Tuberkulosis (TB) masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, yangmemengaruhi sekitar 1 juta orang dan menyebabkan sekitar 134.000 kematian setiap tahun. Indonesiamenjadi negara dengan tingkat TB tertinggi kedua di dunia. Sebagai respons terhadap masalahmendesak ini, pemerintah telah menetapkan tujuan untuk mengeliminasi TB pada tahun 2030. Namun,terdapat beberapa hambatan yang harus diatasi, termasuk stigma sosial, fasilitas kesehatan yang tidakmemadai dan kurangnya kesadaran masyarakat mengenai penyakit ini serta opsi kesehatan yangtersedia. Peran dan kompetensi petugas TB sangat penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan,update kebijakan terbaru dan memanfaatkan sistem pencatatan kasus TB secara efektif. Untuk memperkuat kemampuan, sesi pelatihan tatap muka telah dilaksanakan, dengan efektivitas sesi tersebut melalui pre-posttest. Setelah pelatihan, pemahaman petugas terhadap materi mengalami peningkatan yang signifikan. Hasil pre-posttest menunjukkan kinerja petugas TB secara umum positif, 6% membutuhkan pelatihan tambahan dan 5% membutuhkan dukungan program dan 11% mengalami kesulitan dengan sistem pencatatan kasus. Temuan ini menyoroti pentingnya pelatihan dan dukungan untuk meningkatkan kinerja petugas TB, yang pada akhirnya berkontribusi pada upaya pengendalian TB yang efektif dan berkelanjutan.  Abstract Tuberculosis (TB) remains a significant public health challenge in Indonesia affecting approximately 1million individuals and resulting in around 134,000 death annualy. Indonesia became a country with thesecond-highest TB rates globally. In response to this urgent matter, the government has voiced anambitious objective to eliminate TB by 2030. However, several obstacles must be navigated, includingsocial stigma, insufficient healthcare infrastructure, and a general unawareness regarding the diseaseand available treatment options. The roles and competencies of TB officers are crucial in enchancing thequality of care, staying abreast of new regulatory policies, and effectively utilizing the TB case recordingsystem. To strengthen their capabilities, face-to-face training sessions were implemented, with theeffectiveness of these sessions assessed via pre and pos training tests. After the training, a significantincrease in the officers’ understanding of the material has increased. Pre-posttest result shows agenerally positive performance among TB officers; nonetheless 6% expressed a need for additionaltraining, 5% called for program support, and 11% encountered difficulties with the case recordingsystem. These finding underscore the necessity for training and support for enchancing performance ofTB officers, ultimately contributing to more effective and sustainable TB control efforts.