Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STRATEGI PENGEMBANGAN NASI PUYUNG SEBAGAI DAYA TARIK WISATA KULINER BERBASIS MASYARAKAT DI DESA PUYUNG, LOMBOK TENGAH Lalu Yulendra; Muharis Ali; Lahmudin, Lahmudin; Subianto, Subianto; Waslan, Waslan; Ulfa Raudatul Jannah
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 8 (2026): Januari 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nasi Puyung merupakan kuliner khas Lombok Tengah yang memiliki nilai historis, budaya, dan ekonomi yang kuat serta telah dikenal luas oleh masyarakat lokal maupun wisatawan. Namun, hingga saat ini pengelolaannya masih bersifat individual, tradisional, dan belum terintegrasi secara strategis dalam sistem pengembangan pariwisata desa. Penelitian/pengabdian ini bertujuan untuk menganalisis potensi Nasi Puyung sebagai daya tarik wisata kuliner berbasis masyarakat serta merumuskan strategi pengembangannya agar mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat Desa Puyung. Kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dan partisipatoris melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan pelaku usaha Nasi Puyung, penyebaran kuesioner kepada wisatawan, serta Focus Group Discussion (FGD) bersama pemangku kepentingan desa. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa Nasi Puyung memiliki kekuatan utama pada cita rasa autentik, nilai budaya Sasak, dan popularitas berbasis rekomendasi informal (word of mouth). Wisatawan menilai pengalaman mengonsumsi Nasi Puyung sebagai bagian dari pengalaman wisata yang otentik, namun masih ditemukan kelemahan pada aspek penataan, kenyamanan, standar pelayanan, serta kurangnya narasi budaya dan branding kolektif. Melalui analisis SWOT dan diskusi partisipatif, dirumuskan strategi pengembangan berbasis Community-Based Tourism (CBT) yang menekankan pada penguatan peran masyarakat sebagai pelaku utama. Strategi tersebut meliputi penguatan identitas kolektif Nasi Puyung sebagai ikon kuliner desa, standarisasi minimum tanpa menghilangkan keaslian, pengemasan pengalaman kuliner berbasis cerita budaya, serta integrasi Nasi Puyung dalam paket wisata desa. Pendekatan ini dinilai mampu menjaga keberlanjutan kuliner tradisional sekaligus meningkatkan daya tarik wisata dan pendapatan masyarakat. Secara keseluruhan, kegiatan ini menunjukkan bahwa Nasi Puyung sangat potensial dikembangkan sebagai daya tarik wisata kuliner berbasis masyarakat apabila didukung oleh tata kelola bersama, peningkatan kapasitas pelaku usaha, dan sinergi dengan program pengembangan pariwisata desa. Ringkasan ini menegaskan pentingnya kuliner lokal sebagai instrumen penguatan identitas budaya dan penggerak ekonomi masyarakat secara inklusif dan berkelanjutan
PENINGKATAN KOMPETENSI BAHASA INGGRIS DALAM LAYANAN PARIWISATA BAGI PEDAGANG SEKITAR BERBASIS MASYARAKAT DI KEK MANDALIKA Sri Wahyuningsih; Muharis Ali; Lalu Masyhudi; Waslan Anwar; Ni Wayan Tisna Sulistiani; Mariano Belarminus D
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 8 (2025): Januari 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika merupakan salah satu destinasi super prioritas nasional yang mengalami peningkatan signifikan kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik. Kondisi ini membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal, khususnya pedagang informal di sekitar kawasan wisata. Namun, keterbatasan kompetensi bahasa Inggris dalam konteks layanan pariwisata menjadi kendala utama yang menghambat kualitas interaksi dan daya saing pedagang lokal. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi komunikasi bahasa Inggris kontekstual bagi pedagang sekitar KEK Mandalika melalui pendekatan berbasis masyarakat. Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif dan kontekstual, yang meliputi identifikasi kebutuhan mitra, penyusunan modul bahasa Inggris layanan pariwisata (hospitality communication), pelatihan intensif berbasis praktik (role-play dan simulasi lapangan), pemberian media pembelajaran sederhana, serta pendampingan dan evaluasi pascapelatihan. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, observasi langsung di lokasi berdagang, serta umpan balik dari peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan pedagang dalam menggunakan ungkapan bahasa Inggris dasar untuk menyapa wisatawan, menjelaskan produk, menyebutkan harga, dan menjawab pertanyaan sederhana. Selain peningkatan aspek keterampilan, terjadi perubahan sikap berupa meningkatnya kepercayaan diri dan keberanian pedagang dalam berinteraksi dengan wisatawan asing. Kegiatan ini juga berdampak positif terhadap kualitas pelayanan dan persepsi wisatawan terhadap keramahan masyarakat lokal. Secara keseluruhan, program ini membuktikan bahwa pelatihan bahasa Inggris kontekstual berbasis masyarakat efektif sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi lokal dan mendukung pengembangan pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan di KEK Mandalika