Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pelatihan Pembuatan Media Digital Untuk Tajwid Wa Tilawah Al-Qur’an Bagi Calon Guru Madrasah Diniyah Al-Muhsinat Bululwang Malang: Media Digital untuk Tajwid Wa Tilawah Al-Qur'an Fauzan, Moh; Hanik Mahliatussikah; Lala Durotus Salwa; M.A.Qoyyum Muliara; Fatimah Mutmainnah
Tifani : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 2 (2022): Tifani : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The existence of a new era, namely the era of society 5.0, requires everyone to adapt to technology. Technology in this era is developing very quickly, so everyone can be kept from this technology. This is undoubtedly the case in the world of education. Media that was previously only print-based is now required to bring up digital media. In making digital media, skills are needed to be related to mastery of technology. Therefore this training is necessary. This training is used to help prospective teachers at Madrasah Diniyah Al-Muhsinat Bululawang Malang to create digital media in learning Tajwid wa Tilawah Al- Qur'an. Fifty participants attended the training. There are seven materials presented to encourage prospective Madrasah Diniyah Al-Muhsinat teachers to be skilled in making digital media. The methods used in this training are lectures, question and answer, micro-teaching, consultation, coaching, and mentoring. The questionnaire results from implementing this community service activity are as follows. Questionnaire results from the participants. 90% of the participants stated that the facilitators or presenters in this training were excellent, and 10% said they were good. 90% of participants stated that the presentation and mastery of the material by the presenters was excellent, and 10% said it was good. 96% of participants stated that the presented material followed the objectives, and 4% stated it was appropriate. 92% of participants stated that the presented material was exciting, and 8% stated it was interesting. 94% of participants stated that the training venue was very good, and 6% said it was good. 96% said the seminar facilities were excellent, and 4% said they were good. 90% of participants stated that the consumption was excellent, and 10% said it was good. 94% of participants stated that the training agenda was excellent, and 6% said it was good.
Tubuh sebagai Abjek: Paradoks Patriarki dalam Lā Sakākīn fī Maţābikhi Hādhihi al-Madīnah (Kajian Feminisme Kristeva) Salwa, Lala Durotus; Lala Durotus Salwa
Al-Fathin: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab Vol 8 No 02 (2025): Al-Fathin: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/5mcbyz26

Abstract

Kondisi konflik sosial-politik yang berkepanjangan di Suriah turut melahirkan sistem yang menautkan kekuasaan dengan kontrol tubuh perempuan. Perempuan diposisikan di antara dua hal yaitu dituntut dalam moralitas “kesucian” namun juga diobjektifikasi oleh “hasrat”. Novel لا سكاكين في مطابخ هذه المدينة (No Knives in The Kitchen of This City) (2013) karya Khaled Khalifa turut merepresentasikan paradoks sistem patriarkal tersebut. Melalui salah satu tokoh utamanya, Sawsan, tubuhnya dianggap sebagai tubuh yang menjijikkan, sumber dosa, dan harus disingkirkan oleh sistem karena ia dianggap mengganggu stabilitas sistem melalui ketidakpatuhannya. Penelitian ini menggunakan metode eksplanatif-kualitatif. Melalui teori abjeksi Julia Kristeva, penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana paradoks sistem patriarkal sebagai lokus normal abjeksi tersebut dan bagaimana abjeksi muncul baik sebagai strategi stablilitas sistem maupun sebagai respons personal. Hasil penelitian ini adalah (1) sistem patriarkal dalam novel ini bersifat paradoks antara tubuh perempuan yang dituntut dalam konteks moralitas sosial berupa norma “kesucian” keperawanan, tubuh tertutup, dan tersembunyinya hasrat seksual namun juga diobjektifikasi dalam konteks hasrat berupa pelecehan. Paradoks sistem patriarkal ini menjadi lokus “normal” terjadinya abjeksi, (2) abjeksi muncul dari eksternal (sosial, agama, dan politik) sebagai strategi sistem untuk menjaga stabilitasnya dengan menghinakan tubuh Sawsan yang dianggap kotor, terbuka, dan berhasrat sekaligus terinternalisasi dalam dirinya melalui praktik self-abjection berupa operasi selaput dara, ambiguitas pembatasan tubuh antara terbuka dan tertutup, dan represi hasrat. Proses abjeksi ini tidak menghasilkan keutuhan subjek, melainkan membentuk subjektivitas Sawsan sebagai subject in process yang terus bergerak dalam siklus penolakan, melankolia, dan pemaknaan ulang diri tanpa stabilitas final. Abjeksi Sawsan ini tidak hanya dibaca sebagai bentuk resistensi personal, tetapi juga menyingkap kekuatan internalisasi paradoks sistem patriarkal dalam pembentukan tubuh dan kesadaran perempuan Suriah di bawah rezim al-Assad.