Latar Belakang: Henti jantung merupakan kondisi kegawatdaruratan yang dapat menyebabkan kematian dalam hitungan menit bila tidak ditangani segera. Basic Life Support (BLS) atau Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan pertolongan awal untuk mempertahankan fungsi vital melalui tindakan seperti penilaian respons, aktivasi sistem bantuan, serta resusitasi jantung paru (RJP/CPR). Pada konteks sekolah, remaja—terutama anggota Palang Merah Remaja (PMR)—berpotensi menjadi penolong awam pertama dalam situasi pra-rumah sakit (pre-hospital). Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota PMR dalam melakukan pertolongan awal BLS pada kasus henti jantung. Metode: Program dilaksanakan melalui edukasi singkat, demonstrasi, dan simulasi berbasis praktik dengan pendekatan partisipasi aktif pada 40 anggota PMR tingkat SMA Kabupaten Takalar. Evaluasi dilakukan secara deskriptif melalui pengukuran pengetahuan dan observasi keterampilan sebelum dan setelah simulasi menggunakan kuesioner serta lembar observasi berbasis SOP BLS. Hasil: Sebelum simulasi, seluruh peserta berada pada kategori pengetahuan kurang (40; 100%) dan keterampilan kurang (40; 100%). Setelah simulasi, kategori pengetahuan meningkat menjadi baik pada 33 peserta (82,5%) dan keterampilan baik pada 30 peserta (75%). Kesimpulan: Simulasi pre-hospital BLS pada anggota PMR tingkat SMA di Kabupaten Takalar menunjukkan perbaikan kategori pengetahuan dan keterampilan setelah pelaksanaan program. Kegiatan ini berpotensi menjadi model pembinaan rutin kesiapsiagaan kegawatdaruratan di lingkungan sekolah.