Isti Nur Rahmahwati
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategic Leverage Indonesia terhadap Eksepsionalisme Tiongkok-Amerika Serikat di Laut Cina Selatan Isti Nur Rahmahwati; Kuswardini, Seftina; Candrawati, Mayang Dini 
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 18 No. 2 (2025): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v18i2.77835

Abstract

Meningkatnya ambisi maritim Tiongkok di Laut Cina Selatan dalam beberapa tahun terakhir memantik dilema ketidakamanan bagi AS. Kompleksitas ini terfragmentasi dimana rivalitas Tiongkok-AS mengarah pada persaingan diskursif untuk menjadi negara eksepsional, yang berpotensi mengancam keamanan maritim di Asia Tenggara, termasuk wilayah perairan Indonesia. Perairan Indonesia, termasuk Natuna Utara, merupakan jalur perdagangan maritim strategis di Asia Tenggara. Persinggungan klaim Tiongkok dengan perairan Natuna Utara dan kehadiran militer AS di Laut Cina Selatan menempatkan Indonesia pada posisi yang dilematis untuk mengambil kebijakan luar negeri yang strategis dan selektif. Berdasarkan latar belakang tersebut, pertanyaan yang diajukan adalah bagaimana Indonesia menerapkan strategic leverage dalam menginterpretasikan dan menentang eksepsionalisme Tiongkok-AS di Laut Cina Selatan? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis strategic leverage Indonesia terhadap eksepsionalisme Tiongkok-AS di Laut Cina Selatan dengan mengadopsi landasan pemikiran eksepsionalisme K.J. Holsti dan politics of leverage H. Richard Friman. Menggunakan metode kualitatif berbasis critical discourse analysis (CDA) oleh Norman Fairclough, penelitian ini menunjukkan bahwa rivalitas Tiongkok-AS di Laut Cina Selatan memperlihatkan adanya upaya untuk memperebutkan identitas sebagai negara-negara eksepsional. Dengan posisinya yang strategis, Indonesia menggunakan tiga instrumen strategic leverage: naming, shaming, sanctioning dalam menginterpretasikan dan menentang eksepsionalisme Tiongkok-AS di Laut Cina Selatan. Kata Kunci: Eksepsionalisme; Strategic Leverage; Rivalitas; Laut Cina Selatan; Diskursus.
South-South Paradiplomacy: A Channelling Mechanism of Denpasar-Mossel Bay Sister-City Cooperation Isti Nur Rahmahwati; Jevons Kollie Kawala
Journal of Paradiplomacy and City Networks Vol. 4 No. 2: December 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jpcn.v4i2.123

Abstract

The practice of paradiplomacy in the Global South countries is currently on the rise. While prior studies have predominantly focused on Global North paradiplomacy, this paper demonstrates how legal regimes structurally channel paradiplomacy yet remain resilient in digital formats, using a case study of Denpasar-Mossel Bay sister city cooperation. It was analyzed as a contemporary manifestation of South-South cooperation rooted in the historical ‘Bandung Spirit’ but adapted to the modern imperatives of local development. This paper refines Lecours’ three-layered model of paradiplomacy by situating it within a Global South regulatory context, employing qualitative analysis of a case study and discourse. The findings revealed that Denpasar-Mossel Bay sister city cooperation is a pragmatic and resilient form of apolitical paradiplomacy, strategically focused on economic and cultural-technical objectives while deliberately avoiding political dimensions. This channeling of sub-national ambition is a direct consequence of the national regulatory framework. The case exhibits a remarkable capacity for adaptation, particularly through the adoption of digital methods during the COVID-19 pandemic, which helped sustain the relationship and ultimately led to its renewal. The paper concluded that South-South paradiplomacy represents a viable, cost-effective model for mutual development, knowledge exchange, and a democratized form of international engagement for sub-national actors in developing countries.