi dapat menjadi strategi inovatif dan kontekstual dalam pencegahan stunting. Penelitian ini menggunakan desain sequential explanatory mixed methods, menggabungkan pendekatan kuantitatif (pre-test dan post-test, N = 130) serta kualitatif (wawancara dan FGD dengan siswa dan guru). Data kuantitatif dianalisis dengan statistik deskriptif dan komparatif, sedangkan data kualitatif dianalisis secara tematik untuk menggali persepsi dan pengalaman terhadap aplikasi Sipakainge Fit. Analisis kuantitatif menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan dan kesadaran siswa dengan nilai rata-rata N-gain 0,9194 (91,94%), yang termasuk kategori efektivitas tinggi. Temuan kualitatif menegaskan bahwa siswa merasa aplikasi ini menarik, memotivasi, dan menyenangkan, sedangkan guru menilai Sipakainge Fit efektif dalam penyampaian materi, evaluasi, serta integrasi nilai budaya lokal dalam pendidikan jasmani. Sipakainge Fit merupakan aplikasi gamifikasi berbasis budaya lokal yang efektif dalam meningkatkan resiliensi, kesadaran gizi, dan kebugaran remaja. Inovasi ini berpotensi menjadi strategi preventif stunting yang berkelanjutan dan dapat direplikasi pada wilayah dengan konteks sosial-budaya serupa.