Diare ialah suatu kumpulan gejala yang ditandai dengan tekstur tinja mencair dan frekuensi BAB yang lebih dari biasanya (3x atau lebih). Kondisi diare kadang kala disertai dengan keluarnya darah dalam tinja dan disertai mual muntah. Di Indonesia, diare telah menyerang pada 93.619 (11%) anak di seluruh Indonesia. Pada tahun 2016, di Provinsi Banten terdata ada sebanyak 322.790 kasus diare yang terjadi pada balita, dimana sebanyak 50,8% diantaranya berhasil dilakukan penanganan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penanganan diare pada balita dengan pemberian bubur tempe dan madu di Puskesmas Sindangresmi tahun 2023. Desain penelitian yang akan dipakai dalam riset ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan Study Case Literature Review (SCLR). Kedua partisipan diberikan intervensi berbeda, yakni partisipan 1 diberikan terapi farmakologi oralit dan zinc serta terapi non farmakologi bubur tempe dan madu, sedangkan partisipan 2 hanya diberikan terapi farmakologi oralit dan zinc. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan frekuensi BAB pada balita setelah pemberian intervensi selama 7 hari yakni yang mulanya kedua partisipan mengalami diare dengan frekuensi 5-6 kali sehari dengan konsistensi cair, kini frekuensi BAB menjadi 1x sehari (partisipan intervensi bubur tempe dan madu) dan frekuensi BAB 4-5x sehari (partisipan non-intervensi bubur tempe dan madu). Kesimpulan penelitian yang telah dilakukan ialah bahwa bubur tempe dan madu terbukti efektif dalam menangani masalah diare pada balita di Puskesmas Sindangresmi tahun 2023.