Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan mendesak untuk memahami faktor-faktor sosiologis yang menghambat implementasi pembelajaran berdiferensiasi, agar kebijakan dan praktik pendidikan di sekolah negeri khususnya dalam konteks Kurikulum Merdeka dapat dirancang secara lebih kontekstual, adil, dan berpihak pada keberagaman kebutuhan belajar siswa.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hambatan-hambatan yang dihadapi guru dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di sekolah negeri dari perspektif sosiologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus di UPTD SMA Negeri 1 Wonomulyo. Informan dipilih secara purposif, terdiri atas guru, wakil kepala sekolah, dan siswa. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan analisis tematik, sementara keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber, triangulasi metode, dan member checking.Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama terletak pada tiga aspek: Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi berasal dari tiga aspek penting, yaitu: (1) struktur sosial sekolah yang hierarkis, di mana birokrasi dan dominasi keputusan dari pihak manajemen membatasi ruang inovasi guru; (2) habitus mengajar guru yang masih tradisional akibat kultur pendidikan lama, minimnya pelatihan berkelanjutan, serta kondisi sekolah di wilayah kecamatan yang memiliki keterbatasan sumber daya sehingga pembelajaran cenderung bersifat teacher-centered, seragam, dan kurang mempertimbangkan perbedaan siswa; serta (3) keterbatasan fasilitas dan sumber daya seperti kurangnya media, teknologi, dan waktu untuk merancang diferensiasi pembelajaran. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pembelajaran berdiferensiasi sangat bergantung pada dukungan struktural sekolah, pergeseran budaya organisasi, dan peningkatan kapasitas guru secara berkelanjutan, sekaligus memberikan kontribusi bagi perumusan kebijakan pendidikan yang lebih responsif terhadap kebutuhan guru dan siswa.