Tuberkulosis (TB) tetap menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di dunia, dengan Indonesia termasuk dalam tiga negara dengan beban TB tertinggi menurut laporan WHO. Wilayah kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadapi hambatan geografis, keterbatasan infrastruktur radiologi, serta stigma sosial yang memperlambat pencapaian target eliminasi TB nasional tahun 2030. Program pengabdian masyarakat ini dirancang sebagai intervensi berbasis komunitas untuk meningkatkan penemuan kasus TB aktif melalui pendekatan Active Case Finding (ACF) dengan pemanfaatan Portable X-Ray Mobile Unit, yang adaptif terhadap kondisi daerah terpencil. Kegiatan dilaksanakan di Kabupaten Alor pada 22–25 November 2025, melibatkan 502 individu dari tiga desa prioritas (Wetabua, Lendola, Petleng). Proses skrining mengikuti alur kerja terstruktur enam meja: registrasi, skrining gejala, pemeriksaan X-Ray thoraks, penentuan terduga TB, pemeriksaan lanjutan (dahak, TST, TPT), serta input data ke Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Hasil menunjukkan 498 pemeriksaan X-Ray (99,2%), 121 TST (24,1%), 79 pengambilan dahak (39,5% dari kasus terduga), serta 200 kasus terduga TB (yield 39,8%). Input SITB mencapai 376 orang (74,9% dari yang diskrining), atau 62% dari target 800 sasaran. Temuan ini menegaskan efektivitas strategi ACF dalam menjangkau populasi berisiko tinggi, meskipun capaian target belum optimal. Tingkat temuan kasus terduga yang tinggi menunjukkan bahwa pendekatan berbasis risiko mampu mengidentifikasi beban tersembunyi TB di komunitas. Selain dampak kesehatan, program ini memperkuat kapasitas tenaga kesehatan lokal, menghasilkan data epidemiologi valid untuk kebijakan berbasis bukti, serta meningkatkan koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, puskesmas, akademisi, dan masyarakat. Secara operasional, penggunaan teknologi portable X-Ray terbukti memperluas akses diagnostik ke wilayah dengan keterbatasan fasilitas radiologi. Implikasi kebijakan dari program ini adalah perlunya replikasi model ACF berbasis komunitas di daerah kepulauan lain, integrasi SITB secara real-time, serta penguatan kapasitas tenaga kesehatan lokal untuk keberlanjutan program. Dengan evaluasi berkelanjutan dan dukungan lintas sektor, intervensi ini diharapkan berkontribusi pada pencapaian target eliminasi TB global tahun 2030.