Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gambar Pengetahuan Ibu Hamil Trimester 3 Tentang Manfaat Pijat Oksitosin Dalam Meningkatkan Produksi ASI: Image Knowledge of Pregnant Women in Their Third Trimester About the Benefits of Oxytocin Massage in Increasing Breast Milk Production Ni Made Ayu Santhi Nareswari; N.L.G Puspita Yanti; I Gede Juanamasta
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 1: Januari 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i1.10083

Abstract

Cakupan pemberian ASI yang masih rendah dari capaian target global maupun nasional. Capaian global dengan 44% dari 50% capaian target, nasional 65% dari 80% capaian target dan Kota Madya Denpasar 70,2% dari 80% capaian target. Intervensi yang dapat dilakukan untuk memproduksi ASI dengan cara pijat oksitosin. Pijat oksitosin bertujuan merangsang pengeluaran hormon oksitosin, sehingga dapat membantu melancarkan produksi ASI dan pemberian ASI secara optimal. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi gambaran karakteristik ibu dan mengidentifikasi tingkat pengetahuan ibu hamil trimester 3 tentang manfaat pijat oksitosin dalam meningkatkan produksi ASI. Penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif, populasi penelitian ini adalah seluruh ibu hamil trimester 3 di UPTD Puskesmas 1 Denpasar Utara, jumlah sampel penelitian ini adalah 49 ibu hamil trimester 3, yang diambil dengan teknik accidental sampling, pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang sudah uji validitas & reliabilitas. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan ibu hamil trimester 3 tentang manfaat pijat oksitosin dalam meningkatkan produksi ASI sebagian besar dengan tingkat pengetahuan kurang, yaitu 31 orang (63,3%) dan sebagian kecil ibu berpengetahuan baik 5 orang (10,2%). Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya sebagian besar ibu dengan usia reproduktif 20-35 tahun, paritas nulipara, pendidikan SMA, dan pekerjaan ibu rumah tangga. Faktor terjadinya pengetahuan kurang dikarenakan pada usia reproduktif rentan kurang informasi, paritas nulipara belum pengalaman dari kelahiran sebelumnya, pendidikan SMA kurangnya kemampuan literasi kesehatan dan akses terhadap sumber informasi ilmiah seperti pijat oksitosin, serta pekerjaan ibu rumah tangga memiliki interaksi sosial yang terbatas di luar lingkungan sehingga minimnya pengetahuan tentang edukasi kesehatan
HUBUNGAN PERILAKU PICKY EATING DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA 24-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SIDEMEN Hidianti, Diva Alsya; I Gede Juanamasta; I Gusti Ayu Putu Satya Laksmi
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 2 (2026): Vol. 6 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i2.1273

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan masalah gizi kronis pada balita yang berdampak pada pertumbuhan fisik dan perkembangan anak. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam terjadinya stunting adalah perilaku picky eating. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan perilaku picky eating dengan kejadian stunting pada balita 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sidemen. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan case-control. Sampel penelitian berjumlah 42 orang, yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuisioner CEBQ dan microtoise. Hasil penelitian menunjukkan usia terbanyak 26-30 tahun yaitu 7 orang (50%) pada kelompok kasus dan 11 orang (39,3%) pada kelompok kontrol, Pendidikan mayoritas yaitu SD pada kelompok kasus sebanyak 6 orang (42,9%) dan SMP sebanyak 10 orang (35,7%) kelompok kontrol, pekerjaan mayoritas yaitu buruh/petani pada kelompok kasus sebanyak 7 orang (50%) dan tidak memiliki pekerjaan pada kelompok kontrol 11 orang (39,3%), hubungan dengan anak mayoritas yaitu ibu pada kelompok kasus sebanyak 14 orang (100%) dan kontrol 22 orang (78,6%), jumlah anak mayoritas yaitu ≤ 2 anak pada kelompok kasus sebanyak 9 orang (64,3%) dan kontrol 22 orang (78,6%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita pada kelompok kasus memiliki perilaku picky eating dibandingkan kelompok kontrol. Hasil: Terdapat hubungan antara perilaku picky eating dengan kejadian stunting pada balita usia 24–59 bulan berdasarkan uji chi square dengan nilai signifikasi p-value 0,025 (p < 0,05). Kesimpulan: Perilaku picky eating berhubungan dengan kejadian stunting pada balita, sehingga diperlukan upaya pencegahan melalui edukasi pola makan dan pemantauan gizi secara rutin.