T. Niyode, Diyanti
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Dysphemia in the 2024 Presidential Candidate Debates and Its Relevance to Indonesian Language Learning T. Niyode, Diyanti; Malabar, Sayama; Ntelu, Asna
Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026 | in progress
Publisher : Raja Zulkarnain Education Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55909/jpbs.v5i1.1062

Abstract

Kajian ini bertujuan menganalisis disfemia dalam debat calon presiden pada Pemilu 2024 serta relevansinya dengan pembelajaran Bahasa Indonesia. Fokus penelitian diarahkan pada identifikasi bentuk-bentuk disfemia yang muncul dalam tuturan para kandidat, interpretasi makna disfemia dalam konteks adu argumentasi politik, serta penerapan temuan-temuan tersebut dalam pembelajaran teks debat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa disfemia muncul dalam tiga bentuk utama, yaitu kata, frase, dan kalimat. Bentuk kata paling menonjol digunakan untuk memberikan serangan langsung melalui diksi negatif, sedangkan bentuk frasa memperluas kritik dalam konstruksi bahasa yang lebih kompleks. Bentuk kalimat menyampaikan kritik paling utuh dan terstruktur, berfungsi membangun narasi yang mempengaruhi citra dan kredibilitas lawan. Distribusi penggunaan disfemia berbeda antar kandidat: Anies Baswedan tekanan kritik berbasis kebijakan, Prabowo Subianto dominan dalam serangan personal, sedangkan Ganjar Pranowo lebih terbatas dan cenderung responsif. Makna disfemia yang mencakup meremehkan, menyindir, meremehkan, meremehkan, menuduh, dan memojokkan lawan. Penggunaan makna ini menunjukkan strategi komunikasi yang bertujuan untuk memperkuat argumen, menghadirkan lawan, dan mempengaruhi persepsi publik. Relevansi terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia terlihat dari kemampuan siswa mengenali fungsi retoris, dampak pilihan kata, serta etika komunikasi. Analisis disfemia juga mendukung literasi kritis dan pengembangan karakter, sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual, reflektif, dan sesuai dengan Kurikulum Merdeka. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa bahasa dalam wacana politik tidak netral, melainkan memuat strategi persuasif yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, analitis, dan etis peserta didik.