Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENDAMPINGAN CARA PEMBERIAN MAKAN PADA ANAK STUNTING DAN GIZI KURANG DI DESA RAKNAMO Aben B.Y.H. Romana; Fransiskus S. Onggang; Florentianus Tat; Artha Abeatrix Ndun; Kresiani Sonya Selan; Rani Franminjun Nggoek
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 4 No. 8: Januari 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jabdi.v4i8.9488

Abstract

Di Desa Raknamo permsalahan stunting terjadi karena ibu mengalami kekurangan nutrisi, kehamilan pretern, pemberian makanan yang tidak optimal, tidak ASI eksklusif, infeksi, pelayanan kesehatan, pendidikan, sosial budaya dan sanitasi lingkungan yang masih belum memadai. Program ini juga bertujuan untuk memberdayakan kader Posyandu di Desa Raknamo sebagai mitra yang akan melanjutkan edukasi dan pendampingan kepada ibu balita. Metode pelaksanaan kegiatam pengabdian ini berupa pendampingan secara langsung dan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung, wawancara terstruktur, pengukuran fisik, kuisioner, dokumentasi. Hasil kegiatan pengabdian ini adalah program pendampingan cara pemberian makan pada anak gizi kurang dan stunting di Desa Raknamo telah berhasil meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan orang tua, terutama para ibu balita, dalam hal gizi anak dan pola makan sehat. Melalui penyuluhan, demonstrasi, dan pendampingan langsung, ibu-ibu mulai memahami pentingnya memberikan makanan bergizi dan mulai mengaplikasikan pola makan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Pendampingan kader Posyandu yang terlibat secara aktif juga menunjukkan hasil yang positif, di mana mereka kini dapat melanjutkan edukasi dan pemantauan pertumbuhan anak secara mandiri
STATUS NUTRSI PASIEN KANKER YANG MENJALANI KEMOTERAPI DI RSUD Prof Dr W. Z JOHANNES KUPANG Fransiskus S. Onggang; Bringiwatty Batbual; Aben B.Y. H. Romana; Agustina Ina; Jane Leo Mangi; Gadur Blasius; Maria Sambriong; Dominggos Gonsalves; Mariana Oni Betan; Oklan BT Liunokas
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 1: Juni 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cancer is one of the diseases with the highest mortality rate in the world. Every year the number of cancer patients in the world increases to 6.25 million people. WHO estimates that 500,000 new cases of breast cancer are diagnosed with a death toll of approximately 3,750 deaths per year. Objective: Education with booklet media can increase patient knowledge about good nutrition during chemotherapy. This study aims to analyze the effect of booklets on the level of knowledge of cancer patients at RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang Hospital. Methods: This study used a pre experiment one group pre-post test design with 38 cancer patient respondents. The variables analyzed included the level of knowledge before and after the booklet intervention. Data were analyzed using the Wilchoxon statistical test and cross tab. Results: There is an effect of education with booklet media, where it is obtained asymp. Sig (2-tailed) is 0.000 <0.05. Conclusion: There is an effect of education through booklet media about nutrition on the level of knowledge in patients undergoing chemotherapy at Prof. Dr. W. Z. Hospital Kupang. Johannes Kupang Hospital. Suggestion: It is hoped that this study can provide information and input to cancer patients undergoing chemotherapy at Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang, about nutritional knowledge so that they can practice it and the hospital can explain more about nutrition to all patients at RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang Hospital
ACTIVE CASE FINDING TUBERKULOSIS DENGAN PORTABLE X-RAY DI KABUPATEN ALOR, NUSA TENGGARA TIMUR Simon Sani Kleden; Christina Grasia Kellen; Fransiskus S. Onggang; Aminah Haslinda Baun; Marianus Lino; Sri Jayanti Wahyuni Adang Djaha
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 8 (2026): Januari 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis (TB) tetap menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di dunia, dengan Indonesia termasuk dalam tiga negara dengan beban TB tertinggi menurut laporan WHO. Wilayah kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadapi hambatan geografis, keterbatasan infrastruktur radiologi, serta stigma sosial yang memperlambat pencapaian target eliminasi TB nasional tahun 2030. Program pengabdian masyarakat ini dirancang sebagai intervensi berbasis komunitas untuk meningkatkan penemuan kasus TB aktif melalui pendekatan Active Case Finding (ACF) dengan pemanfaatan Portable X-Ray Mobile Unit, yang adaptif terhadap kondisi daerah terpencil. Kegiatan dilaksanakan di Kabupaten Alor pada 22–25 November 2025, melibatkan 502 individu dari tiga desa prioritas (Wetabua, Lendola, Petleng). Proses skrining mengikuti alur kerja terstruktur enam meja: registrasi, skrining gejala, pemeriksaan X-Ray thoraks, penentuan terduga TB, pemeriksaan lanjutan (dahak, TST, TPT), serta input data ke Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Hasil menunjukkan 498 pemeriksaan X-Ray (99,2%), 121 TST (24,1%), 79 pengambilan dahak (39,5% dari kasus terduga), serta 200 kasus terduga TB (yield 39,8%). Input SITB mencapai 376 orang (74,9% dari yang diskrining), atau 62% dari target 800 sasaran. Temuan ini menegaskan efektivitas strategi ACF dalam menjangkau populasi berisiko tinggi, meskipun capaian target belum optimal. Tingkat temuan kasus terduga yang tinggi menunjukkan bahwa pendekatan berbasis risiko mampu mengidentifikasi beban tersembunyi TB di komunitas. Selain dampak kesehatan, program ini memperkuat kapasitas tenaga kesehatan lokal, menghasilkan data epidemiologi valid untuk kebijakan berbasis bukti, serta meningkatkan koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, puskesmas, akademisi, dan masyarakat. Secara operasional, penggunaan teknologi portable X-Ray terbukti memperluas akses diagnostik ke wilayah dengan keterbatasan fasilitas radiologi. Implikasi kebijakan dari program ini adalah perlunya replikasi model ACF berbasis komunitas di daerah kepulauan lain, integrasi SITB secara real-time, serta penguatan kapasitas tenaga kesehatan lokal untuk keberlanjutan program. Dengan evaluasi berkelanjutan dan dukungan lintas sektor, intervensi ini diharapkan berkontribusi pada pencapaian target eliminasi TB global tahun 2030.