Diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi yang terus meningkat dan menjadi penyebab utama beban pembiayaan kesehatan serta komplikasi kronis. Keterbatasan terapi farmakologis jangka panjang, seperti efek samping dan kegagalan mencapai kontrol glikemik optimal, mendorong pengembangan terapi adjuvan berbasis bahan alam. Daun binahong (Anredera cordifolia) diketahui mengandung berbagai metabolit sekunder, antara lain flavonoid, saponin, tanin, alkaloid, dan polifenol, yang berpotensi memiliki aktivitas antihiperglikemik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian ekstrak etanol daun binahong terhadap kadar glukosa darah pada tikus diabetes melitus terinduksi aloksan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan desain pretest–posttest control group design. Populasi penelitian adalah tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Wistar, dengan sampel sebanyak 25 ekor yang dibagi secara acak ke dalam lima kelompok, yaitu kontrol normal, kontrol negatif, serta tiga kelompok perlakuan dengan dosis ekstrak 25 mg/kgBB, 50 mg/kgBB, dan 100 mg/kgBB. Variabel penelitian meliputi kadar glukosa darah sebagai variabel terikat dan dosis ekstrak sebagai variabel bebas. Kadar glukosa darah diukur menggunakan glucometer pada hari ke-1, 4, 10, 17, dan 24, kemudian dianalisis menggunakan uji ANOVA satu arah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok perlakuan mengalami penurunan kadar glukosa darah dibandingkan kelompok kontrol negatif. Penurunan terbesar terjadi pada kelompok dosis 100 mg/kgBB dengan penurunan sebesar 258,2 mg/dL pada hari ke-24. Disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun binahong berpotensi digunakan sebagai terapi adjuvan dalam pengendalian kadar glukosa darah pada diabetes melitus.