Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji puncak-puncak capaian sufistik dalam tradisi tasawuf melalui pendekatan metodologis yang komprehensif. Fokus kajian diarahkan pada konsep-konsep sentral seperti ma‘rifat, fana’, baqa’, ittihad, hulul, dan wihdat al-wujud, serta bagaimana konsep tersebut berkembang dalam konteks historis, epistemologis, dan teologis. Penelitian ini juga menelaah bagaimana pengalaman puncak sufistik dipahami, diinterpretasi, dan dipersoalkan dalam wacana kontemporer, khususnya terkait otoritas spiritual, validitas pengetahuan mistik, serta implikasi etis dan sosialnya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan analisis isi yang dipadukan dengan pendekatan historis-kritis, hermeneutis, dan fenomenologis. Karya-karya klasik tokoh sufi seperti Al-Ghazali, Al-Qusyairi, dan Ibn Arabi, serta literatur akademik kontemporer tentang tasawuf, dijadikan sumber utama dalam merumuskan gambaran metodologis yang utuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puncak capaian sufistik merupakan konstruksi multidimensional yang tidak dapat dipahami hanya melalui kerangka teologis, tetapi juga menuntut pembacaan psikologis, sosial, dan epistemologis. Pendekatan fenomenologis mengungkap sifat subjektif namun terstruktur dari pengalaman mistik, sementara pendekatan historis menyoroti konteks sosial-politik yang membentuk kontroversi seputar konsep seperti ittihad atau wihdat al-wujud. Kajian ini menyimpulkan bahwa pemahaman terhadap capaian sufistik harus diletakkan dalam kerangka metodologis yang integratif agar mampu menjelaskan kompleksitas pengalaman spiritual, sekaligus menilai relevansinya dalam menjawab persoalan spiritual modern. Tasawuf tetap memiliki signifikansi kontemporer sejauh dipahami secara kritis, etis, dan berbasis pada otentisitas tradisi.