Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pemaknaan Setawar Sedingin Dalam Penyelesaian Konflik Pada Masyarakat Bengkulu Alfarabi; Aldila Vidianingtyas Utami; Puji Haryadi Mulyana Sukma; Venti Puspitasari
Jurnal Khabar: Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : STAI Bumi Silampari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37092/khabar.v7i2.1434

Abstract

This study on the "Setawar Sedingin Tradition in Bengkulu Society" aims to uncover the meaning of the Setawar Sedingin tradition within Bengkulu's traditional processions and explain the process by which it takes place. In this study, the researcher employed a qualitative method with a phenomenological approach to examine the meanings contained within Setawar Sedingin based on the real-life experiences of research informants, whom the researcher selected using a purposive sampling technique. To collect data, the researcher employed observation, interviews, and document searches related to Setawar Sedingin. Subsequently, the researcher employed data reduction and triangulation as data analysis techniques, and used data verification with research informants to validate the data. The results indicate that the Setawar Sedingin tradition is named after the leaves of the plant setawar and sedingin. Setawar and Sedingin have the meaning of offering and cooling down conflicts.
Pembuatan Kain Batik dengan Menggunakan Motif Les Plank Rumah Adat Bengkulu Alfarabi, Alfarabi; Aan Erlansari; Dahuri Halomoan Harahap; Venti Puspitasari; Puji Haryadi Mulyana Sukma; Aldila Vidianingtyas Utami
JURNAL ABDIMAS SERAWAI Vol. 5 No. 3 (2025): Jurnal Abdimas Serawai (JAMS)
Publisher : Program Studi Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Bengkulu 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/jams.v5i3.9250

Abstract

Nilai-nilai budaya tradisonal cenderung mulai tergerus oleh perkembangan zaman. Generasi muda Bengkulu cenderung kurang mengenal warisan budaya mereka sendiri. Hal ini juga disebabkan oleh minimnya upaya integrasi budaya lokal ke dalam bentuk produk yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Salah satu ciri khas budaya Bengkulu adalah rumah adatnya, yang dikenal dengan keindahan dan kekokohan desainnya. Salah satu elemen artistik yang menjadi daya tarik utama dari rumah adat ini adalah motif les plank. Dalam hal ini untuk dapat melestarikan budaya yang ada tentu perlunya modifikasi yang dapat di nikmati dalam setiap kalangan seperti kain batik bermotif les plank. Penggunaan   motif les plank yang terinspirasi dari rumah adat Melayu kota Bengkulu merupakan inovasi baru dalam dunia motif batik di Bengkulu.  Les plank dapat menjadi sebuah motif yang dapat diabadikan dalam sebuah kain yang bernama kain batik les plank rumah adat Melayu kota bengkulu. Sebagian besar pengrajin batik Bengkulu belum memiliki keahlian khusus dalam mendesain motif berbasis les plank. Hal ini, disebabkan minimnya pelatihan teknis dan fasilitas pendukung untuk membuat desain secara mandiri. Tanpa inovasi desain,  batik Bengkulu cenderung menggunakan motif yang sama di setiap produksinya. Program pengabdian dengan pendampingan masyarakat yang terintegritas, melibatkan pelatihan teknis, promosi budaya, dan pemberdayaan ekonomi dilakukan untuk memastikan keberlanjutan pengrajin batik Bengkulu. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah sosialisasi, tanya jawab, simulasi dan pelatihan yang diadakan di kampung batik Pancamukti. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dalam jangka waktu 8 (delapan) bulan mulai bulan Januari 2025.
Dominance of Government Communication Messages in The Implementation of The Bengkulu Tabut Festival 2025 Alfarabi; Nadya Sukmawati Dewi; Heni Indriani; Bintara Santika; Prio Santoso; Puji Haryadi Mulyana Sukma
DAWUH : Islamic Communication Journal Vol. 7 No. 2 (2026): July
Publisher : Yayasan Darussalam Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62159/dawuh.v7i2.2018

Abstract

This study aims to analyze the dominance of government communication messages in the implementation of the Bengkulu Tabut Festival 2025 and to examine how the meaning of the Tabut tradition is represented within the context of cultural tourism. This research employs a critical paradigm with a qualitative approach. Data were collected through in-depth interviews and document analysis involving informants from the Bengkulu Provincial Tourism Office, the event organizer Areacorps Creative, and traditional communities such as Balai Adat Rajo Penghulu and the Kerukunan Keluarga Tabut (KKT). Data analysis was conducted using the interactive model of Miles and Huberman.The results show that the local government acts as a dominant actor in shaping and constructing the meaning of Tabut through various representations within the festival, such as cultural performances, public service programs, and community economic activities. From the perspective of Muted Group Theory, this condition indicates an imbalance in the production of meaning, where the government as the dominant group controls the public narrative, while the Kerukunan Keluarga Tabut (KKT) occupies a less dominant position in determining the meaning of the tradition. Nevertheless, the Kerukunan Keluarga Tabut (KKT) demonstrates forms of resistance by maintaining the sacred values of Tabut as a spiritual cultural heritage.