Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Cost-Minimization Terapi Dislipidemia: Perbandingan Obat Generik dan Bermerek di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Vivi Olivia Sinapoy; Annissa Aprillia
Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF) Vol. 4 No. 1 (2026): Januari : Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF)
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/jrikuf.v4i1.937

Abstract

Dyslipidemia is a major risk factor for cardiovascular disease and requires long-term therapy; therefore, cost efficiency is essential in primary health care facilities. This study aimed to analyze the cost comparison of dyslipidemia therapy using generic atorvastatin and branded atorvastatin (Lipitor) through a pharmacoeconomic approach employing cost-minimization analysis. The analysis was conducted from the primary health care perspective by considering direct medical costs, specifically the drug cost per patient. The study used secondary data based on national price estimates. The treatment regimen was atorvastatin 20 mg once daily. The results showed that generic atorvastatin had an estimated cost of approximately IDR 76,560 per month and IDR 931,480 per year, whereas Lipitor cost approximately IDR 780,720 per month and IDR 9,498,760 per year. The use of Lipitor required nearly ten times higher costs than the generic alternative, with a potential saving of about IDR 8.6 million per patient annually. In conclusion, generic atorvastatin is the most economically efficient therapeutic option without compromising clinical outcomes and supports policies promoting generic drug use to optimize health care financing.
DISPENSING DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT Bahar, Anisa; Annissa Aprillia; Elsaana Tau; Putri Rahmadani; Siti Nur Fatimah; Mada Aditia Wardhana
PHARMACIA 2026: Edisi Khusus : Manajemen Farmasi
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Praktik dispensing di Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS), terutama di fasilitas umum di negara-negara berkembang, seringkali di bawah standar yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), meskipun fungsi ini penting untuk keselamatan pasien dan Penggunaan Obat Rasional (RDU). Evaluasi menggunakan indikator WHO/INRUD menunjukkan bahwa kualitas layanan dispensing umumnya suboptimal, dicirikan oleh waktu dispensing yang sangat singkat—misalnya, rata-rata 131,03 detik di rumah sakit sekunder Uganda, yang jauh di bawah standar WHO ?180 detik. Keterbatasan waktu ini berkorelasi langsung dengan rendahnya pengetahuan pasien mengenai dosis dan penggunaan obat yang benar; dalam satu studi, hanya 49,50% pasien yang memiliki pengetahuan dosis yang memadai. Lebih lanjut, fasilitas ini juga menghadapi masalah polypharmacy (rata-rata 3,2 obat per resep) dan tingkat peresepan antibiotik yang tinggi (66,22% peresepan) yang melebihi batas optimal WHO. Masalah ini diperparah oleh pelabelan yang tidak memadai, dengan hanya 59,74% obat yang dilabeli secara memadai. Yang paling krusial, terdapat research gap yang menunjukkan bahwa personel dispensing yang telah dilatih secara formal (Pharmacy-Trained Dispensers/PTD) tidak menunjukkan peningkatan kinerja yang signifikan pada indikator penting dibandingkan staf yang tidak terlatih (NPTD). Fakta ini menegaskan bahwa peningkatan praktik dispensing yang rasional membutuhkan studi kajian mendalam untuk mengidentifikasi dan mengatasi faktor-faktor kontekstual dan sistemik di IFRS, seperti dukungan manajerial dan ketersediaan prosedur operasional standar, karena pelatihan saja tidak cukup untuk menjamin kinerja yang baik.