Salwa, Lala Durotus
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Tubuh sebagai Abjek: Paradoks Patriarki dalam Lā Sakākīn fī Maţābikhi Hādhihi al-Madīnah (Kajian Feminisme Kristeva) Salwa, Lala Durotus; Lala Durotus Salwa
Al-Fathin: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab Vol 8 No 02 (2025): Al-Fathin: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/5mcbyz26

Abstract

Kondisi konflik sosial-politik yang berkepanjangan di Suriah turut melahirkan sistem yang menautkan kekuasaan dengan kontrol tubuh perempuan. Perempuan diposisikan di antara dua hal yaitu dituntut dalam moralitas “kesucian” namun juga diobjektifikasi oleh “hasrat”. Novel لا سكاكين في مطابخ هذه المدينة (No Knives in The Kitchen of This City) (2013) karya Khaled Khalifa turut merepresentasikan paradoks sistem patriarkal tersebut. Melalui salah satu tokoh utamanya, Sawsan, tubuhnya dianggap sebagai tubuh yang menjijikkan, sumber dosa, dan harus disingkirkan oleh sistem karena ia dianggap mengganggu stabilitas sistem melalui ketidakpatuhannya. Penelitian ini menggunakan metode eksplanatif-kualitatif. Melalui teori abjeksi Julia Kristeva, penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana paradoks sistem patriarkal sebagai lokus normal abjeksi tersebut dan bagaimana abjeksi muncul baik sebagai strategi stablilitas sistem maupun sebagai respons personal. Hasil penelitian ini adalah (1) sistem patriarkal dalam novel ini bersifat paradoks antara tubuh perempuan yang dituntut dalam konteks moralitas sosial berupa norma “kesucian” keperawanan, tubuh tertutup, dan tersembunyinya hasrat seksual namun juga diobjektifikasi dalam konteks hasrat berupa pelecehan. Paradoks sistem patriarkal ini menjadi lokus “normal” terjadinya abjeksi, (2) abjeksi muncul dari eksternal (sosial, agama, dan politik) sebagai strategi sistem untuk menjaga stabilitasnya dengan menghinakan tubuh Sawsan yang dianggap kotor, terbuka, dan berhasrat sekaligus terinternalisasi dalam dirinya melalui praktik self-abjection berupa operasi selaput dara, ambiguitas pembatasan tubuh antara terbuka dan tertutup, dan represi hasrat. Proses abjeksi ini tidak menghasilkan keutuhan subjek, melainkan membentuk subjektivitas Sawsan sebagai subject in process yang terus bergerak dalam siklus penolakan, melankolia, dan pemaknaan ulang diri tanpa stabilitas final. Abjeksi Sawsan ini tidak hanya dibaca sebagai bentuk resistensi personal, tetapi juga menyingkap kekuatan internalisasi paradoks sistem patriarkal dalam pembentukan tubuh dan kesadaran perempuan Suriah di bawah rezim al-Assad.