Nilai-nilai budaya tradisonal cenderung mulai tergerus oleh perkembangan zaman. Generasi muda Bengkulu cenderung kurang mengenal warisan budaya mereka sendiri. Hal ini juga disebabkan oleh minimnya upaya integrasi budaya lokal ke dalam bentuk produk yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Salah satu ciri khas budaya Bengkulu adalah rumah adatnya, yang dikenal dengan keindahan dan kekokohan desainnya. Salah satu elemen artistik yang menjadi daya tarik utama dari rumah adat ini adalah motif les plank. Dalam hal ini untuk dapat melestarikan budaya yang ada tentu perlunya modifikasi yang dapat di nikmati dalam setiap kalangan seperti kain batik bermotif les plank. Penggunaan motif les plank yang terinspirasi dari rumah adat Melayu kota Bengkulu merupakan inovasi baru dalam dunia motif batik di Bengkulu. Les plank dapat menjadi sebuah motif yang dapat diabadikan dalam sebuah kain yang bernama kain batik les plank rumah adat Melayu kota bengkulu. Sebagian besar pengrajin batik Bengkulu belum memiliki keahlian khusus dalam mendesain motif berbasis les plank. Hal ini, disebabkan minimnya pelatihan teknis dan fasilitas pendukung untuk membuat desain secara mandiri. Tanpa inovasi desain, batik Bengkulu cenderung menggunakan motif yang sama di setiap produksinya. Program pengabdian dengan pendampingan masyarakat yang terintegritas, melibatkan pelatihan teknis, promosi budaya, dan pemberdayaan ekonomi dilakukan untuk memastikan keberlanjutan pengrajin batik Bengkulu. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah sosialisasi, tanya jawab, simulasi dan pelatihan yang diadakan di kampung batik Pancamukti. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dalam jangka waktu 8 (delapan) bulan mulai bulan Januari 2025.