Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

KEPEMIMPINAN DALAM PASANG RI KAJANG: PERSPEKTIF LIVING HADIS Shadra, Yasser Mulla; Yeri, Yeri; Amin, Muhammadiyah; Tasbih, Tasbih; Alamshah, Anisah binti
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i2.5256

Abstract

This research attempts to identify and describe the concept of leadership from the perspective of Hadith in general and the concept of leadership from the perspective of Pasang ri Kajang. The reference of this research problem leads to how the concept of leadership according to the Prophet's Hadith, how the concept of leadership in Pasang ri Kajang, and how the encounter of leadership values between the two as a manifestation that the Kajang indigenous community is very intimate with Islamic cultural values. This research uses a mixed method that is library and field by using the concept of Edmund Husserl's phenomenology in looking at the social situation in the Kajang indigenous community. The results of this study found that Leadership in the perspective of the Prophet's hadith and Pasang ri Kajang Perspective has differences and similarities in value, ideal leadership criteria based on the Prophet's hadith. at least fulfills 5 elements, namely a leader has a leadership spirit such as the soul of the Quraysh tribe, intellectual and professional, and able to carry out the task. While leadership criteria according to Pasang ri Kajang Leadership perspective of Pasang ri kajang refers to three main aspects, namely, Macca na Lambusu (intellectual and trustworthy), Barani na gattang (brave and firm), and Sabbara na pesona (patient and trustworthy). The encounter between the two values can be seen from the aspect of intellectual and trustworthy leader criteria, besides that on the other hand the leader must also be honest, have faith in Allah Swt and be responsible. Keywords: Leadership, Hadis, Pasang ri Kajang   Penelitian ini berikhtiar mengidentifikasi dan menguraikan konsep kepemimpinan perspektif Hadis secara umum dan konsep kepemimpinan perspektif Pasang ri Kajang. Adapun rujukan permasalah penelitian ini mengarah kepada bagaimana konsep kepemimpinan menurut hadis Nabi, bagaimana konsep kepemimpinan dalam Pasang ri Kajang, dan bagaiman perjumpaan nilai-nilai kepemimpinan diantara keduanya sebagai wujud bahwa komunitas adat Kajang sangat intim dengan nilai-nilai kebudayaan Islam. Penelitian ini menggunakan metode mix method yaitu pustaka dan lapangan dengan memanfaatkan konsep fenomenologi Edmund Husserl dalam meliht situasi social pada masyrakat adat Kajang.  Hasil penelitian ini menemukan bahwa Kepemimpinan dalam perspektif hadis Nabi dan Perspektif Pasang ri Kajang memiliki perbedaan dan kesamaan nilai, kriteria kepemimpinan yang ideal berdasarkan hadis-hadis Nabi saw. paling tidak memenuhi 5 unsur, yaitu seorang pemimpin memiliki jiwa kepemimpinan seperti jiwa suku Quraisy, intelektual dan professional, serta mampu melaksanakan tugas. Sedangkan kriteria kepemimpinan menurut Pasang ri Kajang Kepemimpinan perspektif Pasang ri kajang mengacu pada tiga aspek pokok yaitu, Macca na Lambusu (intelektual dan Amanah), Barani na gattang (berani dan tegas), dan Sabbara na pesona (sabar dan tawakal). Perjumpaan nilai keduanya dapat ditinjau dari aspek kriteria pemimpin yang intelektual dan amanah, selain itu disisi lain pemimpin juga harus jujur, bertakawwal kepada Allah Swt serta bertanggungjawab. Kata Kunci: Kepemimpinan, Hadis, Pasang ri Kajang
The Social Dynamics of Islamic Philanthropy in Blood Donation: A Case Study in Bulukumba Dinamika Sosial Filantropi Islam dalam Donor Darah: Studi Kasus di Bulukumba Awal, Muh.; Shadra, Yasser Mulla
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan Vol 5, No 2 (2025): JPM: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpm.v5i2.1479

Abstract

This paper outlines the historical background and development of a community service movement initiated by the Government of Bulukumba Regency in the form of a blood donation campaign (sedekah darah) as an expression of social concern for the community. The program adopts the Asset-Based Community Development (ABCD) approach through observation, interviews, and active participation from medical personnel, institutional administrators, and the surrounding community. The primary objective is to assist patients in need of blood transfusions while raising awareness about the importance of blood donation and fostering social philanthropy. The activities are conducted in various locations such as hospitals, government offices, university campuses, and public spaces, in collaboration with the Indonesian Red Cross (PMI) Bulukumba, Baznas Bulukumba, universities across Bulukumba Regency, and other governmental institutions, following hygienic and standardized medical procedures. The results indicate a high level of institutional collaboration, involving 46 institutions and collecting approximately 3,871 bags of blood within 12 months. The novelty of this study lies in the integration of local cultural values, Islamic philanthropic principles, and the ABCD approach within the context of a regional blood donation movement. This contributes both theoretically and practically to the understanding of modern social philanthropy grounded in local wisdom and institutional synergy at the regional level.ABSTRAKTulisan ini menguraikan historisitas dan perkembangan gerakan pengabdian yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Bulukumba dalam bentuk gerakan sedekah darah sebagai wujud kepedulian sosial terhadap masyarakat. Program ini menggunakan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD), dengan metode observasi, wawancara, dan partisipasi aktif dari tenaga medis, pengurus lembaga, dan masyarakat. Tujuan utama kegiatan ini adalah membantu pasien yang membutuhkan transfusi darah sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya donor darah dan nilai filantropi sosial. Kegiatan dilaksanakan di rumah sakit, kantor pemerintah, kampus, dan ruang publik lainnya, bekerja sama dengan PMI Bulukumba, Baznas Bulukumba, perguruan tinggi se-Kabupaten Bulukumba, serta lembaga pemerintah lain, dengan prosedur medis yang higienis dan sesuai standar. Hasil kegiatan menunjukkan kolaborasi aktif dari 46 lembaga dan pengumpulan sekitar 3.871 kantong darah dalam 12 bulan. Novelty dari penelitian ini terletak pada penggabungan antara nilai-nilai lokal, prinsip filantropi Islam, dan pendekatan ABCD dalam konteks gerakan donor darah. Ini memperkuat kontribusi teoritis dan praktis dalam memahami dinamika sosial filantropi modern berbasis kearifan lokal dan sinergi kelembagaan di tingkat daerah.
Corak Pemikiran Tokoh-Tokoh Intelektual Islam Di Abad Kontemporer hasriyoda, hasriyoda; Shadra, Yasser Mulla; Syukur, Syamsan; Rahmawati, Rahmawati
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2317

Abstract

  Kajian ini membahas tentang pola pikir tokoh intelektual Islam kontemporer, dengan fokus pada Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Fazlur Rahman, Nasr Hamid Abu Zayd, Sayyid Qutb, dan Seyyed Hossein Nasr. Setiap tokoh mewakili pendekatan berbeda dalam menanggapi tantangan modernitas dan dinamika perubahan sosial di kalangan umat Islam. Melalui metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan historis dan tekstual, penelitian ini mengungkap bahwa al-Afghani dan Abduh mengusung gaya reformis-modernis; Fazlur Rahman menawarkan pendekatan rasional dan kontekstual terhadap Al-Qur'an; Abu Zayd mengembangkan hermeneutika kritis terhadap teks-teks keagamaan; Sayyid Qutb menekankan ideologi Islam sebagai sistem kehidupan yang komprehensif; dan Seyyed Hossein Nasr menghadirkan spiritualitas Islam tradisional sebagai solusi atas krisis peradaban modern. Temuan-temuan ini menunjukkan adanya keberagaman perspektif produktif dalam wacana pemikiran Islam kontemporer, sekaligus pentingnya penggalian terus-menerus warisan intelektual Islam guna membangun respons Islam yang kontekstual dan relevan dengan perkembangan zaman.
Aestheticizing Coexistence: Public Perceptions of the Istiqlal-Cathedral Tunnel on Social Media Pratama, Muhammad Yusuf; Rahman, Luthfi; Sya'roni, Mokh; Shadra, Yasser Mulla; HS, Muhammad Alwi
KARSA Journal of Social and Islamic Culture Vol. 33 No. 2 (2025): Article in Progress
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v33i2.20836

Abstract

Although Indonesia is known for its religious diversity, numerous incidents of intolerance reveal that symbols and practices of tolerance have yet to be deeply rooted in the country's social fabric. the Terowongan Silaturahmi in this context, a connecting passage between the Istiqlal Mosque and the Jakarta Cathedral—stands out as a rare spatial phenomenon symbolizing interfaith harmony in an urban landscape. This study aims to examine the aesthetic and architectural dimensions of the tunnel and analyze public perceptions of it as a representation of pluralist values. Employing a qualitative-descriptive approach supported by digital quantitative analysis, the study integrates architectural interpretation, literature review, and sentiment classification of 2,003 comments from 5 videos on the YouTube page using the IndoBERT model and word cloud visualization. The findings reveal that the tunnel is broadly perceived as a positive symbol of tolerance and national identity, though some resistance emerges from conservative groups. Therefore, the Terowongan Silaturahmi exempli-fies how architecture can function as a medium for dialogue and social education on interfaith coexistence within Indonesia's public spaces.
ELEMEN KONSTRUKTIVIS FILSAFAT ETIKA MULLA SHADRA Shadra, Yasser Mulla
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 2 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i2.3857

Abstract

Abstrak Beberapa jenis konstruktivisme moral telah banyak dijelaskan para ahlinya. Secara epistemologis, konstruktivisme moral merupakan pengetahuan moral atau justifikasi yang diperoleh melalui penggunaan dan refleksi sudut pandangan praksis atau prosedur untuk menjelaskan sudut pandangan praktis tersebut. Secara semantik, konstruktivisme moral merupakan pandangan bahwa kebenaran moral dan makna diadasarkan pada syarat atau prosedur ini. Ada juga konstruktivisme moral metafisik yang berpendapat bahwa sifat dan wujud fakta dan sifat moral didasarkan pada ciri-ciri praktis dasar atau prosedurnya. Oleh kerana, secara praksis tradisi falsafah morah dipahami secara berbeda sebagaimana falsafah moral Mulla Shadra. Falsafah moral Mulla Shadra merupakan menggabungkan ciri-ciri peripatetik Islam dan tradisi mistik Islam.  Kedua tradisi ini mengandung elemen konstruktivis yang penting. Yang pertama berakar dari Aristotelian dan yang terakhir berakar dari pengembangan para ahli mistik. Kedua merupakan contoh kajian unsur konstruktivis “Tiga Akar” Mulla Sadra.    Kata Kunci: Mulla Shadra, Tiga Akar, Kontruktivisme Moral   Abstract Moral constructivism have been defined by experts. Epistemological moral constructivism is the thesis that moral knowledge or justification is acquired through the use of and reflection on the practical point of view or the procedures designed to elucidate it. Semantic moral constructivism is the view that moral truths and meanings are grounded in these conditions or procedures. Whreas, metaphysical moral constructivism holds that the natures and existences of moral facts and properties are grounded in features of the practical standpoint or the procedures of its manifest. Since the practical point of view is understood differently in different traditions of moral philosophy, one finds Aristotelian, Humean, Kantian, Hegelian, Nietzschean, and other forms of moral constructivism. The moral philosophy of Mulla Sadra is one that combines features of the Islamic-peripatetic and Islamic mystical traditions. Both of these traditions contain important constructivist elements: first with roots in Aristotelian and second what is developed by the mystics. Examples of both are presented and discussed in the course of Three Roots constructivist elements of Mulla Sadra͛s.   Keywords: Mulla Shadra, Three Roots, Moral, Contructivism
Puncak-Puncak Capaian Sufistik Dalam Perspektif Metodologis Asfar, Andi Hasriani; Aderus, Andi; Santalia, Indo; Shadra, Yasser Mulla
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5858

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji puncak-puncak capaian sufistik dalam tradisi tasawuf melalui pendekatan metodologis yang komprehensif. Fokus kajian diarahkan pada konsep-konsep sentral seperti ma‘rifat, fana’, baqa’, ittihad, hulul, dan wihdat al-wujud, serta bagaimana konsep tersebut berkembang dalam konteks historis, epistemologis, dan teologis. Penelitian ini juga menelaah bagaimana pengalaman puncak sufistik dipahami, diinterpretasi, dan dipersoalkan dalam wacana kontemporer, khususnya terkait otoritas spiritual, validitas pengetahuan mistik, serta implikasi etis dan sosialnya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan analisis isi yang dipadukan dengan pendekatan historis-kritis, hermeneutis, dan fenomenologis. Karya-karya klasik tokoh sufi seperti Al-Ghazali, Al-Qusyairi, dan Ibn Arabi, serta literatur akademik kontemporer tentang tasawuf, dijadikan sumber utama dalam merumuskan gambaran metodologis yang utuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puncak capaian sufistik merupakan konstruksi multidimensional yang tidak dapat dipahami hanya melalui kerangka teologis, tetapi juga menuntut pembacaan psikologis, sosial, dan epistemologis. Pendekatan fenomenologis mengungkap sifat subjektif namun terstruktur dari pengalaman mistik, sementara pendekatan historis menyoroti konteks sosial-politik yang membentuk kontroversi seputar konsep seperti ittihad atau wihdat al-wujud. Kajian ini menyimpulkan bahwa pemahaman terhadap capaian sufistik harus diletakkan dalam kerangka metodologis yang integratif agar mampu menjelaskan kompleksitas pengalaman spiritual, sekaligus menilai relevansinya dalam menjawab persoalan spiritual modern. Tasawuf tetap memiliki signifikansi kontemporer sejauh dipahami secara kritis, etis, dan berbasis pada otentisitas tradisi.
Pluralitas Makhluk Dan Keesaan Khaliq: Telaah Kritis Konsepsi Para Sufi Mayani, Mayani; Aderus, Andi; Santalia, Indo; Shadra, Yasser Mulla
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5940

Abstract

Artikel ini membahas konsep pluralitas makhluk dan keesaan Khaliq dalam perspektif tasawuf, dengan menyoroti perbedaan pemaknaan antara tasawuf falsafi dan tasawuf akhlaqi. Pluralitas makhluk dipahami sebagai kenyataan ontologis yang diakui oleh al-Qur’an, sementara keesaan Khaliq merupakan prinsip fundamental tauhid yang menjadi dasar seluruh bangunan teologi Islam. Kajian ini menunjukkan bahwa para sufi tidak menafikan keesaan Tuhan dalam memahami kemajemukan makhluk, melainkan berupaya menjelaskan relasi ontologis antara Yang Esa dan yang banyak melalui pendekatan spiritual dan metafisis. Tasawuf falsafi memaknai pluralitas sebagai manifestasi atau tajalli dari Wujud Tunggal, yang melahirkan konsep-konsep seperti fana’, baqa’, ittihad, hulul, wahdat al-wujud, serta doktrin Nur Muhammad sebagai asal mula kosmik. Sementara itu, tasawuf akhlaqi menegaskan perbedaan esensial antara Khaliq dan makhluk, dengan tetap mengakui pengalaman spiritual selama tidak bertentangan dengan prinsip tauhid dan syari‘ah. Melalui analisis komparatif, artikel ini menegaskan bahwa perbedaan tersebut lebih bersifat metodologis dan ekspresif, bukan pada penolakan terhadap tauhid. Dengan demikian, pemikiran sufistik tentang pluralitas makhluk dan keesaan Khaliq merupakan upaya intelektual-spiritual untuk memperdalam makna tauhid, bukan penyimpangan dari ajaran Islam.